Tentang Kopi

tips membuat wedang teh (tea) dan kopi (coffee)

kami berdua

walimatul 'ursy timur tengah

Cinta Suci

Ingin kukatakan arti cinta kepadamu, Dinda.

berawal dari taaruf

Sore senja jingga menupuk tangan Indah nampak elok menyebar cakrawala bumi yang luas

Arkan Dian Husnayan

Mujahid Kecil Kami

Thursday, July 02, 2009

BERAWAL DARI TA’ARUF (1)

Sore senja jingga menupuk tangan
Indah nampak elok menyebar cakrawala bumi yang luas
Melantunkan do’a kepadaMu
Sungguh bergetar hati sambil bersenandung


Bunyi SMS mengejutkan aku dengan keadaan duduk santai setelah dzikir sore itu. “Akh, akhwatnya minta ta’aruf besok hari Sabtu, antum bisa khan?.” Memang hari Selasa, sebelumnya kami saling menukar biodata. Secepat itu akhwatnya konfirmasi. Segera ku balas SMS itu dengan singkat, “InsyaAlloh bisa mas.Jzk.”

Gelisah menderu bagaikan ombak
Ombak yang bergulung-gulung tak menentu menghantam karang
Melantunkan do’a kepadaMu
Sungguh bergetar hati sambil bersenandung



Malam serasa malam yang tak menentu. Aku hanya bisa mondar-mandir tak menentu. Sunggu sesaat itu aku masing bingung. Tak terasa adzan maghrib memanggil atas namaNya. Astaghfirulloh!!.. Sesegera aku sholat dan selanjutnya tilawah.

Lantunan indah firmanMu
Begitu dalam mutiara-mutiara penamu
Melantunkan do’a kepadaMu
Sungguh bergetar hati sambil bersenandung



Sabtu, 14 Juni 2008

”Akh, tolong jemput saya di halte Jurug ya.” bunyi SMS satu hari yang lalu. Aku sudah menunggu tuk menjemput seorang al-akh. Tapi ini sudah jam 13.00, sesuai janji ta’arufnya. Huh, membuat gelisah saja nich. Akhirnya jam 13.10 bus yang dinanti-nanti itu datang juga. ”Akh sudah terlambat,” tegasku. ”Iya, bentar saya konfirmasi dulu pihak akhwat.” Alhamdulillah, batinku membuat hatiku lega. Segera ku tancap kuda Supra x 125 menuju tempat lokasi.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Terlihat motor Shogun hijau berplat AE. ”Mas, antum duluan yang masuk,” pintaku. Jantungku berdetak kencang. ”Mas, ada hijabnya gak ya,” tanyaku dengan lugu. ”Ya, gak ada. Emange rapat!” balasnya. Wehehe, aku hanya tersenyum aja. Huh, jantungku semakin berdetak kencang saja. Allahu Akbar!!

Akhirnya kita dipersilahkan masuk dan duduk. Tiba-tiba .... Akupun sudah menumpahkan air minumnya. Di mana sudah tersaji makanan dan minuman sebelumnya. ”Wah, lagi ngono wes grogi” celetuk al-akh. Wah, akupun malu bangetzz. ”Iyo, dian lagi ngono wis grogi” tambah mbak-nya. Wah, tambah malu kuadarat. Sebenarnya bukan grogi karena gelasnya memang gak keliatan..hehe...

Akhirnya jam 13.30 ta’aruf dimulai.. Bismillah...
(bersambung...)

*******
Satu tahun, saya ingat betul bahwa tanggal 14 Juni 2008 saat itu adalah peristiwa sejarah bagiku yaitu ta’aruf dengan seorang al-ukh (yang sekarang istri saya :D jadinya pasangan dari Timur Tengah). Hal yang menegangkan saya kira sewaktu ta’aruf tersebut. Dan biasanya para jomblo’er itu biasanya menanyakan hal-hal “itu lho” apa yang dibicarakan “itu lho” kepada saya. Hayo ngaku, sapa?..apa kata dunia?..hehe..

Solo, 140609


Friday, May 29, 2009

Arkan Dian Husnayan (2-End)


Waktunya berangkat ke persalinan. Namun ada yang tertinggak yaitu “jarik”. Karena “jarik” inilah saya agak gelisah. Masalahnya ibu mertua lama banget ngambil “jarik”nya. Masak ngambil jarik 3 jam. Masalahnya jam 05.00 itu sudah siap melahirkan dan “jarik”nya juga belum kunjung datang. Ditambah bidannya pergi ke rumah sakit untuk menolong pasiennya yang datang sehari sebelum kita. Dag…Dig…Dug… Dag…Dig…Dug…

