Tentang Kopi

tips membuat wedang teh (tea) dan kopi (coffee)

kami berdua

walimatul 'ursy timur tengah

Cinta Suci

Ingin kukatakan arti cinta kepadamu, Dinda.

berawal dari taaruf

Sore senja jingga menupuk tangan Indah nampak elok menyebar cakrawala bumi yang luas

Arkan Dian Husnayan

Mujahid Kecil Kami

Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Monday, July 12, 2010

CINTA SUCI MENUJU PERNIKAHAN



by Fathimatul Azizah

“Mbak, menjadi hafidzah itu mudah tidak?”

Pertanyaan seorang adik dalam sebuah kesempatan, membuat saya terhenyak malu. Saya tercatat sebagai seorang santri yang sangat payah dalam urusan menghapal Al-Quran. Tak ada progress yang menunjukkan perkembangan, justru hari demi hari mengalami penurunan. Diam-diam, saya pun beristighfar dalam hati. Takut menjawab dengan teori yang saya sendiri masih nol dalam aplikasi.


Mengapa tiba-tiba adik mengajukan pertanyaan seperti itu?

Usut punya usut ternyata ada seorang laki-laki yang hendak meminangnya sebagai seorang istri. Laki-laki itu teman guru ngajinya saat SMA. Dan katanya, ia berniat mengajak ‘adik’ saya untuk mengelola sebuah pesantren. Syaratnya ia mau menjadi seorang hafidzah.

“Asalkan baik, prosesnya tidak melanggar syariat dan adik telah siap, mengapa tidak?” sebuah jawaban diplomatis coba saya berikan. Meski saya tak yakin dengan apa yang saya katakan.

Namun rupanya banyak sekali kejanggalan. Laki-laki itu sering mengirimi SMS dan telepon yang tak jelas jluntrungannya. Apakah laki-laki seperti itu bisa disebut laki-laki yang baik?

Akhirnya saya hanya bisa memberinya warning, jangan sampai ia terjebak. Bagaimana mungkin bisa menilai kebaikan seseorang sedang bertemu saja belum pernah. Apakah ta’aruf cukup dilakukan di dunia maya –lewat telp, SMS, atau chatting-? Lantas, Apa bedanya dengan membeli kucing dalam karung?

Entahlah. Saya tak berani banyak berkomentar. Saya sendiri pernah trauma dan tak ingin terjebak dengan hal-hal seperti itu. Bagaimanapun, berinteraksi dengan lawan jenis tidak boleh berlebihan sehingga seolah-olah membuka hijab antara keduanya. Mungkin kita sudah sangat mengerti akan hal itu, namun jangan pernah remehkan syaitan yang ada di sekitar kita. Saya pun menceritakan pengalaman beberapa bulan yang telah lalu.

Saya pernah berinteraksi dengan seorang al-akh di luar pulau. Bertemu saja belum pernah. Kami hanya berkomunikasi dengan telepon atau SMS. Saling tukar informasi tentang perkembangan dakwah. (Wuiih..) Awalnya semua berjalan biasa-biasa saja. Namun saya menangkap sesuatu yang aneh di akhir-akhir ia telepon. Ia menanyakan tentang jumlah binaan, aktivitas, background keluarga dan hal-hal yang menurut saya lebih seperti introgasi. Emangnya siapa dia? Ia pun bertanya kapan saya lulus. Ini sudah kelewatan, pikir saya. Namun saya yang ‘pekewuhan’ seringkali kesulitan untuk mengakhiri pembicaraan.

Beberapa saat berikutnya ia mengabari saya bahwa ia sudah ‘berproses’ dengan seorang ukhti. Saya pun bersyukur. Berarti kekhawatiran saya tidak terbukti. Namun yang mengejutkan adalah di hari-hari terakhir menjelang pernikahan, ia masih menelepon saya. Diangkat, nggak, ya? Saya sempat ragu-ragu tapi akhirnya saya angkat juga.

“Ukh, anti jangan marah. Saya pernah mengatakan pada calon istri saya saat ta’aruf; andaikan proses ini tidak bisa diteruskan, saya akan menikah dengan anti. Afwan bila saya lancang.”

