Tentang Kopi

tips membuat wedang teh (tea) dan kopi (coffee)

kami berdua

walimatul 'ursy timur tengah

Cinta Suci

Ingin kukatakan arti cinta kepadamu, Dinda.

berawal dari taaruf

Sore senja jingga menupuk tangan Indah nampak elok menyebar cakrawala bumi yang luas

Arkan Dian Husnayan

Mujahid Kecil Kami

Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Wednesday, February 04, 2009

Aku mencintainya karenaMu

Sekian kalinya aku memotivasi istriku untuk maju dan semangat. Senangnya aku bisa memotivasi dirinya. Semangat ya !!! dan ber-metamorphoria-lah karena harapan itu terus ada. Demi mujahid kecil kami; wujudkan harapanmu, harapanku, harapan Bundamu, harapan keluarga besar ini dan harapan orang-orang yang ada disekitarmu. Terkadang aku tidak bisa memotivasimu maka tersimpuhlah dan kuserahkan kepadaMu, Ya Alloh ... Aku mencintainya karenaMu..

Wednesday, November 19, 2008

SUNGGUH, INI ADALAH KASIH SAYANG ALLAH…


Kuterbujur di pembaringan
Tiada daya dalam dekapan
Merenungi dan menghayati karunia dari Ilahi
tentang arti kesehatan hakiki
*



Malam ini tak seperti biasa.
Saya terjaga dalam resah. Mencoba menenggelamkan diri pada tazkiyatun nafs, dan saya kembali menemukan begitu tiada berhingga kasih sayang Allah pada kami. Pun, kini, ketika Allah memberi karunia berupa sakit pada suami tercinta. Saya yakin bahwa ini adalah bentuk kasih sayang Allah.

“Dua kenikmatan yang manusia sering lalai terhadapnya adalah nikmat sehat dan waktu luang.”
Hadist yang telah begitu sering dibisikkan di telinga, mau tak mau menjadi pemantik untuk mengulang rasa syukur kepada-Nya. Ketika suami sakit, saya merasa Allah menampar kami dengan begitu lembut. Begitu lembut, hingga sakit itu menjelma menjadi kesempatan untuk menggugurkan sebagian dosa.

Ya! Bagaimanapun, akan tersingkap betapa banyak kealpaan kami selama ini. Apa saja yang telah kami lakukan dengan nikmat sehat yang telah diberikan sebelum ini? Kemaksiatan apa yang telah kami lakukan? Kesombongan apa yang telah hinggap dan menjadikan kami lalai? Akan terbukti pula seberapa sabar kami menghadapinya. Dan, betapa indahnya ketika kami bisa melewatinya dengan sabar.

Jika malam tlah tiba
cobalah keluar…
Hitung dan rasakan
bintang yang banyak itu bersinar di langit
Sebanyak itulah aku bersyukur telah mengenalmu saat ini..
I love u…
**


Lalung permai, 19 November 2008 : 23.02
Syafakallah, mujahid-Q
: semoga Allah menjadikan syukur dan sabar sebagai akhlaq kita.


*Petikan nasyid Suara Persaudaraan
** SMS seorang sahabat

Thursday, November 13, 2008

DI MASJID HATIKU TERKAIT

ADAKAH KAU LUPA?
Adakah kau lupa ... kita pernah berjaya
Adakah kau lupa... kita pernah berkuasa
Memayungi dua pertiga dunia...merentas benua melayar samudera
Keimanan juga ketaqwaan... rahsia mereka gapai kejayaan.. (AlarmMe)


Tono tertegun mendengar senandung dari winamp-nya. Adakah kau lupa? Entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa terusik dengan senandung itu. Ya. Semua berawal ketika secara tidak sengaja ia menghitung jama’ah Shalat Subuh tadi pagi. Ternyata jama’ah shalat di masjid dekat kosnya itu tidak jauh berbeda dengan masjid-masjid yang pernah ia temui di pelosok kota maupun desa-desa. Shaff yang hanya terdiri dari satu dua baris, yang kadang tidak penuh, menjadi pemandangan yang sangat biasa. Bila keadaan terus begini, bilakah kejayaan Islam akan kembali? Retoris, mahasiswa semester enam itu bertanya pada dirinya sendiri.