Akhirnya jariknya datang juga jam 06.00 namun masih menunggu bu bidan. Menunggu dan menunggu, akhirnya bu bidan gak bisa hadir maka pembantu bidan yang mengekskusinya. Pembantu bidan itu ternyata adik kelas istriku waktu di SMA. Fathimatulazizah memang qowiy. Istriku menahan sakit hingga akhirnya melahirkan tanggal 13 April 2009 pukul 07.30 WIB. Alhamdulillah do’aku terkabul, persalinan dimudahkan olehNya, hanya 2-3 nafasan istriku dapat mengeluarkan Arkan Dian Hunayan. Air mata kebahagiaan dariku muncul juga. Arkan sangat lucu ketika diletakkan di dada istriku dengan rambutnya yang lebat dan tidak menangis ketika diletakkan di dada istriku. Sempatnya istriku meminta maaf kepadaku karena telapak tanganku digenggamnya sangat erat. Dalam hatiku ya Alloh, aku bergumam bahwa istriku yang sholehah, cantik dan baik hati. Engkau memberikanku bidadari biru itu. Seperti layaknya kupu-kupu yang mendapatkan madu mawar. (End)

Thursday, May 28, 2009

Mawar dan Kupu-kupu


Syair berbalas Abiyasa dan Fathimatulazizah >>>

Fathimatulazizah send SMS: "Bunga mawar itu melalui malam hari dengan kekhusyukan. Tidak menguncup setelah mekarnya meski diterpa angin dinginnya malam. Mawar itu telah mekar bukan hanya sejak hari kemaren dan akan senantiasa indah di kala malam, pagi dan sepanjang hari. Sekuntum mawar itu semakin elok. Tumbuh subur, mekar dan basah oleh embun pagi.Tersenyum tegar menatap cahaya mentari."

Abiyasa send SMS: "Kupu-kupu membentang dan mengayun indah bersama mawar elok nan menawan yang sejak saat itu selalu bersama menggapai cita-cita. Isapan manis dari kupu-kupu tuk mawar ceria di pagi hari yang penuh beningnya embun. Cerita cita cintaNya terukir madu menghasilkan panji-panji semangat juang menjulang tinggi. Penuh harapan tuk masa depan."

Friday, May 22, 2009

Arkan Dian Husnayan


Jam menunjukkan 22.00 WIB. Mataku hampir saja tertutup namun terbuka kembali karena istri kandungannya agak sakit. Ternyata setelah itu tidak merasakan sakit lagi. Ya, saya juga berpikir akan baik-baik saja. Pikirku ini tanggal 12 April, padahal HPLnya tanggal 20 April. Aku sempat terlintas dalam pikiran, apa mau melahirkan ya. Kemungkinan juga ya atau tidak. Bisa aja maju atau mundur kelahirannya. Akupun terlelap tidur bersama istriku.

Istriku merintih kesakitan, akupun terbangun dengan mata seperti lampu 5 watt. Akupun melihat kandungannya. Aku berpikir dan mengatakan dalam hati bahwa tidak biasanya bentuk kandungannya seperti ini. Yang paling mengejutkan yaitu jam menunjukkan pukul 02.30 WIB dini hari. Aku bingung apa yang harus saya lakukan. Mau bangunkan ibu mertua ya agak pakewuh banget. Kemudian saya tanya ke pada istriku apa yang dirasakannya. Ternyata rasanya seperti buang air besar. Pikirku ini mungkin ciri-cirinya mau melahirkan. Aku tanyakan kepada istriku tapi istriku tidak menjawab saking sakitnya rasa itu.

Akupun tambah bingung. Akupun membangunkan ibu mertua dengan mengetuk pintu tapi hasilnya nihil, ibu mertua tidak bangun. Akhirnya aku punya ide, aku telpon ibu saya sendiri. Mudah-mudahan saja Hpnya aktif kalaupun tidak aktif aku bisa telpon rumah. Akhirnya aku telpon HP beliau, dan alhamdulillah tersambung. Tapi belum juga diangkat-angkat, maklum juga pukul menunjukkan 02.45 WIB. Kucoba lagi, akhirnya diangkat. Akupun bicara sama ibu agak lama. Ternyata benar itu ciri-ciri melahirkan (payah ni saya ya). Ibu berkata bahwa itu masih lama dan tidak perlu tergesa-gesa. Alhamdulillah aku dapat jawaban yang pasti.Tapi aku berpikir lagi. Khan rasa sakit itu dari jam 22.00 tadi. Istriku masih kesakitan dan mau ke belakang sambil menahan rasa sakit itu. Lalu istriku membuka pintu kamar ibu mertua untuk membangunkan. Ibu mertua ternyata lupa ciri-ciri orang melahirkan juga, akhirnya Ibu mertua menelepon budhe. Ternyata dugaan benar, mau melahirkan. Akhirnya ibu mertua menelepon tempat sewa mobil dan sopirnya.

