Tentang Kopi

tips membuat wedang teh (tea) dan kopi (coffee)

kami berdua

walimatul 'ursy timur tengah

Cinta Suci

Ingin kukatakan arti cinta kepadamu, Dinda.

berawal dari taaruf

Sore senja jingga menupuk tangan Indah nampak elok menyebar cakrawala bumi yang luas

Arkan Dian Husnayan

Mujahid Kecil Kami

Showing posts with label muhasabah. Show all posts
Showing posts with label muhasabah. Show all posts

Wednesday, August 04, 2010

12 Langkah Agar Puasa Kita Sempurna




Agar puasa kita dapat sempurna ada beberapa tips yang mesti kita perhatikan. Sebuah tulisan dari Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Jarullah dalam buku beliau yang berjudul Risalah Ramadhan tentang langkah-langkah menggapai kesempurnaan ibadah puasa yang berisikan:

Makanlah sahur, sehingga membantu kekuatan fisikmu selama berpuasa. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

1) "Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah."
(HR. Bukhari dan muslim)

"Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang ". (HR. Ibnu Khuzaimah)

2) Akan lebih utama jika makan sahur itu diakhirkan waktunya, sehingga mengurangi rasa lapar dan haus. Hanya saja harus hati-hati untuk itu anda hendaknya telah berhenti dari makan dan minum beberapa menit sebelum terbit fajar, agar anda tidak ragu-ragu.

3) Segeralah berbuka jika matahari benar-benar telah tenggelam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

"Manusia ssenantiassa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur" (HR. Al Bukhari, Muslim dan At Tirmidzi)

4) Usahakan mandi dari hadats besar sebelum terbit fajar, agar bisa melakukan ibadah dalam keadaan suci.

5) Manfaatkan bulan ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan di dalamnya, yakni membaca Al Quran.

"Sesungguhnya Jibril alaihis salam selalu menemui Nabi shallallahu alaihi wa salllam untuk membacakan Al Quran baginya." (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu)

Dan pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ada teladan yang baik bagi kita.

6) Jagalah lisanmu dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta perkataan mengada-ada. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum." (HR. Al Bukhari)

7) Hendaknya puasa tidak membuatmu keluar dari kebiasaan. Misalnya cepat marah dan emosi hanya karena sebab yang sepele, dengan dalih bahwa engkau sedang puasa. Sebaliknya, mestinya puasa membuat jiwamu tenang, tidak emosional. Dan jika anda diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, ia jangan anda hadapi dengan perbuatan serupa. Nasehatilah dia dan tolaklah dengan cara yang lebih baik. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kamu berpuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa".(HR. Al Bukhari, Muslim dan para penulis kitab Sunan)

Ucapan itu dimaksudkan agar ia menahan diri dan tidak melayani orang yang mengumpatnya. Disamping, juga mengingatkan agar ia menolak melakukan penghinaan dan caci-maki.

8) Hendaknya anda selesai dari puasa dengan membawa takwa kepada Allah, takut dan bersyukur kepada-Nya, serta senantiasa istiqamah dalam agama-Nya. Hasil yang baik itu hendaknya mengiringi anda sepanjang tahun. Dan buah paling utama dari puasa adalah takwa, sebab Allah berfirman: "Agar kamu bertakwa"(Al-Baqarah: 183).

9) Jagalah dirimu dari berbagai syahwat (keinginan), bahkan meskipun halal bagimu. Hal itu agar tujuan puasa tercapai, dan mematahkan nafsu dari keinginan. Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu berkata:

"Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kamu berpuasa, jangan pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa".

10) Hendaknya makananmu dari yang halal. Jika kamu menahan diri dari yang haram pada selain bulan Ramadhan maka pada bulan Ramadhan lebih utama. Dan tidak ada gunanya engkau berpuasa dari yang halal, tetapi kamu berbuka dengan yang haram.

11) Perbanyaklah bersedekah dan berbuat kebajikan. Dan hendaknya kamu lebih baik dan lebih banyak berbuat kebajikan kepada keluargamu dibanding pada selain bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan ketika di bulan Ramadhan.

12) Ucapkanlah Bismillah ketika kamu berbuka seraya berdo'a:

"Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan atas rezki-Mu aku berbuka. Ya Allah terimalah daripadaku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"

Tuesday, February 24, 2009

Siang ini di Songgolangit


~fathimatulazizah~

Masa sekolah dulu, jam istirahat adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Meski sebentar, jeda waktu itu begitu menyenangkan. Pun masa di kampus dan di tempat kerja. Saya selalu merasa lega ketika ia hadir. Jeda yang tak lama adalah kesempatan untuk memompa energi dan mengembalikan semangat yang pupus oleh deraan jenuh.

Seperti kebiasaan yang telah berlaku satu tahun terakhir, siang ini, usai shalat dhuhur, saya menyempatkan diri untuk makan. Kali ini saya sendirian, hanya ditemani mujahid kecil yang masih dalam kandungan.

Saya menyengaja tidak naik motor meski langit terlihat begitu tak bersahabat. Saya ingin berjalan agak jauh karena sudah lama tidak pernah jalan-jalan pagi. Hitung-hitung riyadhoh-lah setelah setengah hari duduk di depan monitor. Saya ingin me-refresh isi kepala dengan hal-hal sederhana yang saya temui di sepanjang jalan raya Songgolangit.
Tujuan saya siang ini adalah warung sederhana yang menjual soto kwali yang murah meriah, menyesuaikan budget di tanggal tua. Lumayan jauh memang. Namun, tak apa. (Dulu) saya biasa menempuh jarak yang lebih jauh. Saya terbiasa jalan kaki dari depan kampus ke pesantren mahasiswa yang ada di belakang kampus.

Jarak warung yang hendak saya tuju tinggal beberapa meter. Tinggal menyebrang sudah sampai. Namun, entah mengapa akhirnya saya berhenti ketika tanpa sengaja melihat seorang ummahat yang sedang sibuk melayani pembeli tahu kupatnya. Saya pun memutuskan untuk makan siang di warungnya. Ini adalah kali kedua saya mengurungkan niat makan soto kwali, dan beralih ke tahu kupat. Entahlah, saya pun tak mengerti. Wajah dan penampilan sederhana ummahat itu telah membuat saya jatuh hati. Setidaknya, saya merasa lebih aman dengan makanan yang masuk ke perut. Insya Allah halal dan thoyyib.

Sambil menunggu tahu kupat dihidangkan, saya memperhatikan lagi ummahat itu. Gamis biru dongkernya dipadu dengan kerudung biru laut. Keduanya sudah mulai luntur. Saya memperkirakan usia pakaian yang dikenakannya itu sudah lebih dari sepuluh tahun. Saya membandingkan kerudung warisan bulik yang saya pakai sejak kelas satu SMU. Tidak sepudar itu warnanya. Padahal, saya memakainya lebih dari delapan tahun dan sebelumnya sudah dipakai bulik lebih dari satu tahun di masa kuliah. Ah, belum tentu dugaan saya tepat. Bisa jadi warna pakaiannya yang luntur itu karena sering dipakai dan dicuci. Ups..jadi ngelantur, nih.

