Tentang Kopi

tips membuat wedang teh (tea) dan kopi (coffee)

kami berdua

walimatul 'ursy timur tengah

Cinta Suci

Ingin kukatakan arti cinta kepadamu, Dinda.

berawal dari taaruf

Sore senja jingga menupuk tangan Indah nampak elok menyebar cakrawala bumi yang luas

Arkan Dian Husnayan

Mujahid Kecil Kami

Showing posts with label diary. Show all posts
Showing posts with label diary. Show all posts

Tuesday, February 24, 2009

Siang ini di Songgolangit


~fathimatulazizah~

Masa sekolah dulu, jam istirahat adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Meski sebentar, jeda waktu itu begitu menyenangkan. Pun masa di kampus dan di tempat kerja. Saya selalu merasa lega ketika ia hadir. Jeda yang tak lama adalah kesempatan untuk memompa energi dan mengembalikan semangat yang pupus oleh deraan jenuh.

Seperti kebiasaan yang telah berlaku satu tahun terakhir, siang ini, usai shalat dhuhur, saya menyempatkan diri untuk makan. Kali ini saya sendirian, hanya ditemani mujahid kecil yang masih dalam kandungan.

Saya menyengaja tidak naik motor meski langit terlihat begitu tak bersahabat. Saya ingin berjalan agak jauh karena sudah lama tidak pernah jalan-jalan pagi. Hitung-hitung riyadhoh-lah setelah setengah hari duduk di depan monitor. Saya ingin me-refresh isi kepala dengan hal-hal sederhana yang saya temui di sepanjang jalan raya Songgolangit.
Tujuan saya siang ini adalah warung sederhana yang menjual soto kwali yang murah meriah, menyesuaikan budget di tanggal tua. Lumayan jauh memang. Namun, tak apa. (Dulu) saya biasa menempuh jarak yang lebih jauh. Saya terbiasa jalan kaki dari depan kampus ke pesantren mahasiswa yang ada di belakang kampus.

Jarak warung yang hendak saya tuju tinggal beberapa meter. Tinggal menyebrang sudah sampai. Namun, entah mengapa akhirnya saya berhenti ketika tanpa sengaja melihat seorang ummahat yang sedang sibuk melayani pembeli tahu kupatnya. Saya pun memutuskan untuk makan siang di warungnya. Ini adalah kali kedua saya mengurungkan niat makan soto kwali, dan beralih ke tahu kupat. Entahlah, saya pun tak mengerti. Wajah dan penampilan sederhana ummahat itu telah membuat saya jatuh hati. Setidaknya, saya merasa lebih aman dengan makanan yang masuk ke perut. Insya Allah halal dan thoyyib.

Sambil menunggu tahu kupat dihidangkan, saya memperhatikan lagi ummahat itu. Gamis biru dongkernya dipadu dengan kerudung biru laut. Keduanya sudah mulai luntur. Saya memperkirakan usia pakaian yang dikenakannya itu sudah lebih dari sepuluh tahun. Saya membandingkan kerudung warisan bulik yang saya pakai sejak kelas satu SMU. Tidak sepudar itu warnanya. Padahal, saya memakainya lebih dari delapan tahun dan sebelumnya sudah dipakai bulik lebih dari satu tahun di masa kuliah. Ah, belum tentu dugaan saya tepat. Bisa jadi warna pakaiannya yang luntur itu karena sering dipakai dan dicuci. Ups..jadi ngelantur, nih.

Warung sudah sepi ketika tahu kupat yang saya pesan dihidangkan. Saya menikmatinya sambil sesekali melihat gerimis yang mulai berjatuhan. Dari seberang jalan, seorang laki-laki memesan minuman. Dengan segera ummahat itu membuat dan mengantarkannya ke seberang jalan. Kemudian, ia segera kembali untuk membuat pesanan laki-laki di seberang jalan selanjutnya.
“Lihatlah, bagaimana ia begitu menikmati pekerjaannya!” Saya jadi iri dibuatnya. Sungguh, saya menaruh hormat padanya. Saya takjub pada kegigihannya membantu suami dalam mencari nafkah. Gurat kelelahan memang terlihat pada wajahnya. Namun, ia tetap dengan cekatan melayani setiap pembeli di warungnya dengan sebentuk senyum sahaja. Ia adalah salah satu dari wanita tegar yang saya temui hari ini.

Saya jadi berfikir tentang masa depan. Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu suami dalam menopang perekonomian keluarga kelak, saat satu demi satu mujahid kami –anak- lahir dan berkembang? Apa yang bisa saya lakukan dua bulan lagi ketika mujahid kecil pertama kami lahir, sedang saya belum lulus kuliah? Apa yang bisa saya lakukan di rumah ketika dihadapkan pada kewajiban ibu yang harus menyusui dan mendidiknya, sedang di saat yang sama saya ingin membantu suami dan menyelesaikan studi?

Sungguh, saya yakin sepenuhnya bahwa Allah yang menjamin rezeki anak-anak kelak. Tinggal bagaimana kami menjemputnya dengan baik agar apa yang masuk ke perut mereka adalah makan yang halal dan thoyyib, agar apa yang mengalir dalam darah mereka membawa keberkahan.
“Mbak, mboten keseso, tho? (Mbak, tidak terburu-buru, kan?)” Ummahat itu meninggalkan saya sendirian di warungnya.