Ia mengatakan seperti itu karena di awal ia dihadapkan pada keadaan kultur yang sedikit menjadi kendala. Marahkah saya? Entahlah. Yang jelas dari sini saya belajar kembali untuk lebih hati-hati dan tegas dalam berkomunikasi. Setidaknya santai dan ‘gaya slengekan’ harus diminimalisasi. Jangan sampai memancing atau menanggapi pertanyaan yang tidak perlu. Bagaimanapun semua ada batasnya.

Nah, kembali ke cerita awal.

“Lantas bagaimana, Mbak, saya harus mensikapinya? Untuk menolaknya? Saya sungkan dengan guru ngaji, saya?”

Saya hanya bisa menjawab dengan apa yang pernah saya baca. Teman-temannya menambahkan. Apakah laki-laki yang berani memanggil ‘Cinta’ kepada perempuan yang bukan mahramnya, bisa dikatakan laki-laki shalih meskipun ia berniat untuk menikahinya? Bukan-bukan seperti itu, Dik, batin saya.

Ingin kukatakan arti cinta kepadamu, Dinda..
agar kau mengerti arti sesungguhnya
tak terjebak dan terbawa harumnya asmara
akan membuat dirimu sengsara..

Saya jadi teringat salah satu nasyid SNADA. Entah berapa kali lagi kami harus belajar tentang cinta. Topik itu yang sampai kini masih menarik perhatian adik-adik saya. Cinta, cinta, dan cinta. Ending yang mereka inginkan adalah sampai proses pernikahan.

Seperti apa cinta suci menuju pernikahan?

Saya tak bisa banyak berkata-kata. Saya bukan pakar cinta. Yang jelas saya meyakini bahwa secara sunatullah, laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik dan sebaliknya. Bukan berarti kita menjadi lebih baik agar mendapatkan pasangan hidup yang baik. Bukan seperti itu. Namun barangkali itulah salah satu keajaiban cinta yang dihadiahkan-Nya untuk kita. Bahwa cinta akan berpihak dan bersinergi bagi orang-orang yang menjaga kesucian cinta kepada-NYA. Wallahu’alam.

Ngawi, 18 Februari 2008

Thursday, July 02, 2009

BERAWAL DARI TA’ARUF (1)

Sore senja jingga menupuk tangan
Indah nampak elok menyebar cakrawala bumi yang luas
Melantunkan do’a kepadaMu
Sungguh bergetar hati sambil bersenandung


Bunyi SMS mengejutkan aku dengan keadaan duduk santai setelah dzikir sore itu. “Akh, akhwatnya minta ta’aruf besok hari Sabtu, antum bisa khan?.” Memang hari Selasa, sebelumnya kami saling menukar biodata. Secepat itu akhwatnya konfirmasi. Segera ku balas SMS itu dengan singkat, “InsyaAlloh bisa mas.Jzk.”

Gelisah menderu bagaikan ombak
Ombak yang bergulung-gulung tak menentu menghantam karang
Melantunkan do’a kepadaMu
Sungguh bergetar hati sambil bersenandung



Malam serasa malam yang tak menentu. Aku hanya bisa mondar-mandir tak menentu. Sunggu sesaat itu aku masing bingung. Tak terasa adzan maghrib memanggil atas namaNya. Astaghfirulloh!!.. Sesegera aku sholat dan selanjutnya tilawah.

Lantunan indah firmanMu
Begitu dalam mutiara-mutiara penamu
Melantunkan do’a kepadaMu
Sungguh bergetar hati sambil bersenandung



Sabtu, 14 Juni 2008

”Akh, tolong jemput saya di halte Jurug ya.” bunyi SMS satu hari yang lalu. Aku sudah menunggu tuk menjemput seorang al-akh. Tapi ini sudah jam 13.00, sesuai janji ta’arufnya. Huh, membuat gelisah saja nich. Akhirnya jam 13.10 bus yang dinanti-nanti itu datang juga. ”Akh sudah terlambat,” tegasku. ”Iya, bentar saya konfirmasi dulu pihak akhwat.” Alhamdulillah, batinku membuat hatiku lega. Segera ku tancap kuda Supra x 125 menuju tempat lokasi.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Terlihat motor Shogun hijau berplat AE. ”Mas, antum duluan yang masuk,” pintaku. Jantungku berdetak kencang. ”Mas, ada hijabnya gak ya,” tanyaku dengan lugu. ”Ya, gak ada. Emange rapat!” balasnya. Wehehe, aku hanya tersenyum aja. Huh, jantungku semakin berdetak kencang saja. Allahu Akbar!!