Warung sudah sepi ketika tahu kupat yang saya pesan dihidangkan. Saya menikmatinya sambil sesekali melihat gerimis yang mulai berjatuhan. Dari seberang jalan, seorang laki-laki memesan minuman. Dengan segera ummahat itu membuat dan mengantarkannya ke seberang jalan. Kemudian, ia segera kembali untuk membuat pesanan laki-laki di seberang jalan selanjutnya.
“Lihatlah, bagaimana ia begitu menikmati pekerjaannya!” Saya jadi iri dibuatnya. Sungguh, saya menaruh hormat padanya. Saya takjub pada kegigihannya membantu suami dalam mencari nafkah. Gurat kelelahan memang terlihat pada wajahnya. Namun, ia tetap dengan cekatan melayani setiap pembeli di warungnya dengan sebentuk senyum sahaja. Ia adalah salah satu dari wanita tegar yang saya temui hari ini.

Saya jadi berfikir tentang masa depan. Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu suami dalam menopang perekonomian keluarga kelak, saat satu demi satu mujahid kami –anak- lahir dan berkembang? Apa yang bisa saya lakukan dua bulan lagi ketika mujahid kecil pertama kami lahir, sedang saya belum lulus kuliah? Apa yang bisa saya lakukan di rumah ketika dihadapkan pada kewajiban ibu yang harus menyusui dan mendidiknya, sedang di saat yang sama saya ingin membantu suami dan menyelesaikan studi?

Sungguh, saya yakin sepenuhnya bahwa Allah yang menjamin rezeki anak-anak kelak. Tinggal bagaimana kami menjemputnya dengan baik agar apa yang masuk ke perut mereka adalah makan yang halal dan thoyyib, agar apa yang mengalir dalam darah mereka membawa keberkahan.
“Mbak, mboten keseso, tho? (Mbak, tidak terburu-buru, kan?)” Ummahat itu meninggalkan saya sendirian di warungnya.

Saya kembali terhenyak ketika ummahat itu berlari-lari kecil ke toko alumunium yang tepat berhadapan dengan warungnya. Wanita setengah baya itu memasukkan barang-barang yang dijajakan di luar karena gerimis menjelma menjadi hujan. Rupanya siempunya toko tidak ada. Subhanallah, dengan senang hati ia membantu tetangganya.
“Lihatlah bagaimana ummahat itu dengan senang hati melakukannya!” Sungguh, lagi-lagi saya harus belajar darinya. Ya! Belajar menjadi sebaik-baik manusia, bermanfaat bagi yang lain.

Lalung Permai, 23 Februari 2009, 23:02
Ya Allah, bimbing saya menjadi wanita yang baik di setiap sisi kehidupan: sebagai anak, istri, dan ibu yang shalihah, serta pribadi yang memberi kontribusi bagi agama dan masyarakat!

Tuesday, December 30, 2008

Catatan Kecil Akhir Tahun

“Dan rengkuhlah cita, dan kayuhlah biduk… bukan karena apa-apa, tapi karena beginilah jalan menuju cinta-Nya. Barakallahulaka.. Rayakan cinta dalam taat… karena itu indah lebih indah dari purnama yang tersisa pagi ini. Dan bingkai iman menampakkan keanggunan tak terperi nan abadi… Ada peradaban yang menanti untuk kau dan dia warnai”

Sengaja saya tulis (kembali) SMS dari seorang kakak untuk s
eorang sahabat yang hari ini menggenapkan setengah diennya. Sebuah pernikahan yang dipersiapkan relatif cepat, lebih cepat dari yang saya duga. Ia mempersiapkan pernikahannya hanya dalam waktu satu minggu. Namun, sungguh meskipun demikian acara itu berjalan dengan cukup lancar. Di antara yang berkesan dari rangkaian acara pernikahannya adalah taushiyah yang disampaikan seorang ustadz. Taushiyah yang membekas, terkhusus untuk sepasang pengantin itu, sengaja disampaikan dengan diselingi guyonan segar. Salah satunya adalah sebuah ingatan bahwa hari pernikahan itu adalah hari terakhir di tahun 1429 H. Kalau rasulullah dan para shahabat hijrah dari Makkah ke Madinah, maka sahabat saya dan suaminya hijrah dari perawan dan jejaka menjadi seorang istri dan suami. Ah, saya jadi kepikiran banyak hal setelah mendengar taushiyah itu.

HIJRAH
Saya tercenung. Ya! Tahun baru hijriyah sungguh telah di depan mata. Menyadarkan saya betapa banyak sekali hal yang harus dievaluasi dan dita
ta kembali. Muhasabah akhir tahun bukanlah sebuah seremonial belaka. Dulu, menjelang tahun baru hijriyah masa sekolah selalu diisi dengan evaluasi diri. Setidaknya, saya dan teman-teman meluangkan waktu untuk melakukan muhasabah bersama. Di situlah air mata tumpah. Bukan sekedar menyesal dengan kealpaan di masa yang terlewati tapi juga sebuah kekhawatiran akan amal yang masih tak seberapa dan belum tentu diterima. Maka, isak tangis yang diiringi doa adalah perpaduan rasa raja’ (harap) dan khauf (cemas) akan masa depan yang masih berupa misteri.

Hijrah adalah membuka lembaran baru. Saya selalu memaknainya dengan konotasi positif. Menjadikan kesalahan dan kegagalan di masa yang telah terlampaui sebagai pelajaran untuk menjelang hari esok dengan lebih baik. Dan tentunya, juga mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi dan hal-hal positif yang telah kita miliki sebelumnya.

Muhasabah adalah mengevaluasi, menghitung-hitung apa yang telah kita lakukan. Salah satu shahabat mengajak kita untuk meluangkan waktu be
rmuhasabah, “Timbanglah kalian sebelum kalian ditimbang. Hitunglah/ hisablah diri kalian sebelum kalian dihitung.”

Mari bermuhasabah! Kita tidak tahu masih berapa lam
a waktu yang diberikan-Nya untuk mempersiapkan amal terbaik. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang panjang usianya dan buruk perilakunya? Maka, berubah menjadi lebih baik semoga menjadi pilihan. Sungguh, berubah menjadi baik itu (sungguh) menyenangkan. Semua, sepakat, ya? Ya! Sebelum segalanya terlambat.

Bersama kita sambut tahun baru hijriyah 1430 H dengan doa,
“Ya Allah jadikanlah sebaik-baik dari umurku adal
ah akhirnya, sebaik-baik pekerjaan/amalku adalah penutupannya, dan sebaik-baik hari-hariku adalah hari aku menghadap Engkau.”

Lalung Permai : 22:34
Teriring doa untuk Renita Tri Hesti & Danang Susilo dan Ratna Desita Listyarini & Imdad Durakhman, semoga pernikahan kalian barakah dan menjadi keluarga SAMARA..amin

**********************************
Ini PR dari BlogtoRik :
1. Dari Mana Blog Kalian Berasal??
Abiyasa dari Blog berasal dari www.blogger.com sebenarnya mau pindah ke diankresna tapi gak jadi..cos dah terlanjur terkenal di blog ini. hehehe
2. Kapan dilahirkannya blog kalian??

Blognya Abiyasa dilahirkan bulan Februari 2008 untuk tanggalnya lupa. Saat sedang sedih..
3. Kesulitan apa saja yang ada saat membuat blog kalian??
Membuat template sendiri dengan mengotak-atik edit HTML :)
4. Mengapa membahas topik yang kalian bahas sekarang??
Topiknya campur aduk lihat saja di tagnya :) dan kami memang mod-modtan :)
5. Kenapa tampilan blog kalian menggunakan template itu??
Sederhana saja dan menemukan di btemplete..kurang tahu juga ntar mungkin ganti lagi..hehe..