Saya kembali terhenyak ketika ummahat itu berlari-lari kecil ke toko alumunium yang tepat berhadapan dengan warungnya. Wanita setengah baya itu memasukkan barang-barang yang dijajakan di luar karena gerimis menjelma menjadi hujan. Rupanya siempunya toko tidak ada. Subhanallah, dengan senang hati ia membantu tetangganya.
“Lihatlah bagaimana ummahat itu dengan senang hati melakukannya!” Sungguh, lagi-lagi saya harus belajar darinya. Ya! Belajar menjadi sebaik-baik manusia, bermanfaat bagi yang lain.

Lalung Permai, 23 Februari 2009, 23:02
Ya Allah, bimbing saya menjadi wanita yang baik di setiap sisi kehidupan: sebagai anak, istri, dan ibu yang shalihah, serta pribadi yang memberi kontribusi bagi agama dan masyarakat!

Saturday, January 10, 2009

Mujahid Kecil Kami

“ Eh, ’Ammah yang satunya...” seru Nafis, salah satu putra Ustadz -pimpinan saya di kantor- dengan senyum penuh. Pandangan matanya mengarah ke saya.
“Ayo, ‘ammah siapa?” kejar Mbak Rina, patner saya, dari mejanya.
“’Ammah Rina..,” masih dengan senyumnya, bocah laki-laki itu mencoba menebak.
“’Ammah Betty…” Mbak Rina mengingatkan nama saya padanya.
“’Ammah Betty…” akhirnya ia menyapa saya dengan malu-malu, kemudian menjabat dan mencium tangan saya.
“Sudah nggak sakit lagi?” Tanyanya setengah berbisik.
Saya hanya tersenyum. Rupanya dua bulan terakhir ini ketidakadaan saya di kantor diketahuinya karena sakit. Ya, mungkin itu memang penjelasan yang mudah diterimanya. Dua bulan yang lalu saya izin untuk tidak masuk kantor karena kondisi fisik yang memang harus dijaga. Secara umum, kondisi kehamilan saya baik. Hanya saja untuk melintasi tiga kota (pulang pergi) dalam sehari –Karanganyar-Solo-Sukoharjo- rasa-rasanya saya mulai kewalahan. Setelah mempertimbangkan saran orang-orang terdekat, terkhusus suami dan mbak, akhirnya saya minta izin untuk tidak ngantor selama dua bulan.

Kasihan, Dedek kalo’ tiap hari diajak motor-motoran terus. Jadi tunggu sampai usia kehamilan sampai pada trimester kedua. Dan, mumpung dedek belum lahir, konsentrasi ngerjain skripsi selagi cuti. (Itu pertimbangan yang lain meskipun pada kenyataannya masa cuti dua bulan di rumah ada progress yang berarti terhadap tugas akhir saya di kampus. Astaghfirullah…)
Tak terasa usia kehamilan sudah melewati trimester pertama. Rasa mual, muntah, dan pusing sudah berangsur-angsur berkurang meski saya masih merasa gampang lelah dan tidak selincah masa lajang. Alhamdulillah, kondisi saya dan mujahid kecil kami sehat. Dokter mengatakan bahwa janin saya di kandungan baik-baik saja.

“O, ini sudah mulai kelihatan jenis kelaminnya. Ingin tahu atau biar jadi surprise saja?”
Pada bulan kelima, dokter memberitahukan prediksi jenis kelamin permata hati pertama kami. Rasanya campur aduk. Apalagi ketika menyadari gerakannya di dalam kandungan yang semakin terasa. Saya jadi semakin terkesima “Mujahid kecilku benar-benar ada.”
Subhanallah. Ia pun merespon dengan tendangan ketika diajak bicara abinya.
“Assalamu’alaykum… Dede’, ini Abi..”
Maka, sepanjang hari saya pun sering mengajaknya bercakap-cakap. Di sepanjang jalan ke kantor pun demikian. Saat harus menerobos hujan saya katakan, “Maafkan Ummi, Nak. Kita terpaksa hujan-hujanan. Kau baik-baik saja, bukan?”

Kini saya pun tak boleh egois. Tidak boleh asal merasa nyaman dengan setiap aktivitas. Sebab, ada (calon) mujahid kecil yang harus dijaga. Sungguh sebuah amanah yang luar biasa. Doakan, ya semua berjalan lancar hingga ia lahir kedunia!

7 Januari 2008:23:35
Bersabarlah sayang, Ummi dan Abi akan menjagamu.

Sunday, November 23, 2008

HIDUP ITU … (Part 2)


“Hidup itu sawang-sinawang. Kita sering melihat kelebihan orang lain. Rumput tetangga pasti terlihat lebih ijo royo-royo. Karenanya, lebih baik kita melihat diri kita sendiri.”

Kali ini saya menyadur bahasa yang digunakan oleh seorang dosen muda yang kini kuliah di Austalia. Saya takjub, dengan kesederhanaannya dalam keseharian. Terlebih ketika mencoba memahami bagaimana beliau memandang kehidupan. Meski tidak dekat, saya banyak mendengar kisah beliau dari teman-teman kuliah. Sikapnya yang tidak neko-neko, apa adanya, ringan tangan, dan terbuka pada setiap orang menjadikan figur beliau begitu dihormati. Beliau punya kharisma yang memikat. Kharisma itu melekat dan semakin mempesona karena kesederhanaannya.