Akhirnya kita dipersilahkan masuk dan duduk. Tiba-tiba .... Akupun sudah menumpahkan air minumnya. Di mana sudah tersaji makanan dan minuman sebelumnya. ”Wah, lagi ngono wes grogi” celetuk al-akh. Wah, akupun malu bangetzz. ”Iyo, dian lagi ngono wis grogi” tambah mbak-nya. Wah, tambah malu kuadarat. Sebenarnya bukan grogi karena gelasnya memang gak keliatan..hehe...

Akhirnya jam 13.30 ta’aruf dimulai.. Bismillah...
(bersambung...)

*******
Satu tahun, saya ingat betul bahwa tanggal 14 Juni 2008 saat itu adalah peristiwa sejarah bagiku yaitu ta’aruf dengan seorang al-ukh (yang sekarang istri saya :D jadinya pasangan dari Timur Tengah). Hal yang menegangkan saya kira sewaktu ta’aruf tersebut. Dan biasanya para jomblo’er itu biasanya menanyakan hal-hal “itu lho” apa yang dibicarakan “itu lho” kepada saya. Hayo ngaku, sapa?..apa kata dunia?..hehe..

Solo, 140609


Friday, May 29, 2009

Arkan Dian Husnayan (2-End)


Waktunya berangkat ke persalinan. Namun ada yang tertinggak yaitu “jarik”. Karena “jarik” inilah saya agak gelisah. Masalahnya ibu mertua lama banget ngambil “jarik”nya. Masak ngambil jarik 3 jam. Masalahnya jam 05.00 itu sudah siap melahirkan dan “jarik”nya juga belum kunjung datang. Ditambah bidannya pergi ke rumah sakit untuk menolong pasiennya yang datang sehari sebelum kita. Dag…Dig…Dug… Dag…Dig…Dug…

Akhirnya jariknya datang juga jam 06.00 namun masih menunggu bu bidan. Menunggu dan menunggu, akhirnya bu bidan gak bisa hadir maka pembantu bidan yang mengekskusinya. Pembantu bidan itu ternyata adik kelas istriku waktu di SMA. Fathimatulazizah memang qowiy. Istriku menahan sakit hingga akhirnya melahirkan tanggal 13 April 2009 pukul 07.30 WIB. Alhamdulillah do’aku terkabul, persalinan dimudahkan olehNya, hanya 2-3 nafasan istriku dapat mengeluarkan Arkan Dian Hunayan. Air mata kebahagiaan dariku muncul juga. Arkan sangat lucu ketika diletakkan di dada istriku dengan rambutnya yang lebat dan tidak menangis ketika diletakkan di dada istriku. Sempatnya istriku meminta maaf kepadaku karena telapak tanganku digenggamnya sangat erat. Dalam hatiku ya Alloh, aku bergumam bahwa istriku yang sholehah, cantik dan baik hati. Engkau memberikanku bidadari biru itu. Seperti layaknya kupu-kupu yang mendapatkan madu mawar. (End)

Thursday, May 28, 2009

Mawar dan Kupu-kupu


Syair berbalas Abiyasa dan Fathimatulazizah >>>

Fathimatulazizah send SMS: "Bunga mawar itu melalui malam hari dengan kekhusyukan. Tidak menguncup setelah mekarnya meski diterpa angin dinginnya malam. Mawar itu telah mekar bukan hanya sejak hari kemaren dan akan senantiasa indah di kala malam, pagi dan sepanjang hari. Sekuntum mawar itu semakin elok. Tumbuh subur, mekar dan basah oleh embun pagi.Tersenyum tegar menatap cahaya mentari."