Terus terang kita belum mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa. Ibu mertua yang akhirnya menyiapkan perlengkapannya. Istriku masih merasakan kesakitan itu dan berbaring sejenak. Sambil menunggu perlengkapan dan mobil, akupun mengambil air wudhu untuk qiyamullail hanya 2 raka’at dan 3 sholat witir. Dan kemudian akupun berdo’a kepadaMu:

Ya Alloh..permudahkanlah proses persalinannya Ya Alloh... Ya Alloh berikan kekuatan, ketabahan, dan kesabaran kepada istriku...Selamatkan istriku dan putraku Ya Alloh karena semua terjadi ini atas kehendakMu..Ya Alloh...kabulkanlah do’aku ini..amin..

Waktu mengucapkan amin hampir bersamaan aku dipanggilnya sama ibu mertua untuk segera berangkat. Menurutku, do’aku itu sangat singkat dengan waktu yang sangat terbatas. (bersambung....)

Thursday, April 02, 2009

Bidadari Biru (I’m single I’m not very happy)


Laksana mutiara cinta-Nya
Mata indah bulu lentik hitam
Tersenyum penuh bahagia
Pipi merah merona menebar pesona

Biru selendang cinta bersandar
Tertutup indah dan menawan selembut awan
Air mata embun menetes
Sejuk...
Damai...
Indah....
Menawan...

Ingin bersama bidadari biru di taman dan telaga cinta-Nya
Sungguh ada kerinduan menatap dan membelainya

Solo, 020409
Abiyasa di Solo – Fathimatulaizah di Ngawi



Monday, March 23, 2009

Pemilih Golput ?


oleh Dr. Dharsono, MSn-Abiyasa Father)


Sejumlah pemilih yang tidak akan menggunakan hak suaranya atau dikenal dengan istilah golongan putih (golput) untuk Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 akan tetap tinggi (Antara News 2008). Berberapa prediksi dari berbagai informasi publik dan diprediksikan angka golput akan melampau angka 40% dengan berbagai berbagai alasan penyebab tingginya angka golput. Kaum muda sering dicap dan sering diidentikkan dengan golput. Anggapan sementara boleh saja dianggap wajar, mengingat memang kaum muda yang lebih sering menyuarakan sikap skeptis terhadap pemilu. bahkan apatis mereka bergulir ketika tolok ukur efektifitas pemilu merupakan instrumen demokrasi Para politisi sendiri, kerap melihat kaum muda sebagai sumbernya swing voters, potensi suara yang dianggap longgar terhadap kesetiaan idiologi politiknya.

Yang lebih memprihatinkan adalah kecenderungan eskalasi fenomena kekerasan di kalangan kaum muda lebih mencolok. Luapan emosional kaum pemuda sebagai ketidakercayaan atas proses dan mekanisme politik yang ada, dan ketika kaum muda merasa tidak menemukan saluran yang ideal untuk berbagai persoalan yang dirasakan di sekelilingnya.

Sayangnya kepentingan-kepentingan politik, lebih sering dikelola sebagai hidden agenda yang diselesaikan secara di bawah tangan. Pemilu sebagai sebuah peristiwa transaksi kepentingan politik belum bisa dielaborasi secara maksimal. Sering kali pemilu hanya menjadi ajang transaksi kepentingan dukungan suara bagi aktor politik di satu sisi, itu yang menyedihkan karena suara mereka bukan lagi suara hati nurani, melainkan hanya selembar uang kertas.

Sayangnya, partai politik yang memiliki kewajiban untuk melakukan pendidikan pemilih sebagaimana diatur dalam UU No 2 tentang partai politik, belum mampu menjalankan kewajiban tersebut dengan sepenuh hati. Partai politik cenderung hanya menjadikan masyarakat sebagai obyek kampanye untuk mendulang suara tanpa memberikan pendidikan politik yang memadai kepada masyarakat. Akibatnya, masyarakat hanya memahami pemilu sebagai ajang pemilihan anggota legislatif atau eksekutif. Tanpa memahami hakikat pemilu sebagai perwujudan kedaulatan rakyat yang akan menentukan kemana bangsa ini akan menuju.

Thursday, March 19, 2009

Pemilu Bukan Sekedar Pesta Demokrasi


(oleh Dr. Dharsono, MSn-Abiyasa's Father)

Pemilu seyogyanya tidak dimaknai sekedar pesta demokrasi. Pemilu akan banyak menghabiskan sumberdaya dan menguras energi bangsa. Pemilu pada dasarnya merupakan sebuah peristiwa kritis, sebuah langkah yang cukup menentukan, ketika negara dan bangsa menyerahkan sepenuhnya kepada rakyat atas kuasanya kepada representasi yang dipandangnya sebagai amanah, karena suara rakyat adalah suara Tuhan (artinya tidak terbeli oleh uang). Sehingga akan sangat disayangkan, ketika tingkat partisipasi pada sebuah pemilu berada pada titik yang tidak signifikan. Karena tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu, secara logis menjadi salah satu indikator legitimasi pemerintahan yang akan datang.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa tingkat partisipasi masyarakat secara kuantitatif menjadi proksi yang masuk akal untuk mengukur tingkat keberhasilan penyelenggaraan pemilu. Tingkat partisipasi secara kualitatif sebenarnya merupakan indikator yang lebih esensial untuk sebuah pemilu yang efektif. Ketika fenomena pemilihan banyak pemilih yang menentukan pilihannya secara asal pilih, maka akibatnya dapat menjadi lebih terpuruk dibanding rendahnya partisipasi masyarakat. Inisiatif untuk memastikan tingginya tingkat partisipatif sebaiknya diimbangi dengan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas partisipasi publik.