Ternyata Tono tidak sendirian. Di pinggiran kota tempatnya menuntut ilmu, Arif juga merasakan hal yang sama. Pemuda itu merasa masjid di lingkungan tempat tinggalnya semakin sepi. Hanya anak-anak TPA yang meramaikan masjid. Itu pun hanya sore hari. Selebihnya hampir-hampir ia tak menemukan geliat anak-anak muda di dalamnya.



Dua frgamen di atas hanyalah sebagian kecil dari fenomena yang kerap kita temui hampir di pelosok negeri. Sangat ironis memang. Negeri kita yang mayoritas penduduknya muslim –bahkan terbesar di dunia- belum banyak yang tersadar untuk menjadikan masjid sebagai sentra dari segala aktivitas ummat. Para pemuda yang diharapkan menjadi agent of change masih banyak yang terlelap dalam buaian kehidupan dunia. Menjadi tugas kita bersama –terlebih mahasiswa muslim- untuk segera bangkit, mengajak kembali para generasi muda untuk kembali akrab dengan masjid. Mengapa pemuda yang kita ajak? Mengapa harus kembali ke masjid?

Ustadz Badawi, usai kajian di sebuah kampus memberikan penjelasan kepada redaksi, bahwa ketika seseorang berstatus sebagai pemuda, sesungguhnya ia berada dalam fase-fase yang optimal atau momental untuk membentuk masa depan. Sehingga apabila mencapai usia empat puluh tahun ia telah siap untuk menerima beban selanjutnya. Rasulullah Saw. pun mengemban risalah kenabiannya pada usia empat puluh tahun.

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (Al-Ahqaaf:15)

Pencerahan terhadap pemahaman Islam secara komprehensif sangat diperlukan dalam menumbuhkan kesadaran dari masing-masing pribadi muslim untuk kembali kepada Islam secara kaffah, tanpa paksaan sedikit pun. Simbol-simbol kebaikan ada di masjid. Dari situlah kita mulai dan di situlah hendaknya kita –pemuda- kembali.


PEMUDA DAN MASJID

Ustadz Mahmud Mahfudz, dalam acara Malam Bina Ruhiyah (mabiru) di Masjid Nurul Huda UNS pada tanggal 20 Februari 2008, menyebutkan beberapa urgensi mengapa kita harus akrab dengan masjid. Salah satunya adalah pemuda yang hatinya terikat pada masjid akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Sebagaimana tertuang dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim,

Berkata Abu Hurairah ra. : bahwa Nabi saw telah bersabda: "Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Mereka adalah 1). pemimpin yang adil, 2). anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, 3). seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid, 4).dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, 5). seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: "Sungguh aku takut kepada Allah", 6).seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas di-sembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya, 7). dan seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata".

Kalimat “seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid” mempunyai dua pengertian. Yang pertama adalah seseorang yang kapan dan di manapun berada selalu ingin memakmurkan tempat ibadah. Yang kedua adalah seseorang yang tidak pernah melalaikan ibadah di tengah kesibukan apapun yang dijalaninya.


INILAH HAKEKAT MASJID, WAHAI PEMUDA !!

Tahukah Anda, kata masjid terulang sebanyak dua puluh delapan kali di dalam Al-Quran? Dari segi bahasa, kata tersebut terambil dari akar kata sajada-sujud, yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan takzim. Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syariat. Itulah sebabnya bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan shalat dinamakan masjid, yang artinya “tempat bersujud”.

Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat shalat kaum muslimin. Tetapi, karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakekat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas kepatuhan kepada ALLAH semata.
“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Q.S Al-Jin:18)


MARI MAKMURKAN MASJID…

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah: 18)

Dari ayat di atas terlihat jelas korelasi yang sangat erat antara keimanan dan kemakmuran masjid. Ciri utama orang yang memakmurkan masjid adalah orang yang beriman kepada ALLAH dan hari akhir.

Ketika berhijrah ke Madinah, pertama yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. adalah mendirikan sebuah masjid (Masjid Quba') untuk dijadikan tempat ibadah dan pusat kegiatan Islam. Menyusul kemudian Masjid Nabawi. Peristiwa tersebut mengisyaratkan betapa masjid merupakan sesuatu yang sangat penting sehingga Rasulullah Saw memberikan perhatian yang begitu besar. Pada masa itu masjid memiliki fungsi yang begitu besar. Selain sebagai sarana ibadah, masjid juga menjadi sarana tarbiyah (pendidikan), pembinaan ummat, pengikat ukhuwah, bahkan menjadi basis perjuangan ummat Islam.