Abiyasa send SMS: "Kupu-kupu membentang dan mengayun indah bersama mawar elok nan menawan yang sejak saat itu selalu bersama menggapai cita-cita. Isapan manis dari kupu-kupu tuk mawar ceria di pagi hari yang penuh beningnya embun. Cerita cita cintaNya terukir madu menghasilkan panji-panji semangat juang menjulang tinggi. Penuh harapan tuk masa depan."

Thursday, April 02, 2009

Bidadari Biru (I’m single I’m not very happy)


Laksana mutiara cinta-Nya
Mata indah bulu lentik hitam
Tersenyum penuh bahagia
Pipi merah merona menebar pesona

Biru selendang cinta bersandar
Tertutup indah dan menawan selembut awan
Air mata embun menetes
Sejuk...
Damai...
Indah....
Menawan...

Ingin bersama bidadari biru di taman dan telaga cinta-Nya
Sungguh ada kerinduan menatap dan membelainya

Solo, 020409
Abiyasa di Solo – Fathimatulaizah di Ngawi



Wednesday, February 04, 2009

Aku mencintainya karenaMu

Sekian kalinya aku memotivasi istriku untuk maju dan semangat. Senangnya aku bisa memotivasi dirinya. Semangat ya !!! dan ber-metamorphoria-lah karena harapan itu terus ada. Demi mujahid kecil kami; wujudkan harapanmu, harapanku, harapan Bundamu, harapan keluarga besar ini dan harapan orang-orang yang ada disekitarmu. Terkadang aku tidak bisa memotivasimu maka tersimpuhlah dan kuserahkan kepadaMu, Ya Alloh ... Aku mencintainya karenaMu..

Monday, December 22, 2008

Hari Ibu (Monolog Buat Bunda)

(1)

kutemukan bening kristal berjatuhan
saat senyummu menjawab semua tanya
agar damai terjaga di singgasana rasa

Boleh, kan, Adik mengembarakan Cinta?
Boleh, ya, Bunda?

Ikhlasmu antar aku pada harapan
tentang indah keabadian
usai persinggahan yang hanya sebentar

Jangan...jangan terbuai pesona
dunia hanya fatamorgana!

bukan sekedar penawar gundah,
ketegaranmu...
melepasku berjuang
agar jadi sosok shalihah
meski sungguh itu tak mudah

Selalu ridha, ya, Bunda?!

agar ringan langkah putrimu
memakna cita ini dengan gagah


(2)

tak terasa
masa remaja terlampaui
sudah waktunya
meraih asa

biarkan sejenak kuambil istirah
sejenak saja
sampai hilang letih

Boleh, ya, Bunda?

sebaik-baik perhiasan dunia
masih tetap kaudamba

Bilakah segera menjadi nyata, Dik?

retoris satu tanya di teduh wajahmu
menjelma sebuah pinta

Bersegeralah, Cinta!
Tak perlu Bunda menunggu lebih lama

dalam jeda istirah
kubuka sejarah
perjuangan butuh kesungguhan
butuh pengorbanan

lalu dengan mahar apa kumenebusnya, Bunda?

bilakah mampu kuinternalisasikan
semua keindahan
dalam agung kepribadian

seteguh Maryam
setegar Hajar
sebijak Khadija
secerdas ‘Aisya

Bidadari mana membuatmu terpesona, Bunda?

(3)

khusyu’ munajatmu
membias tenang di sepertiga malam
tepis segala resahku
dengan doa

selalu ada cinta
nyalakan bara shalihahku
‘ tuk berbakti, bahagiakan Bunda

kau kah sebaik-baik perhiasan dunia?


Jalur Gaza, Ar-Royyan Putri, 22 Desember 2006
Tuk Ummi Abiyasa dan Ummi Fathimatulazizah


Tuesday, July 01, 2008

Pesan untuk Para (Calon) Suami

Bismillahirrahmanirrahim

ilaa:
• Akhuna Febra-Nikah 6 Juli 2008 (Yogya)
• Akhuna Doedy Hidayat-Nikah 6 Juli 2008 (UGM)
• Akhuna Wasono (UNDIP)
• Akhuna Tamrin Kurniawan (UNS)
• Akhuna Joko (UGM)


Bila ada surga di dunia itu adalah rumah tangga yang bahagia, rumah tangga yang penuh dengan rasa sakinah, mawaddah dan rahmah. Dan bila ada neraka di dunia itu adalah rumah tangga yang hancur, suami istri saling menyalahkan, curiga, tidak saling mencintai dan jauh dari rasa sakinah mawaddah dan rahmah.

