Tentang Kopi

tips membuat wedang teh (tea) dan kopi (coffee)

kami berdua

walimatul 'ursy timur tengah

Cinta Suci

Ingin kukatakan arti cinta kepadamu, Dinda.

berawal dari taaruf

Sore senja jingga menupuk tangan Indah nampak elok menyebar cakrawala bumi yang luas

Arkan Dian Husnayan

Mujahid Kecil Kami

Showing posts with label Nisa'. Show all posts
Showing posts with label Nisa'. Show all posts

Friday, November 21, 2008

HIDUP ITU…(Part 1)


“Hidup itu adalah pilihan. Pilihan untuk memilih dan tidak memilih, serta kesiapan kita untuk istiqomah terhadap keputusan yang telah kita pilih.”
Begitulah kurang lebih kata-kata dari seorang ustadz yang saya dengar melalui seorang sahabat. Sahabat saya memutuskan untuk memberikan sebuah jawaban setelah hampir satu bulan menerima sebuah tawaran. Ragu, ia pun menimbang kembali dua opsi yang harus dipilih. Sampai akhirnya, ia pun berterus terang bahwa ia belum mantap memasuki gerbang pernikahan.

Saya pun tercenung…

Apa yang kurang darinya? Usia sudah cukup matang, sudah lulus kuliah (tidak seperti saya, semoga segera menyusul: amin), secara finansial ia pun sudah cukup mandiri. (Dalam hati) saya menyayangkan, keputusannya. Saya tahu, calon yang akan dikenalkan padanya adalah seorang laki-laki yang shalih. Dan saya juga tahu, ketika masih duduk di bangku kuliah, ia sudah punya keinginan untuk segera menggenapkan separuh diennya. Bahkan, keinginan waktu itu begitu menggebu.

“Ingin memantapkan karier dulu.”
Ia pun berdalih. Rupanya seiring dengan berjalannya waktu, keinginan yang pernah meluap-luap itu redam dengan sendirinya.

Retoris ia pun bertanya kepada saya via SMS, “Kau pernah mengatakan bahwa menikah itu ibadah dan tidak ada itsar dalam ibadah. Tapi, salahkah aku, jika masih menikmati kesendirianku?. Salahkah aku ketika ingin melihat kakak perempuanku menikah terlebih dulu, adikku kuliah, dan seorang sahabatku wisuda?”
Saya sengaja tidak membalas SMSnya. Bukankah pertanyaan itu lebih ditujukan untuk dirinya sendiri? Bukankah ia lebih tahu jawabannya daripada saya?

Beberapa hari kemudian, ketika saya bertemu dengannya, saya mengatakan pendapat saya. Saya katakan bahwa apapun keputusan yang telah dia ambil, semoga adalah yang terbaik. Bagaimanapun, mengambil keputusan dalam menggenapkan setengah dien tidak boleh diawali dengan sebuah keraguan. Saya menghormati, apapun keputusannya. Saya berdoa, semoga Allah memberikan yang terbaik kepadanya dan memberikan keberkahan dalam hari-harinya.

“Hidup itu adalah pilihan. Pilihan untuk memilih dan tidak memilih, serta kesiapan kita untuk istiqomah terhadap keputusan yang telah kita pilih.”
Saya pun merenung. Secara tidak langsung, saya seperti diingatkan untuk menjadi pribadi yang bertanggungjawab. Ya! Bertanggung jawab dengan segala pilihan yang telah saya ambil. Bertanggungjawab menghadapi segala konsekuensinya. Apapun itu…

Lalung Permai, 21 November 2008:14.49
: warna apa yang telah, sedang, dan akan kau pilih?

Thursday, June 19, 2008

Bila Wanita Tak Pintar Masak

“Sudah mau nikah kok nggak bisa masak,” ledek seorang kakak lelaki kepada adik perempuannya. Si adik yang memang merasa tidak pintar memasak pun tersenyum seraya menjawab, “Ah, ntar juga bisa!”