Mengembalikan fungsi masjid sebagaimana mestinya –seperti masa Rasulullah Saw- adalah tugas kita bersama. Tidak mudah memang. Namun, setidaknya kita bisa berkontribusi dengan masing-masing potensi yang kita miliki. Bukankah ALLAH Swt menuntut setiap mukmin untuk memberikan kontribusi nyata dalam menegakkan dinul Islam? Dengan harta, ilmu, pemikiran dan tenaga yang kita miliki kita bisa turut berkontribusi. Tunggu apa lagi? Mari memulainya dengan memakmurkan masjid; menjadikannya sebagai sentra kegiatan ummat.

Dengan (terlebih dulu) Mempertautkan Hati Kita kepadanya…
Bagaimana mungkin kita bisa memakmurkan masjid, bila hati kita tak kunjung terikat dengannya? Ustadz Mahmud Mahfudz pernah menyampaikan beberapa kiat bagaimana kita mempertautkan hati dengan masjid, di antaranya:
1. Menyadari dampak positifnya
Orang yang hatinya terikat dengan masjid akan mendapatkan ketenangan jiwa, mendapat guyuran rahmat Allah, di kelilingi malaikat, dan disebut namanya dihadapan para malaikat Selain itu ia juga mampu melebur dosa, menggapai pahala, menambah ilmu pengetahuan, serta menguatkan persaudaraan dengan sesama muslim.
2. Melestarikan dzikir dan muraqobah baik di dalam masjid maupun di luar masjid
3. Mengikuti jejak langkah para salaf dalam mengakrabi masjid.
Kita bisa meneladani Abdullah bin Ummi Maktum yang tetap shalat berjamaah di masjid walaupun buta matanya dan tidak ada penuntun jalan baginya. Atau memotivasi diri dengan kisah Abu Hurairah yang mondok di masjid Nabawi sehingga hafal 5.374 hadits.


HINGGA CINTA MASJID BUKAN SEKEDAR KATA!

Kecintaan kita kepada masjid membuat hati kita terpaut kepadanya sejak kita keluar dari masjid hingga kembali lagi ke masjid. Dan ketika hati telah benar-benar terpaut, benih-benih cinta yang lain akan bersemi. Kita akan menjadi orang yang rela berkorban untuk masjid, tergerak untuk turut membersihkannya, rajin mendatanginya, menghormati dan tidak menyalahgunakan masjid. Masjid merupakan tempat yang harus kita cintai sebagaimana kita cinta pada rumah kita sendiri. Oleh karena itu, perhatian kita kepada masjid harus selalu kita tingkatkan dari waktu ke waktu agar masjid tidak lagi merana seperti yang sekarang banyak terjadi.

Wallahu’alam bishshawab. (fa, sumber ew & tyd)

dedicated 2 panitia renov masjid kampus eNHa tercinta

Wednesday, August 13, 2008

Episode Cinta II (AJARI ANAK-ANAK KITA CINTA)

AJARI ANAK-ANAK KITA CINTA


“Setiap pagi saya menyuruh anak saya untuk menyiram tanaman. Kalau terhadap tanaman saja ia mau memberi, saya berharap terhadap orang lain apalagi …”


Sebuah prolog yang membekas, yang disampaikan seorang Ustadz saat beliau memberikan kajian di sebuah kampus kecil itu masih saya ingat. Salah satu bukti cinta adalah pengorbanan, kita rela memberikan sesuatu yang kita miliki. Dan Ustadz telah mengajari cinta kepada anak-anaknya sejak mereka masih kecil. Ya! Cinta terhadap sesuatu di sekitarnya.

Cinta yang berkonotasi positif selalu beririsan dengan kebaikan. Ia yang disebut-sebut sebagai energi untuk melakukan kebaikan demi kebaikan. Cinta terhadap anak-anak menjadikan kita mengajarkan cinta kepada kebaikan sejak mereka masih kecil, bahkan sejak masih dalam kandungan. Dan percaya atau tidak, kebaikan yang kita ajarkan akan berbuah kebaikan pula. Bahkan kebaikan itu akan berlipat ganda. Itulah keajaiban cinta.