Saya awali pesan ini dengan menggambarkan kedua hal di atas. Dengan menikah Anda tidak saja mendapatkan seorang istri, tetapi Anda mendapatkan seluruh dunia. Sebagaimana kita ingat Rasul bersabda bahwa sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri sholihah. Yang akan menjadikan rumah kita bak surga, baiti jannati. Sejak pernikahan ini, mulai saat ini sampai akhir hayat Anda insya Allah, istri Anda akan menjadi mitra, patner dan sabahat terbaik. Dengan dialah, Anda berbagi berbagai kejadian, melewatkan hari dan tahun bersama. Dengannya lah Anda berbagi suka, duka, impian, harapan dan juga kecemasan. Ketika Anda sakit, dialah yang akan merawat, ketika Anda memerlukan pertolongan dia akan mengupayakan semua yang dia bisa lakukan bagimu. Ketika Anda berbagi rahasia padanya, dia akan menjaga rahasia itu dengan amanah; ketika Anda perlu nasehat, dia akan memberikan nasehat yang terbaik. Dan dia akan selalu bersamamu.

Ketika terbangun di pagi hari, yang pertama mata Anda lihat adalah dia. Dia akan selalu bersamamu, dan jika pada suatu waktu dia tidak ada di sisimu, maka secara emosi dia ada bersamamu. Dia memikirkan, berdoa untuk kebaikanmu dengan sepenuh hati, dan Anda ada dalam pikiran, doa dan hatinya. Ketika Anda tidur di malam hari, terakhir yang Anda lihat adalah dia; dan ketika Anda bermimpi, anda akan melihatnya dalam mimpimu. Kamulah dunianya dan dialah duniamu.

***

Hubungan antara seorang suami istri merupakan hubungan yang sangat penuh dengan hal yang mengagumkan. Tidak mudah digambarkan dengan kata-kata, betapa rasa cinta, kasih sayang, keintiman, kedamaian serta kesejukan yang ada mengisi hati kedua pasangan manusia. Penjelasan rasional adalah bahwa semua inilah anugerah dari Allah, dan semua itulah kehendak Allah. Dengan semua kuasa dan kehendakNya, Dialah yang menciptakan dan membuat perasaan ini hadir di hati pasangan suami istri.

Allah mengingatkan kepada manusia yang mencari keberadaanNya bahwa salah satu tanda-tanda kekuasaanNya adalah Dia menjadikan rasa kasih dan sayang. Allah berfirman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir". (QS. 30:21)

Tetapi hati manusia bukanlah sesuatu yang statis, tetapi sangat dinamis. Perasaan dapat berubah setiap waktu. Dan cinta pun dapat terbang dan hilang. Ikatan pernikahan pun bisa menjadi lemah bila tidak dijaga dengan baik dan kebahagian di dalam rumah tangga pun tidak bisa dijamin akan berlangsung terus. Perlu usaha dari kedua belah pihak suami istri untuk saling menjaga keberlangsungan cinta dan kasih mereka. Ibarat sebuah pohon, tanahnya perlu dirawat, dijaga dan dipupuk.

***

Thursday, June 19, 2008

Bila Wanita Tak Pintar Masak

“Sudah mau nikah kok nggak bisa masak,” ledek seorang kakak lelaki kepada adik perempuannya. Si adik yang memang merasa tidak pintar memasak pun tersenyum seraya menjawab, “Ah, ntar juga bisa!”

Memang, sepertinya sudah menjadi kesepakatan umum kalau wanita selayaknya harus bisa masak. Pendapat ini bisa dimaklumi karena salah satu tugas utama wanita setelah menikah adalah memasakkan atau menyajikan makanan untuk keluarganya.
Akan repot tentunya, jika sang ibu tidak pintar masak. Masak nasi saja sering gosong, masak sayur pun keasinan! Kalau terus-terusan begini, suami bisa hobi jajan di luar. Sedih kan, kalau sudah capek-capek masak, eh suami tidak selera makan?