Tuesday, February 24, 2009

Siang ini di Songgolangit


~fathimatulazizah~

Masa sekolah dulu, jam istirahat adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Meski sebentar, jeda waktu itu begitu menyenangkan. Pun masa di kampus dan di tempat kerja. Saya selalu merasa lega ketika ia hadir. Jeda yang tak lama adalah kesempatan untuk memompa energi dan mengembalikan semangat yang pupus oleh deraan jenuh.

Seperti kebiasaan yang telah berlaku satu tahun terakhir, siang ini, usai shalat dhuhur, saya menyempatkan diri untuk makan. Kali ini saya sendirian, hanya ditemani mujahid kecil yang masih dalam kandungan.

Saya menyengaja tidak naik motor meski langit terlihat begitu tak bersahabat. Saya ingin berjalan agak jauh karena sudah lama tidak pernah jalan-jalan pagi. Hitung-hitung riyadhoh-lah setelah setengah hari duduk di depan monitor. Saya ingin me-refresh isi kepala dengan hal-hal sederhana yang saya temui di sepanjang jalan raya Songgolangit.
Tujuan saya siang ini adalah warung sederhana yang menjual soto kwali yang murah meriah, menyesuaikan budget di tanggal tua. Lumayan jauh memang. Namun, tak apa. (Dulu) saya biasa menempuh jarak yang lebih jauh. Saya terbiasa jalan kaki dari depan kampus ke pesantren mahasiswa yang ada di belakang kampus.

Jarak warung yang hendak saya tuju tinggal beberapa meter. Tinggal menyebrang sudah sampai. Namun, entah mengapa akhirnya saya berhenti ketika tanpa sengaja melihat seorang ummahat yang sedang sibuk melayani pembeli tahu kupatnya. Saya pun memutuskan untuk makan siang di warungnya. Ini adalah kali kedua saya mengurungkan niat makan soto kwali, dan beralih ke tahu kupat. Entahlah, saya pun tak mengerti. Wajah dan penampilan sederhana ummahat itu telah membuat saya jatuh hati. Setidaknya, saya merasa lebih aman dengan makanan yang masuk ke perut. Insya Allah halal dan thoyyib.

Sambil menunggu tahu kupat dihidangkan, saya memperhatikan lagi ummahat itu. Gamis biru dongkernya dipadu dengan kerudung biru laut. Keduanya sudah mulai luntur. Saya memperkirakan usia pakaian yang dikenakannya itu sudah lebih dari sepuluh tahun. Saya membandingkan kerudung warisan bulik yang saya pakai sejak kelas satu SMU. Tidak sepudar itu warnanya. Padahal, saya memakainya lebih dari delapan tahun dan sebelumnya sudah dipakai bulik lebih dari satu tahun di masa kuliah. Ah, belum tentu dugaan saya tepat. Bisa jadi warna pakaiannya yang luntur itu karena sering dipakai dan dicuci. Ups..jadi ngelantur, nih.

Warung sudah sepi ketika tahu kupat yang saya pesan dihidangkan. Saya menikmatinya sambil sesekali melihat gerimis yang mulai berjatuhan. Dari seberang jalan, seorang laki-laki memesan minuman. Dengan segera ummahat itu membuat dan mengantarkannya ke seberang jalan. Kemudian, ia segera kembali untuk membuat pesanan laki-laki di seberang jalan selanjutnya.
“Lihatlah, bagaimana ia begitu menikmati pekerjaannya!” Saya jadi iri dibuatnya. Sungguh, saya menaruh hormat padanya. Saya takjub pada kegigihannya membantu suami dalam mencari nafkah. Gurat kelelahan memang terlihat pada wajahnya. Namun, ia tetap dengan cekatan melayani setiap pembeli di warungnya dengan sebentuk senyum sahaja. Ia adalah salah satu dari wanita tegar yang saya temui hari ini.

Saya jadi berfikir tentang masa depan. Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu suami dalam menopang perekonomian keluarga kelak, saat satu demi satu mujahid kami –anak- lahir dan berkembang? Apa yang bisa saya lakukan dua bulan lagi ketika mujahid kecil pertama kami lahir, sedang saya belum lulus kuliah? Apa yang bisa saya lakukan di rumah ketika dihadapkan pada kewajiban ibu yang harus menyusui dan mendidiknya, sedang di saat yang sama saya ingin membantu suami dan menyelesaikan studi?