Saya jadi teringat akan dialog dengan sepupu kecil saya.
“Mbak, Rohma sudah selesai mengaji?” laporan sepupu saya yang masih kelas satu SD lewat telepon.
“O, ya? Sudah sampai juz berapa?”

“Juz 20, Mbak. 10 Juz lagi khatam. Rohmah udah khatam 2 kali, Mbak. Berarti sebentar lagi 3 kali, ya?”
“Siapa yang menyimak? Abi? Atau Ummi?” tanya saya.
“Nggak ada, Mbak. Mengaji sendiri.”

Subhanallah! Saya berdecak kagum dibuatnya. Saya tahu bacaan Al-Qur’annya sudah lancar, panjang pendek dan tajwidnya sudah betul. Bahkan dari kecil ia (juga) sudah dilatih mengucapkan huruf-huruf hijaiyah sesuai dengan makhrajnya. Maka tak heran, bila ia pun lebih gemar mengaji dan mendengarkan murratal daripada mendengarkan yang lain. Meskipun (tentu saja) ia juga masih bermain sebagaimana anak-anak seusianya. Itulah salah satu pelajaran cinta yang saya dapatkan. Bagaimana mengajari anak-anak cinta terhadap Al-Qur’an. Tentu saja orang tua harus bisa memberikan keteladanan yang baik. Begitu juga mengajari mereka ibadah keseharian, orang tua pun harus cinta menjadi ahli ibadah. Dan semuanya butuh ilmu. Butuh belajar dan latihan. Semua butuh pembuktiaan, sebelum kita mengajak anak-anak melakukannya.

Di kesempatan yang lain saya mendapat kabar dari Bulik, bahwa Rohma sekarang juga belajar menulis. Rupanya ia suka dengan salah satu buku yang saya beli dari Gramedia. Buku yang ditulis oleh Bella, pengarang cilik yang juga putri seorang penulis ternama.
“Semoga kelak jadi mujahidah bersenjata pena.” SMS saya pada Bulik, Ibu dari sepupu saya itu.
“Amiin. Ya MBet, ini dah dapat 3 buku kecil-kecil. Mau dibeli Abi katanya. Lumayan bisa buat beli kue atau dimasukkan celengan. He…”
Alhamdulillah!

Tak sia-sia saya membelikannya buku. Buku yang menginspirasinya untuk berimajinasi dan menulis. Namun itu hanya salah satu pemantik saja. Sebelumnya, orang tuanya telah mengajarinya tentang cinta. Kali ini tentang cinta membaca. Tanpa aktivitas itu mana mungkin seorang anak kecil (bahkan kita) berkeinginan untuk menulis.

“Katanya, tulisan Rohmah mau dibuat buku untuk dijual seribuan kepada teman-teman sekelasnya.”
Wuiih! Sudah sejauh itukah keinginan anak kelas satu SD itu? Saya hanya tersenyum mendengarnya. Bayangkan, jika orang tua kemudian tidak memberikan dukungan terhadap keinginannya! Yang terjadi (barangkali) adalah ide-ide kreatif sang anak kemudian akan terhenti. Dan kalau rencana sepupu saya itu benar-benar direalisasikan, maka ia pun telah mengajak temannya untuk belajar cinta. Cinta membaca dan bisa jadi juga cinta menulis.

Itu adalah sedikit dari pelajaran cinta yang saya dapatkan dari anak kecil. Begitu banyak nilai-nilai kebaikan dalam agama kita yang mestinya memang harus diinternalisasikan pada anak-anak kita sejak kecil. Namun sudah cukupkah kita punya cinta yang memadai terhadap segala kebaikan? Cinta yang kita ajarkan adalah cinta yang sudah harus kita miliki. Bukankah kita tak mungkin memberi apa yang tidak kita miliki?...

***

Wednesday, August 06, 2008

Episode Cinta I (Untuk Kebahagiaan yang Sederhana)

Untuk Kebahagiaan yang Sederhana

by: Fathimatul Azizah

Suatu hari ada gadis yang berkata, “Siapa bilang aku sedih? Aku kan selalu bahagia.”
Atau di saat yang lain ia bilang, ”Gak pa-pa. Yang penting, kan bahagia.”
Ya semoga.