Memang, sepertinya sudah menjadi kesepakatan umum kalau wanita selayaknya harus bisa masak. Pendapat ini bisa dimaklumi karena salah satu tugas utama wanita setelah menikah adalah memasakkan atau menyajikan makanan untuk keluarganya.
Akan repot tentunya, jika sang ibu tidak pintar masak. Masak nasi saja sering gosong, masak sayur pun keasinan! Kalau terus-terusan begini, suami bisa hobi jajan di luar. Sedih kan, kalau sudah capek-capek masak, eh suami tidak selera makan?

Hal itu tidak boleh dibiarkan berlangsung lama. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan agar suami bisa segera menikmati masakan Anda:

TERUSLAH BERLATIH

Ada pepatah mengatakan, sesungguhnya bisa itu karena biasa. Begitu pula dengan memasak. Jika sejak kecil atau masih gadis seorang wanita rajin membantu ibunya di dapur, insyaallah ia akan lebih mengetahui urusan dapur alias masak-memasak.

Kalau sampai menikah ternyata masih belum pintar masak, maka banyak-banyaklah berlatih untuk memasak menu harian. Menanak nasi pun perlu berlatih, agar tidak gosong atau kurang air (mlethis-Jawa). Demikian juga masak sayur, agar bisa pas di lidah, maka Anda harus belajar mengenal dan meracik bumbu untuk berbagai macam sayur.

Jangan malu untuk banyak bertanya pada orang yang lebih tahu urusan masak. Misalnya ibu, kakak, tetangga, tukang sayur, atau siapa saja. Bertanyalah tentang berbagai resep sederhana pada mereka. Bisa pula Anda mempraktikkan resep masakan yang ada dalam buku atau majalah. Mulailah dari resep yang bahan dan cara membuatnya paling sederhana.

BUANG RASA MALAS

Adakalanya seorang wanita tidak pintar masak karena berawal dari rasa malas. “Mending jajan, beli ‘matengan’, tidak perlu repot-repot.” Memang beli ‘matengan’ adalah cara yang praktis. Tapi kalau begitu terus setiap hari, apakah tidak boros? Kalau masih berdua mungkin belum begitu terasa. Bagaimana kalau anak sudah empat atau lima? Apa iya, masih mau jajan terus?

Memang, untuk memasak kita perlu repot sedikit. Mempersiapkan segala sesuatunya, dari perapian, peralatan sampai bahan, dan nanti kalau sudah selesai harus membersihkan atau membereskan semuanya. Melelahkan, memang. Tapi begitulah tugas ibu rumah tangga. Namun, kelelahan itu akan segera berganti kebanggaan dan kebahagiaan, tatkala seorang ibu melihat suami dan anak-anaknya menyantap masakannya dengan lahap.

Untuk yang belum pintar masak, jangan malas untuk terus berlatih. Setelah terbiasa, nanti akan terbukti bahwa memasak itu bukanlah hal yang sulit.

NIATKAN UNTUK IBADAH

Bukankah Rasulullah bersabda bahwa jihad seorang wanita adalah di rumahnya? Mengurus rumah tangga, termasuk mengasuh anak dan memasak adalah ladang jihad bagi wanita. Semua tidak akan sia-sia bila dilakukan dengan ikhlas. Jika diniatkan untuk ibadah, insyaallah segala rasa lelah yang kita rasakan akan berbuah pahala.

MASAK BERSAMA

Kadang, seorang suami malah lebih pintar memasak daripada istrinya. Karena itu sekali-sekali perlu diadakan acara "masak bersama". Selain untuk menambah keharmonisan, kegiatan ini juga bisa dijadikan sarana untuk menularkan kepandaian memasak sang suami pada istrinya.

Jika suami tidak pintar masak pun, kegiatan masak bersama tetap asyik dilakukan, karena di situ keduanya akan sama-sama belajar. Walaupun memasak adalah tugas seorang istri, tapi tak ada salahnya bila suami juga belajar masak. Jadi, jika kelak istri sedang berhalangan, misalnya sakit atau melahirkan, sang suami bisa menggantikan posisi sebagai koki rumah tangga untuk sementara.