6. Apa yang pertama kalian lakukan saat blog kalian baru jadi??
Karenanya culunnya Abiyasa tanya temen caranya masang shoutmix dan bertanya-tanya mengapa ada tang dan obeng di blog
Abiyasa..hehehe..

maaf ya PR tidak saya lemparkan ke 10 orang :) maklum dah akhir tahun...:)

Sunday, November 23, 2008

HIDUP ITU … (Part 2)


“Hidup itu sawang-sinawang. Kita sering melihat kelebihan orang lain. Rumput tetangga pasti terlihat lebih ijo royo-royo. Karenanya, lebih baik kita melihat diri kita sendiri.”

Kali ini saya menyadur bahasa yang digunakan oleh seorang dosen muda yang kini kuliah di Austalia. Saya takjub, dengan kesederhanaannya dalam keseharian. Terlebih ketika mencoba memahami bagaimana beliau memandang kehidupan. Meski tidak dekat, saya banyak mendengar kisah beliau dari teman-teman kuliah. Sikapnya yang tidak neko-neko, apa adanya, ringan tangan, dan terbuka pada setiap orang menjadikan figur beliau begitu dihormati. Beliau punya kharisma yang memikat. Kharisma itu melekat dan semakin mempesona karena kesederhanaannya.

Malam ini, saya teringat kembali kata-kata yang pernah diucapkannya,
“Hidup itu sawang-sinawang. Kita sering melihat kelebihan orang lain. Rumput tetangga pasti terlihat lebih ijo royo-royo. Karenanya, lebih baik kita melihat diri kita sendiri.”

Kalau mau jujur terhadap diri sendiri, kita akan mengakui bahwa terkadang kita sering melihat kelebihan orang lain dan membandingkan dengan diri kita. Hal itu tentu sah-sah saja kita lakukan. Tidak ada yang salah. Ya! Tidak ada yang salah, asalkan kita melakukannya untuk memotivasi diri kita agar menjadi lebih baik. Bukan justru menjadikan kita minder dengan kelemahan kita.

Sungguh, sebagian besar dari kita seringkali tidak adil terhadap diri sendiri. Seringkali kita terkungkung dengan kelemahan yang kita miliki. Bahkan, ada yang terpuruk karena sebuah kegagalan yang dialami. Padahal, bukankah tidak ada yang salah dengan kegagalan selama kita bisa mengambil hikmah dan belajar agar tidak terulang kembali? Berapa banyak kesuksesan yang berawal dari kegagalan demi kegagalan?

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (Ar-Ra’ad : 11)

Sungguh (sangat) tidak arif ketika kita hanya melihat kesuksesan orang lain tanpa mau melihat prosesnya. Bukankah secara sunatullah, tidak akan ada hasil yang optimal tanpa diiringi usaha yang sungguh-sungguh? Tidak ada yang sia-sia dari kesungguhan yang kita bangun, meskipun hasil yang akan kita dapat tidak selalu seperti yang kita harapkan. Jika ikhtiar kita beriringan dengan tawakkal, maka kita tidak akan kecewa terhadap apapun hasil yang kita peroleh. Yang terpenting adalah berusaha, dan Allah-lah yang berhak memutuskan.

Ada kata-kata menarik yang dihadiahkan seorang adik via SMS,
“Ketika satu pintu tertutup, pintu kebahagiaan yang lain akan terbuka. Tetapi, seringnya kita hanya terpaku pada pintu tertutup, sehingga kita tidak melihat pintu lain yang dibukakan untuk kita.”

Jika kita (juga) sepakat bahwa hidup itu sawang-sinawang, ada baiknya terlebih dulu kita berkaca pada diri. Lihatlah, kita pun punya kelebihan di samping kelemahan. Oleh karena itu, jangan silau dengan kelebihan orang lain jika itu hanya membuat kita nelangsa. Namun, jadikanlah setiap kelebihan orang lain yang kita lihat dengan kacamata positif. Setidaknya, kita akan terpacu untuk berusaha memilikinya. Dan, bila ternyata tidak bisa, kita masih punya kelebihan yang tidak kalah memukau. Kelebihan yang menjadikan kita mulia sebagai hamba. Bukan kelebihan yang menerbitkan kesombongan, meskipun hanya dalam riak-riak hati kita.

Akhirnya, selamat menikmati hijaunya rumput tetangga…!

Lalung Permai, 22 November 2008 : 21:42
Dalam rangka memotivasi diri, harapan ’itu’ masih ada
: berfastabiqul khairat, yuk Bi!..ya Abiyasa.. Jangan lupa saling mengingatkan :)


Wednesday, November 19, 2008

SUNGGUH, INI ADALAH KASIH SAYANG ALLAH…


Kuterbujur di pembaringan
Tiada daya dalam dekapan
Merenungi dan menghayati karunia dari Ilahi
tentang arti kesehatan hakiki
*



Malam ini tak seperti biasa.
Saya terjaga dalam resah. Mencoba menenggelamkan diri pada tazkiyatun nafs, dan saya kembali menemukan begitu tiada berhingga kasih sayang Allah pada kami. Pun, kini, ketika Allah memberi karunia berupa sakit pada suami tercinta. Saya yakin bahwa ini adalah bentuk kasih sayang Allah.

“Dua kenikmatan yang manusia sering lalai terhadapnya adalah nikmat sehat dan waktu luang.”
Hadist yang telah begitu sering dibisikkan di telinga, mau tak mau menjadi pemantik untuk mengulang rasa syukur kepada-Nya. Ketika suami sakit, saya merasa Allah menampar kami dengan begitu lembut. Begitu lembut, hingga sakit itu menjelma menjadi kesempatan untuk menggugurkan sebagian dosa.

Ya! Bagaimanapun, akan tersingkap betapa banyak kealpaan kami selama ini. Apa saja yang telah kami lakukan dengan nikmat sehat yang telah diberikan sebelum ini? Kemaksiatan apa yang telah kami lakukan? Kesombongan apa yang telah hinggap dan menjadikan kami lalai? Akan terbukti pula seberapa sabar kami menghadapinya. Dan, betapa indahnya ketika kami bisa melewatinya dengan sabar.

Jika malam tlah tiba
cobalah keluar…
Hitung dan rasakan
bintang yang banyak itu bersinar di langit
Sebanyak itulah aku bersyukur telah mengenalmu saat ini..
I love u…
**


Lalung permai, 19 November 2008 : 23.02
Syafakallah, mujahid-Q
: semoga Allah menjadikan syukur dan sabar sebagai akhlaq kita.


*Petikan nasyid Suara Persaudaraan
** SMS seorang sahabat

Thursday, November 13, 2008

DI MASJID HATIKU TERKAIT

ADAKAH KAU LUPA?
Adakah kau lupa ... kita pernah berjaya
Adakah kau lupa... kita pernah berkuasa
Memayungi dua pertiga dunia...merentas benua melayar samudera
Keimanan juga ketaqwaan... rahsia mereka gapai kejayaan.. (AlarmMe)


Tono tertegun mendengar senandung dari winamp-nya. Adakah kau lupa? Entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa terusik dengan senandung itu. Ya. Semua berawal ketika secara tidak sengaja ia menghitung jama’ah Shalat Subuh tadi pagi. Ternyata jama’ah shalat di masjid dekat kosnya itu tidak jauh berbeda dengan masjid-masjid yang pernah ia temui di pelosok kota maupun desa-desa. Shaff yang hanya terdiri dari satu dua baris, yang kadang tidak penuh, menjadi pemandangan yang sangat biasa. Bila keadaan terus begini, bilakah kejayaan Islam akan kembali? Retoris, mahasiswa semester enam itu bertanya pada dirinya sendiri.