Saya tak pernah menduga ada sahabat yang me-replay kata-kata itu. Bahkan, ia menuliskannya pada salah satu lembar buku saya. Sebentuk senyum pun mengembang. Saya berterimakasih dan tersanjung dengan perhatiannya. Ya! Ia hapal dengan kata-kata saya. Kata-kata yang seringkali saya ucapkan untuk menetralisir hati bila tiba-tiba kesedihan menghunjam dalam.

Betapa memiliki sahabat adalah anugerah terindah dalam hidup. Memiliki banyak sahabat memberikan inspirasi tiada bertepi. Inspirasi apa saja? Rasanya tak mungkin saya mampu menuliskan semua inspirasi dari sahabat dalam catatan kecil kali ini.
Suatu hari ada sahabat yang mengirim SMS:


Berakhlakul karimah cermin ahlul jannah…
Sekali melangkah pantang menyerah
sekali walimah harus sakinah mawaddah wa rahmah…
renungan ini mudah-mudahan bisa jadi inspirasi*.


SMS itu awalnya saya anggap sebagai sebuah guyonan. Namun, ketika kata demi kata saya baca kembali, sebentuk senyum pun mengembang. Ya! Ada harapan yang sama sekali bukan guyonan. Saya mampu menangkap ketulusannya.

Saya diajak untuk bermuhasabah; menyapa kabar keimanan hari ini. Ah, tak ada kalimat lain yang keluar kecuali kejujuran: saya bukan apa-apa. Saya masih begitu payah. Bahkan, akhlak saya sebagai muslimah masih sangat jauh dari standar ideal. Meski hari masih pahit, semoga di masa mendatang saya menemukan manisnya proses perbaikan diri.
Saya membuka kembali shirah jihadiyah.

Yang kau takutkan adalah yang kau inginkan, bukan?

Retoris –khas- Ustadz Hatta yang menyetir kata-kata Abdullah bi Rawahah dalam perang Mu’tah kembali terngiang. Saya menata hati untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik. Hmh... terlalu abstrak, ya? Kalau ketahuan teman SMA, pasti kena semprot lagi. Belum lama ini, ia bertanya,

”Baiti, dikau sedang sibuk apa?”
”Mempersiapkan masa depan untuk kehidupan yang lebih baik.”
”Ah, jawaban klise bersayap”

Saya jadi teringat dengan pertanyaan Mbak Izzatul Jannah dalam sebuah kajian di Nurul Huda pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, ”Ketika meninggal dunia, kau ingin dikenang sebagai apa?” Pertanyaan sederhana itu sengaja diberikan sebagai pemantik. Itulah landasan operasional untuk menentukan visi hidup seorang yang berkeinginan menjadi pejuang.

Saya tercenung ketika nama shahabiyah dipaparkan satu demi satu. Disusul kemudian nama para muslimah yang unggul di bidangnya dan turut menyebarkan harumnya Islam. Ayolah..begitu banyak pilihan terhampar! Jawablah dengan sebenar keyakinan. Sebab, itulah yang akan mewarna dalam lintasan pikiran kita.

”Jadi, ketika kau mati, kau ingin dikenang sebagai apa?”
hMh... Hmh... jawaban yang saya berikan masih terlalu general : saya ingin menjadi orang yang bukan hanya dicintai tetapi layak untuk dicintai. Artinya, saya tak ingin orang lain berprasangka baik terhadap saya, sedang keadaan saya tidaklah demikian. Jadi, masih butuh proses yang sangat panjang mempersiapkan masa depan untuk kehidupan yang lebih baik, di dunia dan akhirat.

Solo, 10 Juni 2008: menjelang Subuh

Tuesday, July 08, 2008

Walimatul 'Ursy Timur Tengah


Perahu dan Telaga Biru


Kenapa tak pernah kau tambatkan
perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu
pelabuhan tenang yang mau menerima
kehadiran kapalmu!

Kalau dulu memang pernah ada
satu pelabuhan kecil, yang kemudian
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?

Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.

(Syair dari Sahabat Pujangga baru)