Malam ini, saya teringat kembali kata-kata yang pernah diucapkannya,
“Hidup itu sawang-sinawang. Kita sering melihat kelebihan orang lain. Rumput tetangga pasti terlihat lebih ijo royo-royo. Karenanya, lebih baik kita melihat diri kita sendiri.”

Kalau mau jujur terhadap diri sendiri, kita akan mengakui bahwa terkadang kita sering melihat kelebihan orang lain dan membandingkan dengan diri kita. Hal itu tentu sah-sah saja kita lakukan. Tidak ada yang salah. Ya! Tidak ada yang salah, asalkan kita melakukannya untuk memotivasi diri kita agar menjadi lebih baik. Bukan justru menjadikan kita minder dengan kelemahan kita.

Sungguh, sebagian besar dari kita seringkali tidak adil terhadap diri sendiri. Seringkali kita terkungkung dengan kelemahan yang kita miliki. Bahkan, ada yang terpuruk karena sebuah kegagalan yang dialami. Padahal, bukankah tidak ada yang salah dengan kegagalan selama kita bisa mengambil hikmah dan belajar agar tidak terulang kembali? Berapa banyak kesuksesan yang berawal dari kegagalan demi kegagalan?

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (Ar-Ra’ad : 11)

Sungguh (sangat) tidak arif ketika kita hanya melihat kesuksesan orang lain tanpa mau melihat prosesnya. Bukankah secara sunatullah, tidak akan ada hasil yang optimal tanpa diiringi usaha yang sungguh-sungguh? Tidak ada yang sia-sia dari kesungguhan yang kita bangun, meskipun hasil yang akan kita dapat tidak selalu seperti yang kita harapkan. Jika ikhtiar kita beriringan dengan tawakkal, maka kita tidak akan kecewa terhadap apapun hasil yang kita peroleh. Yang terpenting adalah berusaha, dan Allah-lah yang berhak memutuskan.

Ada kata-kata menarik yang dihadiahkan seorang adik via SMS,
“Ketika satu pintu tertutup, pintu kebahagiaan yang lain akan terbuka. Tetapi, seringnya kita hanya terpaku pada pintu tertutup, sehingga kita tidak melihat pintu lain yang dibukakan untuk kita.”

Jika kita (juga) sepakat bahwa hidup itu sawang-sinawang, ada baiknya terlebih dulu kita berkaca pada diri. Lihatlah, kita pun punya kelebihan di samping kelemahan. Oleh karena itu, jangan silau dengan kelebihan orang lain jika itu hanya membuat kita nelangsa. Namun, jadikanlah setiap kelebihan orang lain yang kita lihat dengan kacamata positif. Setidaknya, kita akan terpacu untuk berusaha memilikinya. Dan, bila ternyata tidak bisa, kita masih punya kelebihan yang tidak kalah memukau. Kelebihan yang menjadikan kita mulia sebagai hamba. Bukan kelebihan yang menerbitkan kesombongan, meskipun hanya dalam riak-riak hati kita.

Akhirnya, selamat menikmati hijaunya rumput tetangga…!

Lalung Permai, 22 November 2008 : 21:42
Dalam rangka memotivasi diri, harapan ’itu’ masih ada
: berfastabiqul khairat, yuk Bi!..ya Abiyasa.. Jangan lupa saling mengingatkan :)


Friday, November 21, 2008

HIDUP ITU…(Part 1)


“Hidup itu adalah pilihan. Pilihan untuk memilih dan tidak memilih, serta kesiapan kita untuk istiqomah terhadap keputusan yang telah kita pilih.”
Begitulah kurang lebih kata-kata dari seorang ustadz yang saya dengar melalui seorang sahabat. Sahabat saya memutuskan untuk memberikan sebuah jawaban setelah hampir satu bulan menerima sebuah tawaran. Ragu, ia pun menimbang kembali dua opsi yang harus dipilih. Sampai akhirnya, ia pun berterus terang bahwa ia belum mantap memasuki gerbang pernikahan.

Saya pun tercenung…

Apa yang kurang darinya? Usia sudah cukup matang, sudah lulus kuliah (tidak seperti saya, semoga segera menyusul: amin), secara finansial ia pun sudah cukup mandiri. (Dalam hati) saya menyayangkan, keputusannya. Saya tahu, calon yang akan dikenalkan padanya adalah seorang laki-laki yang shalih. Dan saya juga tahu, ketika masih duduk di bangku kuliah, ia sudah punya keinginan untuk segera menggenapkan separuh diennya. Bahkan, keinginan waktu itu begitu menggebu.

“Ingin memantapkan karier dulu.”
Ia pun berdalih. Rupanya seiring dengan berjalannya waktu, keinginan yang pernah meluap-luap itu redam dengan sendirinya.

Retoris ia pun bertanya kepada saya via SMS, “Kau pernah mengatakan bahwa menikah itu ibadah dan tidak ada itsar dalam ibadah. Tapi, salahkah aku, jika masih menikmati kesendirianku?. Salahkah aku ketika ingin melihat kakak perempuanku menikah terlebih dulu, adikku kuliah, dan seorang sahabatku wisuda?”
Saya sengaja tidak membalas SMSnya. Bukankah pertanyaan itu lebih ditujukan untuk dirinya sendiri? Bukankah ia lebih tahu jawabannya daripada saya?