Sungguh, saya yakin sepenuhnya bahwa Allah yang menjamin rezeki anak-anak kelak. Tinggal bagaimana kami menjemputnya dengan baik agar apa yang masuk ke perut mereka adalah makan yang halal dan thoyyib, agar apa yang mengalir dalam darah mereka membawa keberkahan.
“Mbak, mboten keseso, tho? (Mbak, tidak terburu-buru, kan?)” Ummahat itu meninggalkan saya sendirian di warungnya.

Saya kembali terhenyak ketika ummahat itu berlari-lari kecil ke toko alumunium yang tepat berhadapan dengan warungnya. Wanita setengah baya itu memasukkan barang-barang yang dijajakan di luar karena gerimis menjelma menjadi hujan. Rupanya siempunya toko tidak ada. Subhanallah, dengan senang hati ia membantu tetangganya.
“Lihatlah bagaimana ummahat itu dengan senang hati melakukannya!” Sungguh, lagi-lagi saya harus belajar darinya. Ya! Belajar menjadi sebaik-baik manusia, bermanfaat bagi yang lain.

Lalung Permai, 23 Februari 2009, 23:02
Ya Allah, bimbing saya menjadi wanita yang baik di setiap sisi kehidupan: sebagai anak, istri, dan ibu yang shalihah, serta pribadi yang memberi kontribusi bagi agama dan masyarakat!

Monday, February 09, 2009

Santi Widyarini, Where are you?-SAHABAT YANG DICARI


Saya merasa beruntung mempunyai banyak sahabat yang mau mengingatkan. Setiap kali mendapatkan taushiyah dari seorang sahabat, saya merasa mempunyai kekuatan yang lebih untuk menghadapi permasalahan yang kadang terasa berat. Di sinilah barangkali saya mendapatkan obat dari segala macam penyakit hati.

Persahabatan –bagaimana pun bentuknya– membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan. Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita betapa bi’ah (lingkungan) membawa pengaruh terhadap sifat dan karakter seseorang.

“Seorang yang bergaul dengan orang shalih seperti orang yang membawa minyak kesturi. Jika dipergunakannya ia mendapatkan faedah. Jika dijualnya ia mendapat untung. Jika hanya disimpannya ia akan menikmati bau wanginya. Demikian juga orang yang bergaul dengan orang-orang jahat, seperti orang meniup tungku arang. Apa yang diperolehnya tidak lebih dari bunga api, yang akan melekat di pakaiannya dan membakarnya. Asap yang keluar dari tungku itu pun akan memusingkan kepalanya. Oleh karena itu, manusia hendaklah berhati-hati, carilah sahabat yang dapat kau jadikan obat, memilih bergaul dengan orang baik. “ (H.R Muslim).

Taken From : Sedetik di mata Selamanya di Jiwa (fathimatulazizah)

NB:
Bagi sahabat Abiyasa di bawah ini, please posting tentang Santi Widyarini juga, pasang banner di postingan dan di blog sidebarmu ya serta sebarkan ke teman yang lain..OK




Wednesday, February 04, 2009

Aku mencintainya karenaMu

Sekian kalinya aku memotivasi istriku untuk maju dan semangat. Senangnya aku bisa memotivasi dirinya. Semangat ya !!! dan ber-metamorphoria-lah karena harapan itu terus ada. Demi mujahid kecil kami; wujudkan harapanmu, harapanku, harapan Bundamu, harapan keluarga besar ini dan harapan orang-orang yang ada disekitarmu. Terkadang aku tidak bisa memotivasimu maka tersimpuhlah dan kuserahkan kepadaMu, Ya Alloh ... Aku mencintainya karenaMu..

Saturday, January 10, 2009

Mujahid Kecil Kami

“ Eh, ’Ammah yang satunya...” seru Nafis, salah satu putra Ustadz -pimpinan saya di kantor- dengan senyum penuh. Pandangan matanya mengarah ke saya.
“Ayo, ‘ammah siapa?” kejar Mbak Rina, patner saya, dari mejanya.
“’Ammah Rina..,” masih dengan senyumnya, bocah laki-laki itu mencoba menebak.
“’Ammah Betty…” Mbak Rina mengingatkan nama saya padanya.
“’Ammah Betty…” akhirnya ia menyapa saya dengan malu-malu, kemudian menjabat dan mencium tangan saya.
“Sudah nggak sakit lagi?” Tanyanya setengah berbisik.
Saya hanya tersenyum. Rupanya dua bulan terakhir ini ketidakadaan saya di kantor diketahuinya karena sakit. Ya, mungkin itu memang penjelasan yang mudah diterimanya. Dua bulan yang lalu saya izin untuk tidak masuk kantor karena kondisi fisik yang memang harus dijaga. Secara umum, kondisi kehamilan saya baik. Hanya saja untuk melintasi tiga kota (pulang pergi) dalam sehari –Karanganyar-Solo-Sukoharjo- rasa-rasanya saya mulai kewalahan. Setelah mempertimbangkan saran orang-orang terdekat, terkhusus suami dan mbak, akhirnya saya minta izin untuk tidak ngantor selama dua bulan.