JANGAN ASAL ENAK

Satu lagi yang perlu diperhatikan oleh para ibu dalam hal masak-memasak. Seringkali untuk "mengakali" rasa yang kurang mantap, ibu kemudian membubuhkan penyedap rasa yang banyak dalam masakan. Padahal, sebagaimana kita ketahui, penyedap rasa kimia (MSG) adalah salah satu zat karsinogenik atau pemicu kanker. Karena itu, kalau bisa sebaiknya dihindari atau diminimalkan penggunaannya.

Demikian juga makanan-makanan instan yang banyak mengandung penyedap rasa, misalnya mi instan, sebaiknya tidak terlalu sering dijadikan menu harian. Produk-produk instan, selain mengandung MSG, kadang juga mengandung zat pengawet dan pewarna, yang juga bersifat karsinogenik.

Tanpa MSG pun, masakan bisa tetap enak, asal bumbunya proporsional. Masak sup atau soto misalnya, tanpa MSG bisa tetap enak dengan menggunakan kaldu asli yang sudah dimasak/dipanaskan cukup lama. Untuk "memantapkan" rasa, bisa dibubuhkan sedikit gula pasir sebelum masakan dihidangkan.

Demikian beberapa hal yang berkaitan dengan masak-memasak. Masih belum pintar masak? Tak ada kata terlambat untuk terus berlatih.

Sumber: http://majalah-nikah.com


Thursday, May 22, 2008

13 Sifat Perempuan yang Tidak Disukai Laki-laki

(Kado untuk Saudaraku >> Bang Cuprit and Kang Narse/o)


dakwatuna.com -
Sehingga tidak ada pertanyaan lagi oleh para istri mulai saat ini, tentang sebab mengapa para suami mereka lari dari rumah. Karena salah satu Pusat Kajian di Eropa telah mengadakan survai seputar 20 sifat perempuan yang paling tidak disukai laki-laki. Survai ini diikuti oleh dua ribu (2000) peserta laki-laki dari beragam umur, beragam wawasan dan beragam tingkat pendidikan.

Survai itu menguatkan bahwa ada 13 sifat atau tipe perempuan yang tidak disukai laki-laki:

Pertama, perempuan yang kelaki-lakian, “mustarjalah”

Perempuan tipe ini menempati urutan pertama dari sifat yang paling tidak disukai laki-laki. Padahal banyak perempuan terpandang berkeyakinan bahwa laki-laki mencintai perempuan “yang memiliki sifat perkasa”. Namun survai itu justru sebaliknya, bahwa para peserta survai dari kalangan laki-laki menguatkan bahwa perempuan seperti ini telah hilang sifat kewanitannya secara fitrah. Mereka menilai bahwa perangai itu tidak asli milik perempuan. Seperti sifat penunjukan diri lebih kuat secara fisik, sebagaimana mereka menyaingi laki-laki dalam berbagai bidang kerja, terutama bidang yang semestinya hanya untuk laki-laki… Mereka bersuara lantang menuntut haknya dalam dunia kepemimpinan dan jabatan tinggi! Sebagian besar pemuda yang ikut serta dalam survai ini mengaku tidak suka berhubungan dengan tipe perempuan seperti ini.

Kedua, perempuan yang tidak bisa menahan lisannya “Tsartsarah”

Tipe perempuan ini menempati urutan kedua dari sifat yang tidak disukai laki-laki, karena perempuan yang banyak omong dan tidak memberi kesempatan orang lain untuk berbicara, menyampaikan pendapatnya, umumnya lebih banyak memaksa dan egois. Karena itu kehidupan rumah tangga terancam tidak bisa bertahan lebih lama, bahkan berubah menjadi “neraka”.

Ketiga, perempuan materialistis “Maaddiyah”

Adalah tipe perempuan yang orientasi hidupnya hanya kebendaan dan materi. Segala sesuatu dinilai dengan harga dan uang. Tidak suka ada pengganti selain materi, meskipun ia lebih kaya dari suaminya.

Keempat, perempuan pemalas “muhmalah”

Tipe perempuan ini menempati urutan keempat dari sifat perempuan yang tidak disukai laki-laki.

Kelima, perempuan bodoh “ghobiyyah”

Yaitu tipe perempuan yang tidak memiliki pendapat,tidak punya ide dan hanya bersikap pasif.