Ternyata Tono tidak sendirian. Di pinggiran kota tempatnya menuntut ilmu, Arif juga merasakan hal yang sama. Pemuda itu merasa masjid di lingkungan tempat tinggalnya semakin sepi. Hanya anak-anak TPA yang meramaikan masjid. Itu pun hanya sore hari. Selebihnya hampir-hampir ia tak menemukan geliat anak-anak muda di dalamnya.



Dua frgamen di atas hanyalah sebagian kecil dari fenomena yang kerap kita temui hampir di pelosok negeri. Sangat ironis memang. Negeri kita yang mayoritas penduduknya muslim –bahkan terbesar di dunia- belum banyak yang tersadar untuk menjadikan masjid sebagai sentra dari segala aktivitas ummat. Para pemuda yang diharapkan menjadi agent of change masih banyak yang terlelap dalam buaian kehidupan dunia. Menjadi tugas kita bersama –terlebih mahasiswa muslim- untuk segera bangkit, mengajak kembali para generasi muda untuk kembali akrab dengan masjid. Mengapa pemuda yang kita ajak? Mengapa harus kembali ke masjid?

Ustadz Badawi, usai kajian di sebuah kampus memberikan penjelasan kepada redaksi, bahwa ketika seseorang berstatus sebagai pemuda, sesungguhnya ia berada dalam fase-fase yang optimal atau momental untuk membentuk masa depan. Sehingga apabila mencapai usia empat puluh tahun ia telah siap untuk menerima beban selanjutnya. Rasulullah Saw. pun mengemban risalah kenabiannya pada usia empat puluh tahun.

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (Al-Ahqaaf:15)

Pencerahan terhadap pemahaman Islam secara komprehensif sangat diperlukan dalam menumbuhkan kesadaran dari masing-masing pribadi muslim untuk kembali kepada Islam secara kaffah, tanpa paksaan sedikit pun. Simbol-simbol kebaikan ada di masjid. Dari situlah kita mulai dan di situlah hendaknya kita –pemuda- kembali.


PEMUDA DAN MASJID

Ustadz Mahmud Mahfudz, dalam acara Malam Bina Ruhiyah (mabiru) di Masjid Nurul Huda UNS pada tanggal 20 Februari 2008, menyebutkan beberapa urgensi mengapa kita harus akrab dengan masjid. Salah satunya adalah pemuda yang hatinya terikat pada masjid akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Sebagaimana tertuang dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim,

Berkata Abu Hurairah ra. : bahwa Nabi saw telah bersabda: "Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Mereka adalah 1). pemimpin yang adil, 2). anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, 3). seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid, 4).dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, 5). seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: "Sungguh aku takut kepada Allah", 6).seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas di-sembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya, 7). dan seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata".

Kalimat “seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid” mempunyai dua pengertian. Yang pertama adalah seseorang yang kapan dan di manapun berada selalu ingin memakmurkan tempat ibadah. Yang kedua adalah seseorang yang tidak pernah melalaikan ibadah di tengah kesibukan apapun yang dijalaninya.


INILAH HAKEKAT MASJID, WAHAI PEMUDA !!

Tahukah Anda, kata masjid terulang sebanyak dua puluh delapan kali di dalam Al-Quran? Dari segi bahasa, kata tersebut terambil dari akar kata sajada-sujud, yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan takzim. Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syariat. Itulah sebabnya bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan shalat dinamakan masjid, yang artinya “tempat bersujud”.

Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat shalat kaum muslimin. Tetapi, karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakekat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas kepatuhan kepada ALLAH semata.
“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Q.S Al-Jin:18)


MARI MAKMURKAN MASJID…

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah: 18)

Dari ayat di atas terlihat jelas korelasi yang sangat erat antara keimanan dan kemakmuran masjid. Ciri utama orang yang memakmurkan masjid adalah orang yang beriman kepada ALLAH dan hari akhir.

Ketika berhijrah ke Madinah, pertama yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. adalah mendirikan sebuah masjid (Masjid Quba') untuk dijadikan tempat ibadah dan pusat kegiatan Islam. Menyusul kemudian Masjid Nabawi. Peristiwa tersebut mengisyaratkan betapa masjid merupakan sesuatu yang sangat penting sehingga Rasulullah Saw memberikan perhatian yang begitu besar. Pada masa itu masjid memiliki fungsi yang begitu besar. Selain sebagai sarana ibadah, masjid juga menjadi sarana tarbiyah (pendidikan), pembinaan ummat, pengikat ukhuwah, bahkan menjadi basis perjuangan ummat Islam.

Mengembalikan fungsi masjid sebagaimana mestinya –seperti masa Rasulullah Saw- adalah tugas kita bersama. Tidak mudah memang. Namun, setidaknya kita bisa berkontribusi dengan masing-masing potensi yang kita miliki. Bukankah ALLAH Swt menuntut setiap mukmin untuk memberikan kontribusi nyata dalam menegakkan dinul Islam? Dengan harta, ilmu, pemikiran dan tenaga yang kita miliki kita bisa turut berkontribusi. Tunggu apa lagi? Mari memulainya dengan memakmurkan masjid; menjadikannya sebagai sentra kegiatan ummat.

Dengan (terlebih dulu) Mempertautkan Hati Kita kepadanya…
Bagaimana mungkin kita bisa memakmurkan masjid, bila hati kita tak kunjung terikat dengannya? Ustadz Mahmud Mahfudz pernah menyampaikan beberapa kiat bagaimana kita mempertautkan hati dengan masjid, di antaranya:
1. Menyadari dampak positifnya
Orang yang hatinya terikat dengan masjid akan mendapatkan ketenangan jiwa, mendapat guyuran rahmat Allah, di kelilingi malaikat, dan disebut namanya dihadapan para malaikat Selain itu ia juga mampu melebur dosa, menggapai pahala, menambah ilmu pengetahuan, serta menguatkan persaudaraan dengan sesama muslim.
2. Melestarikan dzikir dan muraqobah baik di dalam masjid maupun di luar masjid
3. Mengikuti jejak langkah para salaf dalam mengakrabi masjid.
Kita bisa meneladani Abdullah bin Ummi Maktum yang tetap shalat berjamaah di masjid walaupun buta matanya dan tidak ada penuntun jalan baginya. Atau memotivasi diri dengan kisah Abu Hurairah yang mondok di masjid Nabawi sehingga hafal 5.374 hadits.


HINGGA CINTA MASJID BUKAN SEKEDAR KATA!

Kecintaan kita kepada masjid membuat hati kita terpaut kepadanya sejak kita keluar dari masjid hingga kembali lagi ke masjid. Dan ketika hati telah benar-benar terpaut, benih-benih cinta yang lain akan bersemi. Kita akan menjadi orang yang rela berkorban untuk masjid, tergerak untuk turut membersihkannya, rajin mendatanginya, menghormati dan tidak menyalahgunakan masjid. Masjid merupakan tempat yang harus kita cintai sebagaimana kita cinta pada rumah kita sendiri. Oleh karena itu, perhatian kita kepada masjid harus selalu kita tingkatkan dari waktu ke waktu agar masjid tidak lagi merana seperti yang sekarang banyak terjadi.