Kasihan, Dedek kalo’ tiap hari diajak motor-motoran terus. Jadi tunggu sampai usia kehamilan sampai pada trimester kedua. Dan, mumpung dedek belum lahir, konsentrasi ngerjain skripsi selagi cuti. (Itu pertimbangan yang lain meskipun pada kenyataannya masa cuti dua bulan di rumah ada progress yang berarti terhadap tugas akhir saya di kampus. Astaghfirullah…)
Tak terasa usia kehamilan sudah melewati trimester pertama. Rasa mual, muntah, dan pusing sudah berangsur-angsur berkurang meski saya masih merasa gampang lelah dan tidak selincah masa lajang. Alhamdulillah, kondisi saya dan mujahid kecil kami sehat. Dokter mengatakan bahwa janin saya di kandungan baik-baik saja.

“O, ini sudah mulai kelihatan jenis kelaminnya. Ingin tahu atau biar jadi surprise saja?”
Pada bulan kelima, dokter memberitahukan prediksi jenis kelamin permata hati pertama kami. Rasanya campur aduk. Apalagi ketika menyadari gerakannya di dalam kandungan yang semakin terasa. Saya jadi semakin terkesima “Mujahid kecilku benar-benar ada.”
Subhanallah. Ia pun merespon dengan tendangan ketika diajak bicara abinya.
“Assalamu’alaykum… Dede’, ini Abi..”
Maka, sepanjang hari saya pun sering mengajaknya bercakap-cakap. Di sepanjang jalan ke kantor pun demikian. Saat harus menerobos hujan saya katakan, “Maafkan Ummi, Nak. Kita terpaksa hujan-hujanan. Kau baik-baik saja, bukan?”

Kini saya pun tak boleh egois. Tidak boleh asal merasa nyaman dengan setiap aktivitas. Sebab, ada (calon) mujahid kecil yang harus dijaga. Sungguh sebuah amanah yang luar biasa. Doakan, ya semua berjalan lancar hingga ia lahir kedunia!

7 Januari 2008:23:35
Bersabarlah sayang, Ummi dan Abi akan menjagamu.

Tuesday, December 30, 2008

Catatan Kecil Akhir Tahun

“Dan rengkuhlah cita, dan kayuhlah biduk… bukan karena apa-apa, tapi karena beginilah jalan menuju cinta-Nya. Barakallahulaka.. Rayakan cinta dalam taat… karena itu indah lebih indah dari purnama yang tersisa pagi ini. Dan bingkai iman menampakkan keanggunan tak terperi nan abadi… Ada peradaban yang menanti untuk kau dan dia warnai”

Sengaja saya tulis (kembali) SMS dari seorang kakak untuk s
eorang sahabat yang hari ini menggenapkan setengah diennya. Sebuah pernikahan yang dipersiapkan relatif cepat, lebih cepat dari yang saya duga. Ia mempersiapkan pernikahannya hanya dalam waktu satu minggu. Namun, sungguh meskipun demikian acara itu berjalan dengan cukup lancar. Di antara yang berkesan dari rangkaian acara pernikahannya adalah taushiyah yang disampaikan seorang ustadz. Taushiyah yang membekas, terkhusus untuk sepasang pengantin itu, sengaja disampaikan dengan diselingi guyonan segar. Salah satunya adalah sebuah ingatan bahwa hari pernikahan itu adalah hari terakhir di tahun 1429 H. Kalau rasulullah dan para shahabat hijrah dari Makkah ke Madinah, maka sahabat saya dan suaminya hijrah dari perawan dan jejaka menjadi seorang istri dan suami. Ah, saya jadi kepikiran banyak hal setelah mendengar taushiyah itu.

HIJRAH
Saya tercenung. Ya! Tahun baru hijriyah sungguh telah di depan mata. Menyadarkan saya betapa banyak sekali hal yang harus dievaluasi dan dita
ta kembali. Muhasabah akhir tahun bukanlah sebuah seremonial belaka. Dulu, menjelang tahun baru hijriyah masa sekolah selalu diisi dengan evaluasi diri. Setidaknya, saya dan teman-teman meluangkan waktu untuk melakukan muhasabah bersama. Di situlah air mata tumpah. Bukan sekedar menyesal dengan kealpaan di masa yang terlewati tapi juga sebuah kekhawatiran akan amal yang masih tak seberapa dan belum tentu diterima. Maka, isak tangis yang diiringi doa adalah perpaduan rasa raja’ (harap) dan khauf (cemas) akan masa depan yang masih berupa misteri.

Hijrah adalah membuka lembaran baru. Saya selalu memaknainya dengan konotasi positif. Menjadikan kesalahan dan kegagalan di masa yang telah terlampaui sebagai pelajaran untuk menjelang hari esok dengan lebih baik. Dan tentunya, juga mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi dan hal-hal positif yang telah kita miliki sebelumnya.