Beberapa hari kemudian, ketika saya bertemu dengannya, saya mengatakan pendapat saya. Saya katakan bahwa apapun keputusan yang telah dia ambil, semoga adalah yang terbaik. Bagaimanapun, mengambil keputusan dalam menggenapkan setengah dien tidak boleh diawali dengan sebuah keraguan. Saya menghormati, apapun keputusannya. Saya berdoa, semoga Allah memberikan yang terbaik kepadanya dan memberikan keberkahan dalam hari-harinya.

“Hidup itu adalah pilihan. Pilihan untuk memilih dan tidak memilih, serta kesiapan kita untuk istiqomah terhadap keputusan yang telah kita pilih.”
Saya pun merenung. Secara tidak langsung, saya seperti diingatkan untuk menjadi pribadi yang bertanggungjawab. Ya! Bertanggung jawab dengan segala pilihan yang telah saya ambil. Bertanggungjawab menghadapi segala konsekuensinya. Apapun itu…

Lalung Permai, 21 November 2008:14.49
: warna apa yang telah, sedang, dan akan kau pilih?

Wednesday, November 19, 2008

SUNGGUH, INI ADALAH KASIH SAYANG ALLAH…


Kuterbujur di pembaringan
Tiada daya dalam dekapan
Merenungi dan menghayati karunia dari Ilahi
tentang arti kesehatan hakiki
*



Malam ini tak seperti biasa.
Saya terjaga dalam resah. Mencoba menenggelamkan diri pada tazkiyatun nafs, dan saya kembali menemukan begitu tiada berhingga kasih sayang Allah pada kami. Pun, kini, ketika Allah memberi karunia berupa sakit pada suami tercinta. Saya yakin bahwa ini adalah bentuk kasih sayang Allah.

“Dua kenikmatan yang manusia sering lalai terhadapnya adalah nikmat sehat dan waktu luang.”
Hadist yang telah begitu sering dibisikkan di telinga, mau tak mau menjadi pemantik untuk mengulang rasa syukur kepada-Nya. Ketika suami sakit, saya merasa Allah menampar kami dengan begitu lembut. Begitu lembut, hingga sakit itu menjelma menjadi kesempatan untuk menggugurkan sebagian dosa.

Ya! Bagaimanapun, akan tersingkap betapa banyak kealpaan kami selama ini. Apa saja yang telah kami lakukan dengan nikmat sehat yang telah diberikan sebelum ini? Kemaksiatan apa yang telah kami lakukan? Kesombongan apa yang telah hinggap dan menjadikan kami lalai? Akan terbukti pula seberapa sabar kami menghadapinya. Dan, betapa indahnya ketika kami bisa melewatinya dengan sabar.

Jika malam tlah tiba
cobalah keluar…
Hitung dan rasakan
bintang yang banyak itu bersinar di langit
Sebanyak itulah aku bersyukur telah mengenalmu saat ini..
I love u…
**


Lalung permai, 19 November 2008 : 23.02
Syafakallah, mujahid-Q
: semoga Allah menjadikan syukur dan sabar sebagai akhlaq kita.


*Petikan nasyid Suara Persaudaraan
** SMS seorang sahabat

Wednesday, August 13, 2008

Episode Cinta II (AJARI ANAK-ANAK KITA CINTA)

AJARI ANAK-ANAK KITA CINTA


“Setiap pagi saya menyuruh anak saya untuk menyiram tanaman. Kalau terhadap tanaman saja ia mau memberi, saya berharap terhadap orang lain apalagi …”


Sebuah prolog yang membekas, yang disampaikan seorang Ustadz saat beliau memberikan kajian di sebuah kampus kecil itu masih saya ingat. Salah satu bukti cinta adalah pengorbanan, kita rela memberikan sesuatu yang kita miliki. Dan Ustadz telah mengajari cinta kepada anak-anaknya sejak mereka masih kecil. Ya! Cinta terhadap sesuatu di sekitarnya.

Cinta yang berkonotasi positif selalu beririsan dengan kebaikan. Ia yang disebut-sebut sebagai energi untuk melakukan kebaikan demi kebaikan. Cinta terhadap anak-anak menjadikan kita mengajarkan cinta kepada kebaikan sejak mereka masih kecil, bahkan sejak masih dalam kandungan. Dan percaya atau tidak, kebaikan yang kita ajarkan akan berbuah kebaikan pula. Bahkan kebaikan itu akan berlipat ganda. Itulah keajaiban cinta.

Saya jadi teringat akan dialog dengan sepupu kecil saya.
“Mbak, Rohma sudah selesai mengaji?” laporan sepupu saya yang masih kelas satu SD lewat telepon.
“O, ya? Sudah sampai juz berapa?”

“Juz 20, Mbak. 10 Juz lagi khatam. Rohmah udah khatam 2 kali, Mbak. Berarti sebentar lagi 3 kali, ya?”
“Siapa yang menyimak? Abi? Atau Ummi?” tanya saya.
“Nggak ada, Mbak. Mengaji sendiri.”