Keenam, perempuan pembohong “kadzibah”

Tipe perempuan yang tidak bisa dipercaya, setiap yang keluar dari lisannya kebohongan semata, tiada yang benar, baik menyangkut masalah serius, besar atau masalah sepele dan remah. Tipe perempuan ini sangat ditakuti laki-laki, karena tidak ada yang bisa dipercaya lagi dari segala sisinya, dan umumnya berkhianat terhadap suaminya.

Ketujuh, perempuan yang mengaku serba hebat “mutabahiyah”

Tipe perempuan ini selalu menyangka dirinya paling pintar, ia lebih hebat dibandingkan dengan lainnya, dibandingkan suaminya, anaknya, di tempat kerjanya, dan kedudukan materi lainnya…

Kedelapan, perempuan sok jagoan, tidak mau kalah dengan suaminya

Tipe perempuan yang selalu menunjukkan kekuatan fisiknya setiap saat.

Kesembilan, perempuan yang sok iri dengan perempuan lainnya.

Adalah tipe perempuan yang selalu menjelekkan perempuan lain.

Kesepuluh, perempuan murahan “mubtadzilah”

Tipe perempuan pasaran yang mengumbar omongannya, perilakunya, menggadaikan kehormatan dan kepribadiannya di tengah-tengah masyarakat.

Kesebelas, perempuan yang perasa “syadidah hasasiyyah”

Tipe perempuan ini banyak menangis yang mengakibatkan laki-laki Sangay terpukul dan terpengaruh semenjak awal. Laki-laki menjadi tersibukkan dengan sikap cengengnya.

Keduabelas, perempuan pencemburu yang berlebihan “ghayyur gira zaidah”

Sehingga menyebabkan kehidupan suaminya terperangkap dalam perselisihan, persengketaan tak berkesudahan.

Ketigabelas, perempuan fanatis “mumillah”

Model perempuan yang tidak mau menerima perubahan, nasehat dan masukan meskipun itu benar dan ia membutuhkannya. Ia tidak mau menerima perubahan dari suaminya atau dari anak-anaknya, baik dalam urusan pribadinya atau urusan rumah tangganya secara umum. Model seperti ini memiliki kemampuan untuk nerimo dengan satu kata, satu cara setiap harinya selama tiga puluh tahun, tanpa ada rasa jenuh!


Ketika Laki-Laki Memilih

Dari hasil survai di Eropa itu, dikomparasikan dengan pendapat banyak kalangan dari para pemuda, para suami seputar hasil survai itu, dan hasilnya sebagai berikut:




Sebut saja namanya Muhammad Yunus (36) tahun, menikah semenjak sebelas tahun, ia berkomentar,

“Saya sepakat dengan hasil survai itu. Sifat-sifat di atas menjadikan para suami lari dari istri-istri mereka, terutama sifat “banyak omong dan malas”. Tidak ada sifat yang lebih jelek dari perilaku mengumbar omongan, tidak bisa menahan lisan siang-malam dalam setiap perbincangan, baik berbincangan serius atau canda, menjadikan suaminya dalam kondisi sempit, terhimpit dan marah, apalagi suaminya telah menjalankan pekerjaan berat, di mana membutuhkan ketenangan, kejernihan pikiran di rumah.

Saya baru mengetahui dari rekan saya yang memiliki istri model ini, tidak bisa menahan lisannya dalam pembicaraan dalam segala hal, setiap waktu dan dengan semua orang. Suaminya telah menasehatinya berulang kali, agar bisa menahan omongan, namun ia tidak menggubris nasehatnya sehingga berakhir dengan perceraian.

Pada umumnya model istri yang banyak omong, itu lebih pemalas di rumahnya. Bagaimana ia menggunakan waktu yang cukup untuk mengurus rumah tangga, anak-anaknya, sedangkan ia tersibukkan dengan ocehan dan omongan dengan para tetangga dan teman?!.

Jamil Abdul Hadi, sebut saja namanya begitu, seorang insinyur berumur 34 tahun, menikah semenjak 9 tahun, ia berkomentar,

“Tidak ada yang lebih buruk dari model perempuan yang materialistis, selalu menuntut setiap saat, meskipun juga suaminya menuruti permintaannya, ia terus meminta dan menuntut!!