Wallahu’alam bishshawab. (fa, sumber ew & tyd)

dedicated 2 panitia renov masjid kampus eNHa tercinta

Tuesday, October 28, 2008

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928




Di sepanjang sejarah, pemuda senantiasa digambarkan sebagai generasi yang memiliki kekokohan fisik yang luar biasa dan semangat patriotik yang berkobar-kobar. Peranannya yang selalu mendominasi di berbagai peristiwa sejarah menjadikan generasi ini memiliki tempat (kedudukan) yang sangat istimewa sepanjang zaman.

Kita tahu semuanya bahwa tanggal 28 Oktober 1928 telah terikrar sumpah pemuda pada Konggres II.

Berikut isinya yang sebagian saya ringkas http://sumpahpemuda.org/

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda II yang diadakan di
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 1928.

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)

Jelas bahwa kongres pemuda ke II di mana diikrarkan Sumpah Pemuda bukan pekerjaan dalam sedikit waktu saja, dan terang juga bukan hasil usaha dari beberapa gelintir orang saja. Hal ini merupakan perjuangan panjang sejak Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908. Bahkan ada sebuah peristiwa lainnya yaitu ketika tahun 1904 Dr A,Rivai lulus ujian dokter sebagai Nederland Arts di Utrecht Belanda, pupus sudahlah anggapan jelek bahwa bangsa Indonesia itu “Laksheid”. Kata ini amat sakit didengar karena berarti pemalas, tidak punya kemauan bekerja atau berbuat sesuatu.


Sejarah kemudian membuktikan bahwa modal kejuangan diatas amat penting artinya pasca penjajahan Jepang (1942-1945), dimana api Revolusi Kemerdekaan mulai dinyalakan dengan kesadaran adanya kesatuan dan persatuan kebangsaan yang bermotifkan pantang untuk dijajah kembali oleh kekuatan asing apapun bentuknya. Peristiwa Rengasdengklok juga adalah sebagian peran pemuda-pemuda dalam mewujudkan puncak kejayaan Indonesia. Proklamasi Kemerdekaan mengawali "Revolusi Pemoeda", dan berakhir ketika penjajah terahir di Indonesia yaitu Imperium Belanda menyatakan pengakuannya pada Kemerdekaan Republik Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949. Tidak sampai 1 tahun kemudian, RIS bubar dan Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk kembali pada tanggal 17 Agustus 1950.


Tanggung Jawab Pemuda Hari Ini

Apakah dengan beralihnya masa, bertukarnya generasi maka berubah pula peran dan tanggung jawab pemuda hari ini?

Apakah pemuda hari ini dibiarkan begitu saja bersenda gurau, terbahak-bahak menikmati hidupnya tanpa diminta pertenggungjawaban sedikitpun?

Bagaimana tanggung jawab kita sebagai pemuda?.


Rujukan:
http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda
http://sejarahkita.blogspot.com
http://sumpahpemuda.org/

Wednesday, August 27, 2008

tafakur menjelang ramadhan...





bismillahirrahmanirrahim...


Saudaraku,
Kehidupan ini bagaikan roda zaman yang terus berputar. Hari ini begini, besok entah bagaimana. Bersyukurlah mereka yang dapat mengerti hakekat kehidupannya, memaknai setiap detik waktunya, dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada ini untuk meningkatkan kualitas diri, amal serta ibadahnya.

Saudaraku,
Kita pernah bersimpuh di hadapan-NYA menuyusun sujud pada debu-debu-NYA yang gelap. Kita sulam kata pinta, kita rangkai kalimat doa, memohon agar dalam hidup ini kita diberikan segalanya yang terbaik, berharap IA tunjukkan jalan yang lurus, istiqomah di tengah fitnah, sabar di tengah makar, dan ikhlas menghadapi hidup yang keras. Kemudian air mata kita pun mengalir membasahi malam, sunyi, sepi…

Saudaraku,
namun hari ini kita lupa lagi dengan sebait pinta yang meluncur deras dari lisan kita yang penuh dosa. Lupa akan arti kehidupan, lupa akan perjumpaan dengan-NYA, lupa dengan azzam yang sudah lama tertanam, lupa akan sesuatu di mana kelak taksebait pun doa, tak sejurus sujud pun ada artinya, tak ada arti setiap tangis yang meringis. Kita kembali lupa entah apa penyebabnya, tanyakannlah pada hati kita yang paling dalam, apa yang terjadi dalam diri kiota, padahal setiap tahun selama sebulan kita menjalankan latihan, selama sebulan kita sering berjanji bahwa kita akan benar-ar taat dan tunduk pada ALLAH, bahkan kepergian bulan latihan itu membuat kita benar-benar merasa kehilangan. Namun semuanya hanyalah janji palsu kita, kita kembali melupakan Rabb kita, bahkan beberapa hari saja berlalu dari bulan itu kita sudah tidak memiliki lagi ruhul jihadnya, ada pa dengan diri kita, saudaraku?

Saudaraku,
waktu terus berlalu, detik demi detik telah kita lewati, hari demi hari pun telah kita lalui. Tidak terasa bulan berganti, tahun pun bertukar, sebentar lagi bulan suci Ramadhan akan kembali tiba. Akankah bulan itu menjadikan kita kembali fitri ataukah bulan penuh rahmah itu lewat begitu saja tanpa kita dapat menikmati sedikit pun kemuliaannya. Ataukah bulan Ramadhan itu hanya sekedar meramaikan agenda malam kita, tanpa pernah sedikitpun mendapatkan perubahan dari setiap kedatangannya. Ataukah sebait janji palsu akan kembali kita ucapkan pada sang Rabbi, berjanji akan kita lakukan sebuah perubahan mendasar dalam hidup kita namun senatiasa janji itu kita pungkiri, begitu silih berganti, entah sampai kapan dusta ini kita akhiri.

Saudaraku,
setiap tahun datang Ramadhan, bulan yang di dalamnya turun Al-Quran, bulan yang di dalmnya kita wajib berpuasa, sholat sunnah tarawih, dan keistimewaan malam lailatul qadar, yaitu malam yang kebaikannya melebihi seribu bulan. Sungguh bulan ramadhan merupakan bulan yang penuh kemuliaan dan penuh keistimewaan. Dia dilebihkan atas bulan-bulan lainnya. Bulan Ramadhan adalah bulan jihad, bulan perjuangan untuk meningkatkan iman, dibutuhkan kesabaran dan keikhlasan menjalankannya.

Saudaraku,
ALLAH berfirman, “Bulan Ramdahna adalah bulan yang padanya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan menerangkan tentang petunjuk itu, serta pemisah antara yang haq dan yang batil.” (Q.S Al-Baqarah:185)

Saudaraku,
ayat ini menunjukkan kepada kita keistimewaan yang ada pada bulan ramadhan, yaitu pada bulan ramadhan itu Al-Qur’an diturunkan untuk memberi petunjuk pada kita tentang yang haq dan yang bathil sehingga menjadi petunjuk jalan bagi kita untuk mengarungi hidup ini. Jika Al-Qur’an tidak diturunkan tentu kita masih hidup dalam zaman yang penuh dengan kejahiliyahan. Pada bulan itu manusia diwajibkan berpuasa, menahan lapar dan dahaga, mengendalikan hawa nafsu serta melatih kesabaran. Puasa yang kita lakukan hanya diniatkan untuk ALLAH, tidak ada yang mengetahui ibadah kita kecuali diri kita sendiri dan ALLAH. Pada malam harinya kita melakukan shalat sunnah tarawih atau qiyamullail. Setelah itu pada sepuluh hari terakhir Ramadhan kita kan mendapati suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Tidak semua manusia yang bertemu dengan Ramadhan akan menjumpai malam kebaikan itu. Ramadhan sungguh suatu bulan yang sangat kita nanti-nantikan, jangan lewatkan keistimewaannya karena bisa jadi Ramadhan kali ini kita tidak berjumpa dengannya.