Subhanallah! Saya berdecak kagum dibuatnya. Saya tahu bacaan Al-Qur’annya sudah lancar, panjang pendek dan tajwidnya sudah betul. Bahkan dari kecil ia (juga) sudah dilatih mengucapkan huruf-huruf hijaiyah sesuai dengan makhrajnya. Maka tak heran, bila ia pun lebih gemar mengaji dan mendengarkan murratal daripada mendengarkan yang lain. Meskipun (tentu saja) ia juga masih bermain sebagaimana anak-anak seusianya. Itulah salah satu pelajaran cinta yang saya dapatkan. Bagaimana mengajari anak-anak cinta terhadap Al-Qur’an. Tentu saja orang tua harus bisa memberikan keteladanan yang baik. Begitu juga mengajari mereka ibadah keseharian, orang tua pun harus cinta menjadi ahli ibadah. Dan semuanya butuh ilmu. Butuh belajar dan latihan. Semua butuh pembuktiaan, sebelum kita mengajak anak-anak melakukannya.

Di kesempatan yang lain saya mendapat kabar dari Bulik, bahwa Rohma sekarang juga belajar menulis. Rupanya ia suka dengan salah satu buku yang saya beli dari Gramedia. Buku yang ditulis oleh Bella, pengarang cilik yang juga putri seorang penulis ternama.
“Semoga kelak jadi mujahidah bersenjata pena.” SMS saya pada Bulik, Ibu dari sepupu saya itu.
“Amiin. Ya MBet, ini dah dapat 3 buku kecil-kecil. Mau dibeli Abi katanya. Lumayan bisa buat beli kue atau dimasukkan celengan. He…”
Alhamdulillah!

Tak sia-sia saya membelikannya buku. Buku yang menginspirasinya untuk berimajinasi dan menulis. Namun itu hanya salah satu pemantik saja. Sebelumnya, orang tuanya telah mengajarinya tentang cinta. Kali ini tentang cinta membaca. Tanpa aktivitas itu mana mungkin seorang anak kecil (bahkan kita) berkeinginan untuk menulis.

“Katanya, tulisan Rohmah mau dibuat buku untuk dijual seribuan kepada teman-teman sekelasnya.”
Wuiih! Sudah sejauh itukah keinginan anak kelas satu SD itu? Saya hanya tersenyum mendengarnya. Bayangkan, jika orang tua kemudian tidak memberikan dukungan terhadap keinginannya! Yang terjadi (barangkali) adalah ide-ide kreatif sang anak kemudian akan terhenti. Dan kalau rencana sepupu saya itu benar-benar direalisasikan, maka ia pun telah mengajak temannya untuk belajar cinta. Cinta membaca dan bisa jadi juga cinta menulis.

Itu adalah sedikit dari pelajaran cinta yang saya dapatkan dari anak kecil. Begitu banyak nilai-nilai kebaikan dalam agama kita yang mestinya memang harus diinternalisasikan pada anak-anak kita sejak kecil. Namun sudah cukupkah kita punya cinta yang memadai terhadap segala kebaikan? Cinta yang kita ajarkan adalah cinta yang sudah harus kita miliki. Bukankah kita tak mungkin memberi apa yang tidak kita miliki?...

***

Wednesday, August 06, 2008

Episode Cinta I (Untuk Kebahagiaan yang Sederhana)

Untuk Kebahagiaan yang Sederhana

by: Fathimatul Azizah

Suatu hari ada gadis yang berkata, “Siapa bilang aku sedih? Aku kan selalu bahagia.”
Atau di saat yang lain ia bilang, ”Gak pa-pa. Yang penting, kan bahagia.”
Ya semoga.


Saya tak pernah menduga ada sahabat yang me-replay kata-kata itu. Bahkan, ia menuliskannya pada salah satu lembar buku saya. Sebentuk senyum pun mengembang. Saya berterimakasih dan tersanjung dengan perhatiannya. Ya! Ia hapal dengan kata-kata saya. Kata-kata yang seringkali saya ucapkan untuk menetralisir hati bila tiba-tiba kesedihan menghunjam dalam.

Betapa memiliki sahabat adalah anugerah terindah dalam hidup. Memiliki banyak sahabat memberikan inspirasi tiada bertepi. Inspirasi apa saja? Rasanya tak mungkin saya mampu menuliskan semua inspirasi dari sahabat dalam catatan kecil kali ini.
Suatu hari ada sahabat yang mengirim SMS:


Berakhlakul karimah cermin ahlul jannah…
Sekali melangkah pantang menyerah
sekali walimah harus sakinah mawaddah wa rahmah…
renungan ini mudah-mudahan bisa jadi inspirasi*.


SMS itu awalnya saya anggap sebagai sebuah guyonan. Namun, ketika kata demi kata saya baca kembali, sebentuk senyum pun mengembang. Ya! Ada harapan yang sama sekali bukan guyonan. Saya mampu menangkap ketulusannya.

Saya diajak untuk bermuhasabah; menyapa kabar keimanan hari ini. Ah, tak ada kalimat lain yang keluar kecuali kejujuran: saya bukan apa-apa. Saya masih begitu payah. Bahkan, akhlak saya sebagai muslimah masih sangat jauh dari standar ideal. Meski hari masih pahit, semoga di masa mendatang saya menemukan manisnya proses perbaikan diri.
Saya membuka kembali shirah jihadiyah.