Tipe perempuan ini, sayangnya tidak mudah menerima perubahan menuju lebih baik, tidak gampang menyesuaikan diri dalam kehidupan apa adanya. Boleh jadi kondisi demikian berangkat dari didikan semenjak kecilnya, ia tumbuh dalam kondisi dendam terhadap suaminya nanti, dan membebani suaminya di luar kemampuannya. Al hamdulillah saya tidak diuji Allah dengan model perempuan seperti ini, namun justru saya diuji dengan istri perasa dan cengeng.

Dengan tertawa Mahmud as Sayyid menerima hasil survai ini, ia berkomentar:

“Demi Allah, sungguh menarik ada lembaga atau pusat study yang menggelar survai dengan pembahasan seputar ini. Survai ini meskipun memiki cara pandang dan penilaian yang berbeda-beda, namun terungkap bahwa cara pandang itu satu sama yang lain tidak saling bertentangan…”

Lain lagi dengan Mahmud, sebut saja begitu. Belum menikah, seorang mahasiswa di universitas. Ia berujar tentang mimpinya, yaitu istri yang akan mendampinginya, ia mengharap:

“Pasti saya menginginkan tidak mendapatkan istri yang memiliki tipe sebagaimana hasil survai di atas. Akan tetapi mengingat tidak ada istri yang “sempurna”, karena itu saya masih mungkin menerima tipe perempuan di atas kecuali tipe perempuan pembohong. Istri pembohong akan lebih mudah mengkhianati, tidak menghormati hubungan suami-istri, tidak memelihara amanah, tidak bisa dipercaya. Setiap orang pada umumnya tidak menyenangi sifat bohong, baik laki-laki maupun perempuan itu sendiri. Karena akan berdampak negative pada anak-anaknya, di mana anak-anak akan meniru dirinya!!.

Ketika ia ditanya tentang tipe perempuan “kelaki-lakian”. Perempuan yang menyerupai laki-laki dalam segala hal dan menyanginya dalam segala hal. Ia berkomentar:

“Tidak masalah berhubungan dengan istri tipe seperti ini, selagi sifat “kelaki-lakian” tidak mengalahkan dan mengibiri sifat aslinya. Selagi ia masih mengemban kerja dan tugas yang sesuai dengan tabiat perempuan, seperti nikah, mengandung, menyusui dan lainnya.”

“Perempuan “kuat” menurut saya akan mengetahui bagaimana ia mengurus kebutuhan dirinya, mengarahkan dan mengatur keluarga dan anak-anaknya. Akan tetapi segala sesuatu ada batasnya yang tidak boleh diterjangnya. Sebagaimana seorang perempuan tidak suka terhadap laki-laki yang “banci”, seperti berbicara dan berperilaku layaknya perempuan. Sebagaimana juga laki-laki tidak suka terhadap perempuan yang mengedepankan sifat kelaki-lakian… segala sesuatu ada batas ma’kulnya. Jika melampaui batas sewajarnya, yang terjadi kerusakan.

Sebagaimana juga tidak ada seorang istri yang “sempurna”, ada cara penilaian dan cara pandang berbeda antara laki-laki satu dengan laki-laki lain. Namun ada kaidah umum untuk memilih, di mana tidak ada perbedaan satu dengan yang lainnya, seperti pembohong, penipu, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya.”

Semoga tulisan ini menambah informasi dan pengalaman buat para istri, calon istri. Dan tentunya bermanfaat bagi laki-laki, sehingga mereka mampu bermuasyarah atau bermuamalat dengan mereka dengan cara makruf, sebagaimana yang digariskan dalam Al qur’an. Allah swt berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” Al Nisa’:19

Dan karena perempuan “syaqaiqur rijal” saudara kembar laki-laki, yang seharusnya saling mengisi dan menyempurnakan, untuk membangun “baiti jannati” sehingga keduanya harus bersinergi untuk mewujudkannya dalam pengembaraan di dunia ini. Allahu a’lam

http://www.dakwatuna.com/2008/13-sifat-perempuan-yang-tidak-disukai-laki-laki/