Muhasabah adalah mengevaluasi, menghitung-hitung apa yang telah kita lakukan. Salah satu shahabat mengajak kita untuk meluangkan waktu be
rmuhasabah, “Timbanglah kalian sebelum kalian ditimbang. Hitunglah/ hisablah diri kalian sebelum kalian dihitung.

Mari bermuhasabah! Kita tidak tahu masih berapa lam
a waktu yang diberikan-Nya untuk mempersiapkan amal terbaik. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang panjang usianya dan baik amalnya, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang panjang usianya dan buruk perilakunya? Maka, berubah menjadi lebih baik semoga menjadi pilihan. Sungguh, berubah menjadi baik itu (sungguh) menyenangkan. Semua, sepakat, ya? Ya! Sebelum segalanya terlambat.

Bersama kita sambut tahun baru hijriyah 1430 H dengan doa,
Ya Allah jadikanlah sebaik-baik dari umurku adal
ah akhirnya, sebaik-baik pekerjaan/amalku adalah penutupannya, dan sebaik-baik hari-hariku adalah hari aku menghadap Engkau.

Lalung Permai : 22:34
Teriring doa untuk Renita Tri Hesti & Danang Susilo dan Ratna Desita Listyarini & Imdad Durakhman, semoga pernikahan kalian barakah dan menjadi keluarga SAMARA..amin

**********************************
Ini PR dari BlogtoRik :
1. Dari Mana Blog Kalian Berasal??
Abiyasa dari Blog berasal dari www.blogger.com sebenarnya mau pindah ke diankresna tapi gak jadi..cos dah terlanjur terkenal di blog ini. hehehe
2. Kapan dilahirkannya blog kalian??

Blognya Abiyasa dilahirkan bulan Februari 2008 untuk tanggalnya lupa. Saat sedang sedih..
3. Kesulitan apa saja yang ada saat membuat blog kalian??
Membuat template sendiri dengan mengotak-atik edit HTML :)
4. Mengapa membahas topik yang kalian bahas sekarang??
Topiknya campur aduk lihat saja di tagnya :) dan kami memang mod-modtan :)
5. Kenapa tampilan blog kalian menggunakan template itu??
Sederhana saja dan menemukan di btemplete..kurang tahu juga ntar mungkin ganti lagi..hehe..

6. Apa yang pertama kalian lakukan saat blog kalian baru jadi??
Karenanya culunnya Abiyasa tanya temen caranya masang shoutmix dan bertanya-tanya mengapa ada tang dan obeng di blog
Abiyasa..hehehe..

maaf ya PR tidak saya lemparkan ke 10 orang :) maklum dah akhir tahun...:)

Monday, December 22, 2008

Hari Ibu (Monolog Buat Bunda)

(1)

kutemukan bening kristal berjatuhan
saat senyummu menjawab semua tanya
agar damai terjaga di singgasana rasa

Boleh, kan, Adik mengembarakan Cinta?
Boleh, ya, Bunda?

Ikhlasmu antar aku pada harapan
tentang indah keabadian
usai persinggahan yang hanya sebentar

Jangan...jangan terbuai pesona
dunia hanya fatamorgana!

bukan sekedar penawar gundah,
ketegaranmu...
melepasku berjuang
agar jadi sosok shalihah
meski sungguh itu tak mudah

Selalu ridha, ya, Bunda?!

agar ringan langkah putrimu
memakna cita ini dengan gagah


(2)

tak terasa
masa remaja terlampaui
sudah waktunya
meraih asa

biarkan sejenak kuambil istirah
sejenak saja
sampai hilang letih

Boleh, ya, Bunda?

sebaik-baik perhiasan dunia
masih tetap kaudamba

Bilakah segera menjadi nyata, Dik?

retoris satu tanya di teduh wajahmu
menjelma sebuah pinta

Bersegeralah, Cinta!
Tak perlu Bunda menunggu lebih lama

dalam jeda istirah
kubuka sejarah
perjuangan butuh kesungguhan
butuh pengorbanan

lalu dengan mahar apa kumenebusnya, Bunda?

bilakah mampu kuinternalisasikan
semua keindahan
dalam agung kepribadian

seteguh Maryam
setegar Hajar
sebijak Khadija
secerdas ‘Aisya

Bidadari mana membuatmu terpesona, Bunda?

(3)

khusyu’ munajatmu
membias tenang di sepertiga malam
tepis segala resahku
dengan doa

selalu ada cinta
nyalakan bara shalihahku
‘ tuk berbakti, bahagiakan Bunda

kau kah sebaik-baik perhiasan dunia?


Jalur Gaza, Ar-Royyan Putri, 22 Desember 2006
Tuk Ummi Abiyasa dan Ummi Fathimatulazizah


Sunday, December 14, 2008

TIPS MEMBUAT WEDANG TEH (TEA) DAN KOPI (COFFEE)


Saya ingin memberitahu sahabat (yg belum tahu) bahwa kandungan kafein dalam teh lebih besar daripada kopi. Kalau tidak percaya searching saja di mbah google. Dan jangan terlalu sering minum teh atau kopi karena kafein itu sifatnya membuat orang kecanduan dan kurang baik untuk kesehatan jika berlebihan.