Saudaraku,
banyak manusia yang tidak dapat menikmati keistimewaan bulan penuh maghfirah tersebut. Kita sering tidak mengerti betapa bulan tersebut merupakan bulan yang dinanti-nantikan Rasul dan para sahabat dengan suka cita serta linangan air mata. Mereka selalu mempersiapkan ramadhan sehingga Ramadhan senantiasa memberikan arti dalam setiap kehidupan mereka. Ramadhan senantiasa dapat meningkatkan kualitas diri mereka. Bulan itu benar-benar mereka jadikan sebagai bulan latihan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada ALLAH SWT.

Saudaraku,
pernahkah kita merindukan datangnya Ramadhan, pernahkah kita berlinangan air mata ketika kita masih diberikan ksempatan mendapati Ramadhan, pernahkah kita merasakan betapa indahnya Ramadhan sehingga kita senantiasa merasa harap dan cemas ketika detik-detik menelang Ramadhan? Pernahkah kita meras kehilangan ketika ramadhan meninggalkan kita? Pernahkah, Saudarku?

Saudaraku,
akankah usia kita sampai pada Ramadhan kali ini, akankah kita dapat menjiwai maknanya. Akankah kita dapati malam yang lebih baik dari seribu bulan itu? Kita tidak pernah tahu kapan kita akan mengakhiri hidup ini, oleh karena itu tidak ada seorang pun yang akankah kita akan berjumpa dengan ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Saudaraku,
tidak ada yang bisa menjamin kita akan berjumpa dengan Ramadhan tahun ini. Tidak ada yang bisa menjamin kalau kita akan bertemu dengan Ramadhan kita akan mendapatkan kemenangan dengannya. Siapakah gerangan manusia yang beruntung bisa bertemu dengan Ramadhan dan ia mendapat kemenangan. Ia akan kembali fitri setelah sebulan menjalankan latihan. Latihan meningkatkan iman. Berlatih merasakan bagaimana jika kita setiap hari selama setahun tidak mendapatkan makan dan minum seperti sering dijumpai pada orang-orang miskin.

Saudaraku,
bulan Ramadhan adalah bulan istimewa sehingga kedatangannya selalu dirindukan. Kehadirannya selalu ditunggu dengan harap dan cemas. Berbahagialh mereka yang berjumpa dengan Ramadhan, beruntunglah mereka yang dapat memanfaatkan keistimewaan bulan Ramadhan tersebut untuk meningkatkan ibadahnya, ketaqwaannya dan melatih mengendalikan diri dari hawa nafsu yang pada bulan-bulan selain Ramadhan selalu membelenggunya.

Saudaraku,
kita harus mempersiapkan kedatangan bulan bahagia tersebut dengan suka cita dan harus kita sambut bulan barakah itu dengan segenap kemampuan yang kita miliki. Kita harus mempersiapkan segala yang ada pada diri kita, agar ketika kita memasukinya kita benar-benar dalam keadaan siap menjalankan segala amaliah di bulan itu.

Saudaraku,
jangan biarkan Ramadhan berlalu begitu saja!!! Untuk itu kita harus mempersiapkan segala perbekalan yang diperlukan. Ada beberapa bekal yang harus kita miliki, yaitu kita harus mempersiapakan ruhiyah, fisik yang kuat, ilmu dan kesiapan harta. Semoga kita termasuk orang yang beruntung dapat menjumpai Ramadhan dan mendapatkan kemuliaan dan kemenangan di bulan tersebut. Amiin.
Wallahu a’lam bish-showab.

(ana tulis kembali dari kertas yg diberikan seorang saudara beberapa tahun silam. Semoga bermanfaat!)

Mohon maaf atas salah dan khilaf kami selama ini. Marhaban yaa Ramadhan. Semoga Ramadhan kali ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya. Amin...

Tuesday, July 01, 2008

Pesan untuk Para (Calon) Suami

Bismillahirrahmanirrahim

ilaa:
• Akhuna Febra-Nikah 6 Juli 2008 (Yogya)
• Akhuna Doedy Hidayat-Nikah 6 Juli 2008 (UGM)
• Akhuna Wasono (UNDIP)
• Akhuna Tamrin Kurniawan (UNS)
• Akhuna Joko (UGM)


Bila ada surga di dunia itu adalah rumah tangga yang bahagia, rumah tangga yang penuh dengan rasa sakinah, mawaddah dan rahmah. Dan bila ada neraka di dunia itu adalah rumah tangga yang hancur, suami istri saling menyalahkan, curiga, tidak saling mencintai dan jauh dari rasa sakinah mawaddah dan rahmah.

Saya awali pesan ini dengan menggambarkan kedua hal di atas. Dengan menikah Anda tidak saja mendapatkan seorang istri, tetapi Anda mendapatkan seluruh dunia. Sebagaimana kita ingat Rasul bersabda bahwa sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri sholihah. Yang akan menjadikan rumah kita bak surga, baiti jannati. Sejak pernikahan ini, mulai saat ini sampai akhir hayat Anda insya Allah, istri Anda akan menjadi mitra, patner dan sabahat terbaik. Dengan dialah, Anda berbagi berbagai kejadian, melewatkan hari dan tahun bersama. Dengannya lah Anda berbagi suka, duka, impian, harapan dan juga kecemasan. Ketika Anda sakit, dialah yang akan merawat, ketika Anda memerlukan pertolongan dia akan mengupayakan semua yang dia bisa lakukan bagimu. Ketika Anda berbagi rahasia padanya, dia akan menjaga rahasia itu dengan amanah; ketika Anda perlu nasehat, dia akan memberikan nasehat yang terbaik. Dan dia akan selalu bersamamu.

Ketika terbangun di pagi hari, yang pertama mata Anda lihat adalah dia. Dia akan selalu bersamamu, dan jika pada suatu waktu dia tidak ada di sisimu, maka secara emosi dia ada bersamamu. Dia memikirkan, berdoa untuk kebaikanmu dengan sepenuh hati, dan Anda ada dalam pikiran, doa dan hatinya. Ketika Anda tidur di malam hari, terakhir yang Anda lihat adalah dia; dan ketika Anda bermimpi, anda akan melihatnya dalam mimpimu. Kamulah dunianya dan dialah duniamu.

***

Hubungan antara seorang suami istri merupakan hubungan yang sangat penuh dengan hal yang mengagumkan. Tidak mudah digambarkan dengan kata-kata, betapa rasa cinta, kasih sayang, keintiman, kedamaian serta kesejukan yang ada mengisi hati kedua pasangan manusia. Penjelasan rasional adalah bahwa semua inilah anugerah dari Allah, dan semua itulah kehendak Allah. Dengan semua kuasa dan kehendakNya, Dialah yang menciptakan dan membuat perasaan ini hadir di hati pasangan suami istri.

Allah mengingatkan kepada manusia yang mencari keberadaanNya bahwa salah satu tanda-tanda kekuasaanNya adalah Dia menjadikan rasa kasih dan sayang. Allah berfirman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir". (QS. 30:21)

Tetapi hati manusia bukanlah sesuatu yang statis, tetapi sangat dinamis. Perasaan dapat berubah setiap waktu. Dan cinta pun dapat terbang dan hilang. Ikatan pernikahan pun bisa menjadi lemah bila tidak dijaga dengan baik dan kebahagian di dalam rumah tangga pun tidak bisa dijamin akan berlangsung terus. Perlu usaha dari kedua belah pihak suami istri untuk saling menjaga keberlangsungan cinta dan kasih mereka. Ibarat sebuah pohon, tanahnya perlu dirawat, dijaga dan dipupuk.