Hal itu tidak boleh dibiarkan berlangsung lama. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan agar suami bisa segera menikmati masakan Anda:

TERUSLAH BERLATIH

Ada pepatah mengatakan, sesungguhnya bisa itu karena biasa. Begitu pula dengan memasak. Jika sejak kecil atau masih gadis seorang wanita rajin membantu ibunya di dapur, insyaallah ia akan lebih mengetahui urusan dapur alias masak-memasak.

Kalau sampai menikah ternyata masih belum pintar masak, maka banyak-banyaklah berlatih untuk memasak menu harian. Menanak nasi pun perlu berlatih, agar tidak gosong atau kurang air (mlethis-Jawa). Demikian juga masak sayur, agar bisa pas di lidah, maka Anda harus belajar mengenal dan meracik bumbu untuk berbagai macam sayur.

Jangan malu untuk banyak bertanya pada orang yang lebih tahu urusan masak. Misalnya ibu, kakak, tetangga, tukang sayur, atau siapa saja. Bertanyalah tentang berbagai resep sederhana pada mereka. Bisa pula Anda mempraktikkan resep masakan yang ada dalam buku atau majalah. Mulailah dari resep yang bahan dan cara membuatnya paling sederhana.

BUANG RASA MALAS

Adakalanya seorang wanita tidak pintar masak karena berawal dari rasa malas. “Mending jajan, beli ‘matengan’, tidak perlu repot-repot.” Memang beli ‘matengan’ adalah cara yang praktis. Tapi kalau begitu terus setiap hari, apakah tidak boros? Kalau masih berdua mungkin belum begitu terasa. Bagaimana kalau anak sudah empat atau lima? Apa iya, masih mau jajan terus?

Memang, untuk memasak kita perlu repot sedikit. Mempersiapkan segala sesuatunya, dari perapian, peralatan sampai bahan, dan nanti kalau sudah selesai harus membersihkan atau membereskan semuanya. Melelahkan, memang. Tapi begitulah tugas ibu rumah tangga. Namun, kelelahan itu akan segera berganti kebanggaan dan kebahagiaan, tatkala seorang ibu melihat suami dan anak-anaknya menyantap masakannya dengan lahap.

Untuk yang belum pintar masak, jangan malas untuk terus berlatih. Setelah terbiasa, nanti akan terbukti bahwa memasak itu bukanlah hal yang sulit.

NIATKAN UNTUK IBADAH

Bukankah Rasulullah bersabda bahwa jihad seorang wanita adalah di rumahnya? Mengurus rumah tangga, termasuk mengasuh anak dan memasak adalah ladang jihad bagi wanita. Semua tidak akan sia-sia bila dilakukan dengan ikhlas. Jika diniatkan untuk ibadah, insyaallah segala rasa lelah yang kita rasakan akan berbuah pahala.

MASAK BERSAMA

Kadang, seorang suami malah lebih pintar memasak daripada istrinya. Karena itu sekali-sekali perlu diadakan acara "masak bersama". Selain untuk menambah keharmonisan, kegiatan ini juga bisa dijadikan sarana untuk menularkan kepandaian memasak sang suami pada istrinya.

Jika suami tidak pintar masak pun, kegiatan masak bersama tetap asyik dilakukan, karena di situ keduanya akan sama-sama belajar. Walaupun memasak adalah tugas seorang istri, tapi tak ada salahnya bila suami juga belajar masak. Jadi, jika kelak istri sedang berhalangan, misalnya sakit atau melahirkan, sang suami bisa menggantikan posisi sebagai koki rumah tangga untuk sementara.

JANGAN ASAL ENAK

Satu lagi yang perlu diperhatikan oleh para ibu dalam hal masak-memasak. Seringkali untuk "mengakali" rasa yang kurang mantap, ibu kemudian membubuhkan penyedap rasa yang banyak dalam masakan. Padahal, sebagaimana kita ketahui, penyedap rasa kimia (MSG) adalah salah satu zat karsinogenik atau pemicu kanker. Karena itu, kalau bisa sebaiknya dihindari atau diminimalkan penggunaannya.