Yang kau takutkan adalah yang kau inginkan, bukan?

Retoris –khas- Ustadz Hatta yang menyetir kata-kata Abdullah bi Rawahah dalam perang Mu’tah kembali terngiang. Saya menata hati untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik. Hmh... terlalu abstrak, ya? Kalau ketahuan teman SMA, pasti kena semprot lagi. Belum lama ini, ia bertanya,

”Baiti, dikau sedang sibuk apa?”
”Mempersiapkan masa depan untuk kehidupan yang lebih baik.”
”Ah, jawaban klise bersayap”

Saya jadi teringat dengan pertanyaan Mbak Izzatul Jannah dalam sebuah kajian di Nurul Huda pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, ”Ketika meninggal dunia, kau ingin dikenang sebagai apa?” Pertanyaan sederhana itu sengaja diberikan sebagai pemantik. Itulah landasan operasional untuk menentukan visi hidup seorang yang berkeinginan menjadi pejuang.

Saya tercenung ketika nama shahabiyah dipaparkan satu demi satu. Disusul kemudian nama para muslimah yang unggul di bidangnya dan turut menyebarkan harumnya Islam. Ayolah..begitu banyak pilihan terhampar! Jawablah dengan sebenar keyakinan. Sebab, itulah yang akan mewarna dalam lintasan pikiran kita.

”Jadi, ketika kau mati, kau ingin dikenang sebagai apa?”
hMh... Hmh... jawaban yang saya berikan masih terlalu general : saya ingin menjadi orang yang bukan hanya dicintai tetapi layak untuk dicintai. Artinya, saya tak ingin orang lain berprasangka baik terhadap saya, sedang keadaan saya tidaklah demikian. Jadi, masih butuh proses yang sangat panjang mempersiapkan masa depan untuk kehidupan yang lebih baik, di dunia dan akhirat.

Solo, 10 Juni 2008: menjelang Subuh

Wednesday, April 30, 2008

BEGITU INDAH

Begitu banyak kejenuhan akhir-akhir ini maka perlu ada suatu penyegaran untuk memulai aktivitas. Kejenuhan karena patahnya hati semangat, tugas yang belum selesai, membangun sesuatu yang direncanakan (?), pekerjaan yang belum selesai, kerjaan yang belum dikerjakan dan banyaknya hal yang dituntut.

Sungguh menyenangkan jika tiap pekan (rutin) dapat membagi keluh kesah dengan alam atau hal yang lain untuk menghilangkan kejenuhan. Alam yang berupa corak warnanya menyuguhkan suatu keindahan dan ketenangan.

Alam yang ada di SurgaNya tentunya lebih indah daripada alam yang di dunia ini. Begitu indah ciptaannya di dalam SurgaNya.




“Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu". (QS. 35:35).

***

Dapat sebagai referensi jika kita refreshing yaitu menikmati alam dapat juga sembari nikmatnya makan sendirian bersama, memancing (di danau, laut atau telaga), berpetualang (di gunung atau bukit). Sungguh nikmatnya dari Mu..



(Pengambilan foto di Gunung Lawu..Wuih indahnya dan sejuk lagi =P~ )










(Pengambilan gambar di Waduk KedungOmbo, Sragentina)
/"Mancing yuk...umpannya cacing fo
sfor, yuhuuu...lumayan dapat paus dan hiu ikan kecil-kecil...
Sapa ya ingin gorengkan saya..
hehehe..








(Pengambilan gambar di Waduk KedungOm
bo, Sragentina)
/"Saatnya makan siang.... :)
Membuat hati menjadi damai nan sejahtera..






(Pengambilan gambar di Waduk KedungOmbo, Sragentina)
/"SunSet-nya begitu indah gak kalah dengan di Danau Toba ... hehehe...yuhuuu














___

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. (QS. 15:19).

Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur. (QS.35:12).

Wallahu a’lam bish showab...



Saturday, April 05, 2008

SEMUDAH ITU KAH??...TIDAK SEMUDAH ITU...

Untuk kesekian kalinya hal ini dirasakan. Begitu menyakitkan sekali jika hubungan silaturahim ini terputus, ya sangat menyakitkan sekali.

Hati ini seperti tersayat-teriris karena emosi yang terpendam serasa meledak-ledak disertai air mata tak tertahankan lagi yang masih membekas.

Semudahnya memutuskan hubungan silaturahim seperti memutuskan tali dengan pisau yang panas.
Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan*, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.(QS.13:21) (*) Yaitu mengadakan hubungan silaturahim dan tali persaudaraan.

Sabda Nabi Muhammad SAW di dalam riwayat Hadist Bukhari-Muslim: "Tidak akan masuk surga bagi orang-orang yang memutuskan silaturahim".

Saya yakin mereka melakukan ini untuk kebaikan. Karena tidak menyukai atas perbuatan dan tentunya mereka mencintai karenaNya. Hal yang tidak diterima dengan sepenuh hati tapi harus diterima dengan hati yang lapang. Tapi mengapa dengan jalan keluar seperti ini??. Padahal Alloh adalah Maha Pengampun hambaNya.