***

Tuesday, June 03, 2008

Sebuah Permintaan Air Mata

Di kehidupan ini manusia tidak luput dari salah dan dosa. Hal yang sangat menyakitkan jika ada seseorang tersakiti hati oleh kita secara sengaja maupun tidak sengaja baik perkataan, sikap maupun tingkah laku.



Mohon maaf serta ikhlaskan jika ada salah dan khilaf dariku kepada saudara-saudariku yang tersakiti hatinya karena aku. Perkataan atau sms yang kurang berkenan. Kurang optimal atas amanah-amanah yang saya emban. Tak bisa balas sms ataupun balasan sms yang telat. Tidak menyempatkan silaturrahim ke rumah. Tak bisa atau tidak menyempatkan berkunjung atau komentar ke blog saudara/I atau tag/pr dari saudara/i. dan sebagainya yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Sebuah permintaan air mata dariku.

Hati ini tidak sebening kaca silica. Hentakan nafas carbonmonooksida saat berbicara denganmu. Hujan asam sulfide kepedihan yang aku curahkan. Racun hati uranium yang aku sebarkan. Hati alkali yang tidak stabil karena tetesan air matamu. Tergores tinta carbon di dalam hatimu berlandaskan aurum (emas). Selalu mengharap tetesan pipet maaf perlahan tapi pasti dan di dalam buret hatimu. Sambung platina eratkan silaturrahim, sekuat baja, seindah diamond dan semanis fruktosa. Berikatan hati dua sejoli halogen sebagai sahabat dan kebersamaan ikatan hidrogen. Sebuah permintaan air mata maaf kesejukan sebening molekul air embun kehidupan.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun (QS.2:263).

****



Thursday, May 15, 2008

IBRAH

Allah menyuruh Nabi Musa as mengikuti petunjuk-Nya, tersirat di dalamnya sebuah pesan abadi, pelajaran yang mahal dan kesan yang mendalam: “Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang teguh kepada perintah-perintahnya dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasiq”.(QS. Al-A’raaf (7):145)

Demikian juga perintah-Nya terhadap Yahya, dalam surat Maryam ayat 12: “Hudzil kitaab bi quwwah” (Ambil kitab ini dengan quwwah). Yahya juga diperintahkan oleh Allah untuk mengemban amanah-Nya dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan). Jiddiyah ini juga nampak pada diri Ulul Azmi (lima orang Nabi yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad yang dianggap memiliki azam terkuat).
Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi, semangat juang yang tak pernah pudar. Ajaran yang mereka bawa bertahan melebihi usia mereka. Boleh jadi usia para mujahid pembawa misi dakwah tersebut tidak panjang, tetapi cita-cita, semangat dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka.

Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita : “Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian”.

Hendaknya kita melihat bagaimana kisah kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Usia mereka hanya sekitar 60-an tahun. Satu rentang usia yang tidak terlalu panjang, namun sejarah mereka seakan tidak pernah habis-habisnya dikaji dari berbagai segi dan sudut pandang. Misalnya dari segi strategi militernya, dari visi kenegarawanannya, dari segi sosok kebapakannya dan lain sebagainya.

Seharusnyalah kisah-kisah tersebut menjadi ibrah bagi kita dan semakin meneguhkan hati kita. Seperti digambarkan dalam QS. 11:120, orang-orang yang beristiqomah di jalan Allah akan mendapatkan buah yang pasti berupa keteguhan hati. Bila kita tidak kunjung dapat menarik ibrah dan tidak semakin bertambah teguh, besar kemungkinannya ada yang salah dalam diri kita. Seringkali kurangnya jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dalam diri kita membuat kita mudah berkata hal-hal yang membatalkan keteladanan mereka atas diri kita. Misalnya: “Ah itu kan Nabi, kita bukan Nabi. Ah itu kan istri Nabi, kita kan bukan istri Nabi”. Padahal memang tanpa jiddiyah sulit bagi kita untuk menarik ibrah dari keteladanan para Nabi, Rasul dan pengikut-pengikutnya.

Wallahu a'lam bish showab...




Tuesday, April 22, 2008

Hasbunalloh wa ni’mal wakil


Manusia yang lemah dan terbatas ini mau tidak mau harus berhubungan dengan Kekuatan Maha Besar yang semestinya meminta pertolongan dariNya, ketika beban yang ditanggungnya melampaui kekuatan-kekuatannya yang terbatas, ketika merasa keberatan untuk menanggung beban, ketika jalan terasa begitu panjang sementara cita-citanya semakin menjauh dalam umurnya yang terbatas dan ketika langkah-langkah semakin berat untuk melangkah mencapai tujuan.

....."Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung". (QS. Ali ‘Imran:173).



Tatkala Nabi Ibrahim diletakkan di manjaniq, Jibril bertanya kepadanya. “Apakah engkau butuh kepadaku?” Ibrahim menjawab, “Kalau kepadmu (aku) tidak (butuh), tapi kalau kapada Alloh, ya”. Hasbunalloh wa ni’mal wakil, diucapkan oleh Ibrahim tatkala dilemparkan ke dalam api, sehingga api itu tiba-tiba menjadi dingin dan tidak menghancurkan Ibrahim.

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali ‘Imran:165)”. Hasbunalloh wa ni’mal wakil, diucapkan oleh Rasululloh s.a.w saat perang Uhud, kemudian Alloh pun menolong mereka.

Seorang itu akan selalu berada di antara sesat dan benar “..maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS. Asy Syams:8)”. Bahkan dalam satu waktu seorang bisa dalam keduanya. Ketika seorang hamba bersyukur, taat kepada Alloh dan membuatnya Ridho, maka Alloh akan menurunkan pertolongan-Nya. Sebaliknya jika seorang hamba menyekutukan-Nya, menentang-Nya dan mendurhakai-Nya maka Alloh akan murka dan membiarkan kita dalam kegelapan. “Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong. bagi mereka selain dari Allah (QS. Nuh:71)”.

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Alloh dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah:153)”. Oleh karena itu, setiap kali dalam kepayahan Rasululloh s.a.w senantiasa berseru, “Istirahatlah kami dengan shalat wahai Bilal!”. Dan beliau pun banyak-banyak mengerjakan shalat jika tengah menghadapi suatu masalah agar beliau semakin bertemu Alloh. Dari ‘Abudullah bin Mas’ud ra, ia menuturkan, “Aku menyaksikan Rasululloh s.a.w tengah menceritakan seorang nabi yang dipukuli kaumya hingga berdarah-darah, nabi itu membersihkan darahnya dari mukanyaa sembari berdoa, “Ya Alloh, ampunilah kaumku, sebab mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tatkala waktu berjalan lama dan keletihan sudah sampai puncaknya, adakalanya kesabaran pun melemah atau bahkan hilang sama sekali. Karena itu Alloh menambahkan shalat kepada kesabaran, sebab dialah penolong yang tidak pernah jenuh dan bekal yang tidak pernah habis. Sabar adalah penolong yang memperbaharui energi dan bekal yang menguatkan hati sehingga tali kesabaran pun semakin panjang dan tidak terputus. Kemudian menguatkan ridha, keceriaan, ketenangan, kepercayaan diri dan keyakinan.