Demikian juga makanan-makanan instan yang banyak mengandung penyedap rasa, misalnya mi instan, sebaiknya tidak terlalu sering dijadikan menu harian. Produk-produk instan, selain mengandung MSG, kadang juga mengandung zat pengawet dan pewarna, yang juga bersifat karsinogenik.

Tanpa MSG pun, masakan bisa tetap enak, asal bumbunya proporsional. Masak sup atau soto misalnya, tanpa MSG bisa tetap enak dengan menggunakan kaldu asli yang sudah dimasak/dipanaskan cukup lama. Untuk "memantapkan" rasa, bisa dibubuhkan sedikit gula pasir sebelum masakan dihidangkan.

Demikian beberapa hal yang berkaitan dengan masak-memasak. Masih belum pintar masak? Tak ada kata terlambat untuk terus berlatih.

Sumber: http://majalah-nikah.com


Tuesday, February 19, 2008

21 bulan?...Kami masih menunggu...

Fenomena ini mungkin saja pernah terjadi di dunia ini, hanya saja jarang atau sangat jarang. Fenomena yang sudah membuat keluarga besar kami bertanya-tanya keheranan. Fenomena yang membuat kami mengkhawatirkan seseorang yang kami cintai karenaNya sebab dia jauh dari kita sebagai keluarga besar kita. Fenomena yang membuat hatiku tergetar, bergetar karenaNya yang selalu teringat akan hal itu. Fenomena itu selalu terbayang-bayang dalam mimpiku dan terbangun saat 1/3 malam terakhir untuk mengucapkan perkataan: "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).”(Al-Kahfi:39). Sejujurnya aku (kami) mengkhawatirkan seseorang itu, demi keselamatannya sehingga selalu kami panjatkan do’a untuknya.

Dia adalah seorang wanita yang membimbingku ketika aku masih duduk di bangku SD. Dia juga selalu mengajak bermain ketika ummi-Q tidak berada di sampingku. Dia selalu menemaniku dan menghiburku sampai sekarang ini walaupun kami sudah terpisah sejak aku duduk di bangku SMP. Dia juga selalu memberikan hal yang terbaik bagiku. Sebaliknya aku belum bisa berbuat banyak untuk membantu dia, untuk membalas kebaikannya. Ditambah kami sudah terpisah dikarenakan dia dituntut untuk mandiri, ya dia dituntut sebagai wanita yang berani dan mandiri. Hanya do’a di setiap malam yang dapat aku lakukan.

Seorang wanita 29 tahun, adik dari Abi-Q yang mungil itu sekarang tinggal di kota Banjarmasin yang berprofesi sebagai seorang guru yang didampingi seorang pria 38 tahun, juga berprofesi yang sama. Wanita itu sedang hamil terhitung sudah 21-duapuluhsatu bulan, yang sampai detik sekarang belum juga melahirkan anak pertamanya. 21 bulan???, Ya hampir 2 tahun kurang 3 bulan.. Subahanalloh.. Allohu akbar!!.

Sebagian wanita normal melahirkan dengan waktu kehamilan 9 bulan lebih sedikit atau banyak. Dan kalau pun sampai 10 bulan atau lebih, sang ibu sudah harus dioperasi atas saran dokter tentunya demi keselamatan sang ibu dan bayinya. Tapi suaminya dan dia sendiri tidak memutuskan untuk itu. Karena memang silsilah keluarga besar dari pihak suaminya sudah terbiasa dengan kelahiran anak lebih dari 10 bulan di dalam kandungan. Sebagai contoh suaminya sendiri, dia lahir dengan lama kandungan 15 bulan (sekitar itu). Sesuatu yang tidak wajar tapi memang benar-benar terjadi.

....Katakanlah : "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. “ (QS. Al-Fath:11).

Bayangkanlah seorang calon ibu mengandung selama itu

untuk pertama kalinya...

Bayangkanlah dia menjaga kandungannya selama itu

untuk pertama kalinya...

Tanyakanlah kepada wanita-wanita yang pernah hamil...

Tanyakanlah kepadanya apakah dia perlu kesabaran untuk hal itu...

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (QS. Luqman:31).

Wallahua'lam