Tidak diberi kesempatan dan keadilan itu

Bolehkah menangis Ya Rabb?

Menangis akan ujianMu yang penuh warna

Menangis akan hikmahMu yang Agung

Ya Rabb basuhlah luka ini dengan kelembutanMu

Ya Rabb berikanlah kemudahan untuk menata hati yang hancur

Ya Rabb berikanlah yang terbaik untuk hambamu ini

Hasbunalloh wa ni’mal wakil...


Monday, March 31, 2008

Perjalanan...


LIBURAN (kerjaan) YANG ANeH


Weh tujuan saya tuch "Dhoho" dasar kurang kerjaan nongkrong segala.. (yg ngasih alamat itu ukh Santi) ... hehe...


Akh GusPur itu suasana desa Ngawi boz.. kpn balik ke Jawa?? :D atau saya kenalkan ma anak Magetan atau Ngawi.. hehe..



Alhamdulillah uenak tenan. Makanan (favorite) yg sering dimakan ma ukh Santi ma adik tiri (ukh) saya. Baksonya mantaBB..




Lokasi di Caruban.. menunggu KA lewat...


Lhoh.. ketemu keretanya lagi di Nganjuk.. weleh.. (koq cepatan saya ya)..hehehe...



Subhanalloh Sungai Nil-nya Kediri alias Sungai Brantas (Kekekekkk)
Teringat Novel dan film AAC (bukan AAPC lho..).. Hehe...Jadi inget Febra yang mo nikah.. (ditunggu undangannya dech)... :D

Teringat temen blog saya yg Nadine's Mom (Icha) di mesir. Ukh Nana dan Ukh Dini serta BulikQ (Banjarmasin) dgn sungai Kapuas nya (mancing yuk)..he..he..



Kamis, 26 Maret 2008


Friday, March 21, 2008

Memoar (2)...

Tak Sekedar Pe-San dan Ke-San


Tulisan ini untuk mengingatkan saya pada sebuah team. Tapi bukan sekedar team karena dihuni oleh orang-orang yang pernuh warna kulitnya karakternya, salah satunya GusPur. Walaupun awalnya canggung and bengong tapi ya lama-kelamaan saya bisa menangkap apa yang menjadi tujuan kita. Yach..maklum saya masuk di team itu menyusul atau dipingit karena terbuang.

Ketika ada perjumpaan (awal) tentunya ada sebuah perpisahan (akhir). Tapi ada kenangan kita dalam mengemban amanah dakwah ini. Tak lupa sebuah kenangan berupa secarik kertas kecil yang dimasukkan amplop yang masing-masing mendapatkannya. Yap..sebuah amplop panas yang berisi pesan dan kesan yang tak sekedar suatu pesan dan kesan. Tapi sayang pesan dan kesan itu gak diberi nama yang nulis (memang kesepakatan kita).

Alhamdulillah amplop saya masih ada. Saya temukan tidak sengaja di sela2 rak buku. Tapi saya yakin 700% amplop punyanya GusPur sudah hilang. He..he Cuma nebak aja..mungkin tebakan saya benar..

****


#1.Assalamu’alaikum..ketemu kemarin sekarang pisah!. Semoga singkatnya pertemuan ini lebih bermakna! Keep your spirit in the Islam and never ending jeehad!. Syukron and afwan ya. Doakan saya yang baik-baik ya!..(*tulisannya huruf bersambung agak jelek..he..he. Klo yang ini melanggar kesepakatan cos dia nulis initial nama lengkapnya yaitu ASQ.).

>>> ternyata waktu sangat cepat ya akh untuk menuju perpisahan ini. Ya insyaAlloh kami doakan yang baik2 mosok yg jelek2 tho akh..hehe..


#2.Good. Kau dinanti-nanti. Antum bisa! Bekerjalah tuk sukses. Saya butuh perhatianmu...(*tulisannya semi huruf bersambung dan lumayan bagus tapi jeleknya juga ada)

>>> wah ini sapa ya..tapi tenang keliatane ini ikhwan bukan akhwat. Klo saya tebak ini yang nulis Sutadzi dech..


#3.Secepat kilat engkau datang sambut seruan jihad... Allohu akbar!!!!..Subhanalloh, datangmu tanpa kata kerjamu tanpa cela..sempurna...(*intine tulisannya tidak beraturan ato mungkin cepet nulisnya dia ini)

>>> ini terlalu memuji dech..tapi ini sapa ya??. Masih dalam tahap penasaran..he.he..


#4.Belum ma’rifah (*tulisannya biasa aja and gak huruf bersambung)..

>>> wah yang jelas ini akhwat yang nulis..koq gak kenal saya ya. Gak kenalan sich. Singkat dan jelas menandakan bahwa ini akhwat yang ..... (??)..


#5.Ayo bersuara. Dengan berkata kita akan didengar. Dengan berbuat kita akan dilihat..(*tulisannya bagus).

>>> Emange saya jin khah?????...hm..hm..ini keliatane akhwat tapi kurang tau sapa.(??)


#6.Ass. Wr..Wb.Semangat.Istiqomah. Wass.Wr.wb (tulisannya bagus dan huruf dengan bersambung)

>>> Ya insyaAlloh saya selalu semangat dan berusaha untuk istiqomah..Dari tulisannya sich kayak (calon) guru..Jangan2 ini akhwat FKIP..hehe Cuma nebak aja..