Menyerahkan semua perkara kepada Alloh, bertawakal kepadaNya, percaya sepenuhnya terhadap janji-janjinya, ridha dengan apa yang dilakukanNya, berbaik sangka kepada-Nya, dan menunggu dengan sabar pertolonganNya merupakan buah keimanan yang paling agung dan sifat yang paling mulia dari seorang mukmin.

Wallahu a’lam bish showab...

Rujukan:

Al-Qarni, ‘Aidh, DR. 2005. Laa Tahzan-Jangan Bersedih. Cetakan kedelapanbelas. Qisthi Press: Jakarta Timur.

Quthb, Sayyid. 2007. Fikih Pergerakan-Aku Wariskan Untuk Kalian. Cetakan Pertama. Uswah: Yogyakarta.


Thursday, April 10, 2008

TIDAK SEKEDAR NAMA

Persaudaraan yang kuat di dalam komunitas atau jaringan akan terwujud manakala suatu individu-individu di dalam komunitas itu mengedepankan visi dan misi bersama dengan meninggalkan sebuah egoisme perorangan atau perkelompok. Suatu hal yang sangat mendasar dalam komunitas adalah suatu komunikasi karena dengan adanya interaksi-interaksi sosial maka secara otomatis rasa individualisme itu akan runtuh sendirinya. Ditambah dengan adanya variasi individu yang ada di dalamnya yang mempunyai berbagai macam potensi. Suatu harapan yang bagus tentunya karena akan melahirkan beberapa langkah-langkah strategis di dalam program-programnya dengan ditunjang dengan komponen-komponen yang lain (waktu, dana, SDM, dll).


Suatu awal yang berat tentunya adalah bagaimana membangun komunitas itu sendiri. Berawal dari satu orang mungkin atau dua orang atau tiga orang yang mempunyai satu pemahaman, satu konsep dan satu tujuan. Kemudian orang satu mengkomunikasikan dengan orang yang lain atau kelompok yang lain dan seterusnya sehingga menghasilkan suatu komunitas yang sudah matang (setengah matang). Sesuatu yang dikumpulkan dan diikat serta dipadukan maka ia akan menjadi sesuatu kekuatan yang baru dengan daya guna yang baru pula. Ambil contoh pasir atau batu, jika mereka berkumpul dipadukan dengan tentunya punya kekuatan dan manfaat tertentu yaitu dapat sebagai beton, tembok, pengeras jalan, gedung-gedung, taman yang indah, dsb. Jika egoisme masih tertanam dalam diri, jika masih berserakan, jika masih dalam kesendirian dan jika tidak ada komunikasi maka komunitas itu hanyalah sebuah nama, nama dan nama.

Komunitas itu tidak akan terjadi manakala pioner-pioner itu mengorbankan jiwa dan hartanya demi komunitas itu terbentuk dengan tujuan yang telah ditetapkan. Perjuangan yang berat bagi pioner-pioner itu mengepakkan dan melebarkan sayap untuk dapat merangkul tangan-tangan yang lain serta menjaga supaya kepakan itu tidak terlepas dan sayap-sayap tidak mudah patah. Dan faktor yang lain adalah kelanjutan dari didukungnya pioner oleh pihak yang dirangkul untuk mengorbankan jiwa dan hartanya serta menjaganya pula sehingga menjadi komunitas yang padu. Jika pihak-pihak yang di dalam komunitas tidak komitmen dalam menjadi menjaga kebersamaan maka komunitas itu hanyalah sebuah nama, nama dan nama.


Komunitas akan lebih hidup ketika langkah-langkah strategis untuk mencapai visi dan misi yang tertuang di dalam program-program telah disepakati dan ditetapkan. Perencanaan yang lebih matang sangat diperlukan guna untuk melangkah dengan pasti dan dapat produktif di dalam pelaksanaan kedepannya. Pelaksanaan yang efisien dan efektif sangat diharapkan guna untuk membantu visi dan misi itu terwujud. Peran leadership dalam mengambil keputusan dan manajemen kontrol oleh pihak yang terkait sangat membantu pelaksanaan tersebut. Suatu yang tidak mengapa jika pelaksanaan itu ada sedikit atau banyak kekurangan sehingga kekurangan itu dapat ditutup dan dihilangkan dengan mengambil hikmah yang baik itu. Jika pihak-pihak yang di dalam komunitas tidak komitmen dalam menjalankan faktor manajemen itu maka komunitas itu hanyalah sebuah nama, nama dan nama.


Komunitas tidak akan hancur ketika dihuni orang-orang yang selalu berkomitmen untuk selalu berjuang (militansi), beriltizam, sabar dan ikhlas serta orang-orang yang cerdas yang menutupi kekurangan dengan keuntungan bukanlah orang-orang yang bodoh yang malah melipatgandakan suatu permasalahan. Sebagai hikmah adalah ketika Rasulullah s.a.w diusir dari Makkah, beliau memutuskan untuk menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangun sebuah negara (tidak sekedar komunitas) yang sangat akrab di telinga dan di mata sejarah (Masyarakat Madani)...

wallahu a'lam.

***Rehat***

Dr. ‘Aidh Al-Qarni berkata di dalam buku Laa Tahzan:

"Ketika tertimpa musibah, Anda harus melihat sisi yang paling terang darinya. Ketika seseorang memberikan Anda segelas air lemon maka Anda perlu menambah sesendok gula ke dalamnya. Ketika mendapat hadiah dari ular maka ambil kulitnya yang mahal dan tinggalkanlah bagian tubuhnya yang lain. Ketika disengat kalajengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh Anda dari bahaya bisa ular. Kendalikan diri Anda dalam berbagai kesulitan yang Anda hadapi!. Dengan begitu, Anda akan dapat mempersembahkan bunga mawar dan melati yang harum. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu (QS.Al-Baqarah:216)."

Saturday, April 05, 2008

SEMUDAH ITU KAH??...TIDAK SEMUDAH ITU...

Untuk kesekian kalinya hal ini dirasakan. Begitu menyakitkan sekali jika hubungan silaturahim ini terputus, ya sangat menyakitkan sekali.

Hati ini seperti tersayat-teriris karena emosi yang terpendam serasa meledak-ledak disertai air mata tak tertahankan lagi yang masih membekas.

Semudahnya memutuskan hubungan silaturahim seperti memutuskan tali dengan pisau yang panas.
Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan*, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.(QS.13:21) (*) Yaitu mengadakan hubungan silaturahim dan tali persaudaraan.

Sabda Nabi Muhammad SAW di dalam riwayat Hadist Bukhari-Muslim: "Tidak akan masuk surga bagi orang-orang yang memutuskan silaturahim".

Saya yakin mereka melakukan ini untuk kebaikan. Karena tidak menyukai atas perbuatan dan tentunya mereka mencintai karenaNya. Hal yang tidak diterima dengan sepenuh hati tapi harus diterima dengan hati yang lapang. Tapi mengapa dengan jalan keluar seperti ini??. Padahal Alloh adalah Maha Pengampun hambaNya.


Tidak diberi kesempatan dan keadilan itu

Bolehkah menangis Ya Rabb?

Menangis akan ujianMu yang penuh warna

Menangis akan hikmahMu yang Agung

Ya Rabb basuhlah luka ini dengan kelembutanMu

Ya Rabb berikanlah kemudahan untuk menata hati yang hancur

Ya Rabb berikanlah yang terbaik untuk hambamu ini

Hasbunalloh wa ni’mal wakil...