#7.Afwan jiddan ane belum mengenal antum..(tulisannya bagus dan huruf dengan bersambung).

>>> jelas sekali ini pasti akhwat. Bahasanya terlalu resmi mungkin aja hormon estrogen-nya lebih dominan.


#8.Berkacamata.... Kalem.... and cepat ngerjakan agenda-agenda.. (*tulisannya bagus)

>>> Ateng ni!..apa iya sich??..wah ini sapa ya bikin penasaran aja..Jangan-jangan???...


#9.Lembut..saya dulu sering manggil antum “ukh” ya akh..he.he. Afwan bercanda koq. Meskipun calm tapi sip juga antum...(*tulisannya besar2 and jelek lagi)..

>>> ooo dasar akh Qowiy emange saya lelembut...Tapi antum juga sip hancurnya..heehe..


Pertemuan qta bagaikan hujan salju sedangkan persahabatan qta bagaikan mutiara surgaNya..

Manakah pesan GusPur ???........Wekekek...

***


Wednesday, March 12, 2008

Memoar...




Anugerah dari-Nya


Senyuman alami yang elok dan indah

Tak ada yang membosankan selain dari padanya

Mengapa engkau tersenyum seperti madu yang beracun?

Apakah disertai dengan panah-panah iblis yang pedih dan panas?

Hanya mereka yang bisa bersaksi dan menjawab


Tanyalah pada rumput-rumput di tepi pantai

Perahu-perahu serta dayung di sekitarnya

Dan berang-berang yang melihat kita penuh keheranan

Mengapa semua berakhir di mangrove yang indah?


Senyuman itu yang terakhir dan menghilang selama-lamanya

Senyuman yang penuh warna dan penuh makna

Terkatakan pada hati bahwa cinta pertama memang indah

Tapi cinta yang paling indah adalah cinta setelah janji

Janji disertai dengan cinta kepadaNya dan RosulNya

Oktober, 2006
***



Tuesday, February 19, 2008

21 bulan?...Kami masih menunggu...

Fenomena ini mungkin saja pernah terjadi di dunia ini, hanya saja jarang atau sangat jarang. Fenomena yang sudah membuat keluarga besar kami bertanya-tanya keheranan. Fenomena yang membuat kami mengkhawatirkan seseorang yang kami cintai karenaNya sebab dia jauh dari kita sebagai keluarga besar kita. Fenomena yang membuat hatiku tergetar, bergetar karenaNya yang selalu teringat akan hal itu. Fenomena itu selalu terbayang-bayang dalam mimpiku dan terbangun saat 1/3 malam terakhir untuk mengucapkan perkataan: "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).”(Al-Kahfi:39). Sejujurnya aku (kami) mengkhawatirkan seseorang itu, demi keselamatannya sehingga selalu kami panjatkan do’a untuknya.

Dia adalah seorang wanita yang membimbingku ketika aku masih duduk di bangku SD. Dia juga selalu mengajak bermain ketika ummi-Q tidak berada di sampingku. Dia selalu menemaniku dan menghiburku sampai sekarang ini walaupun kami sudah terpisah sejak aku duduk di bangku SMP. Dia juga selalu memberikan hal yang terbaik bagiku. Sebaliknya aku belum bisa berbuat banyak untuk membantu dia, untuk membalas kebaikannya. Ditambah kami sudah terpisah dikarenakan dia dituntut untuk mandiri, ya dia dituntut sebagai wanita yang berani dan mandiri. Hanya do’a di setiap malam yang dapat aku lakukan.

Seorang wanita 29 tahun, adik dari Abi-Q yang mungil itu sekarang tinggal di kota Banjarmasin yang berprofesi sebagai seorang guru yang didampingi seorang pria 38 tahun, juga berprofesi yang sama. Wanita itu sedang hamil terhitung sudah 21-duapuluhsatu bulan, yang sampai detik sekarang belum juga melahirkan anak pertamanya. 21 bulan???, Ya hampir 2 tahun kurang 3 bulan.. Subahanalloh.. Allohu akbar!!.

Sebagian wanita normal melahirkan dengan waktu kehamilan 9 bulan lebih sedikit atau banyak. Dan kalau pun sampai 10 bulan atau lebih, sang ibu sudah harus dioperasi atas saran dokter tentunya demi keselamatan sang ibu dan bayinya. Tapi suaminya dan dia sendiri tidak memutuskan untuk itu. Karena memang silsilah keluarga besar dari pihak suaminya sudah terbiasa dengan kelahiran anak lebih dari 10 bulan di dalam kandungan. Sebagai contoh suaminya sendiri, dia lahir dengan lama kandungan 15 bulan (sekitar itu). Sesuatu yang tidak wajar tapi memang benar-benar terjadi.

....Katakanlah : "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al-Fath:11).

Bayangkanlah seorang calon ibu mengandung selama itu

untuk pertama kalinya...

Bayangkanlah dia menjaga kandungannya selama itu

untuk pertama kalinya...

Tanyakanlah kepada wanita-wanita yang pernah hamil...

Tanyakanlah kepadanya apakah dia perlu kesabaran untuk hal itu...

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (QS. Luqman:31).

Wallahua'lam