Saya ingin mengajak sahabat untuk berbicara suatu yang efiesin dan efektif dalam membuat teh dan kopi. Efisien dalam artian sahabat dengan sedikit bubuk kopi atau teh menjadi minuman yang nikmat. Efektif dalam artian sahabat dapat mengambil sari pati teh dan kopi secara maksimal atau tidak mubadzir.

Mungkin sahabat sudah tahu tips ini, jika sudah tahu tips ini, sahabat bisa belajar kimia-nya (alasannya). Ayo sahabat belajar kimia lagi yuk..Yuuuuk..
Tipsnya sebagai berikut:

1. Siapkan cangkir atau gelas yang berwarna putih atau porselin di dalamnya karena putih memantulkan panas, sebaliknya warna gelap akan menyerap panas. Sehingga nantinya air panas akan efektif dan efisien dalam melarutkan bubuk kopi atau teh.
2. Siapkan air yang mendidih, bubuk kopi/teh dan gula.
3. Ambil bubuk kopinya secukupnya ke dalam cangkir porselin.
4. Tuangkan air panas ke dalam cangkir porselin yang sudah ada bubuk kopi atau tehnya. (ingat tahap penambahan gula belum).
5. Aduklah sebentar dan tutup gelas. Biarkan beberapa saat, beri kesempatan air panas itu untuk melarutkan si bubuk kopi atau tehnya.
6. Jika sudah (sesuai selera) tambahkan gula secukupnya atau sesuai selera.
7. Jadi dech…Siap menikmati..

Inti dari tips ini adalah penambahan gula “diakhirkan” bukan ditambahkan secara bersamaan dengan bubuk kopi. Bagian ini yang paling penting dalam pembahasan ini yaitu mengapa penambahan gula “diakhirkan”..Saatnya belajar KIMIA :) . Begini alasannya, ini merupakan sifat koligatif larutan. Jika larutan atau air ditambahkan suatu zat maka titik didihnya akan mengalami penurunan titik didih. Donk gak ya? :) . Contohnya gini, misal air mendidih suhunya 100 derajat celcius, jika ditambahkan gula (atau zat lain) maka suhu titik didihnya kurang dari 100 derajat celcius. Kalau gak percaya coba aja di dapur :). Kasus ini biasanya diterapkan dalam membuat kopi atau teh tersebut. Jika gula dicampurkan dalam kopi/teh secara bersamaan maka panas dari air itu akan menurun alhasil sari kopi/teh-nya gak begitu maksimal.

Sifat koligatif lainnya, salah satunya adalah penurunan titik beku (kebalikan dari yang di atas). Kasus ini diterapkan sama pak penjual es keliling. Supaya es tetap dingin dan tidak mencair maka termosnya atau wadahnya diberi es batu ditambah garam, mengapa gak gula? cos gula lebih mahal dari pada garam..hehehe. Bagian ini hanya untuk menambah pengetahuan saja.. :D
Moga bermanfaat..Amin..amin..amin.. (Aby)

Sunday, November 23, 2008

HIDUP ITU … (Part 2)


“Hidup itu sawang-sinawang. Kita sering melihat kelebihan orang lain. Rumput tetangga pasti terlihat lebih ijo royo-royo. Karenanya, lebih baik kita melihat diri kita sendiri.”

Kali ini saya menyadur bahasa yang digunakan oleh seorang dosen muda yang kini kuliah di Austalia. Saya takjub, dengan kesederhanaannya dalam keseharian. Terlebih ketika mencoba memahami bagaimana beliau memandang kehidupan. Meski tidak dekat, saya banyak mendengar kisah beliau dari teman-teman kuliah. Sikapnya yang tidak neko-neko, apa adanya, ringan tangan, dan terbuka pada setiap orang menjadikan figur beliau begitu dihormati. Beliau punya kharisma yang memikat. Kharisma itu melekat dan semakin mempesona karena kesederhanaannya.

Malam ini, saya teringat kembali kata-kata yang pernah diucapkannya,
“Hidup itu sawang-sinawang. Kita sering melihat kelebihan orang lain. Rumput tetangga pasti terlihat lebih ijo royo-royo. Karenanya, lebih baik kita melihat diri kita sendiri.”

Kalau mau jujur terhadap diri sendiri, kita akan mengakui bahwa terkadang kita sering melihat kelebihan orang lain dan membandingkan dengan diri kita. Hal itu tentu sah-sah saja kita lakukan. Tidak ada yang salah. Ya! Tidak ada yang salah, asalkan kita melakukannya untuk memotivasi diri kita agar menjadi lebih baik. Bukan justru menjadikan kita minder dengan kelemahan kita.

Sungguh, sebagian besar dari kita seringkali tidak adil terhadap diri sendiri. Seringkali kita terkungkung dengan kelemahan yang kita miliki. Bahkan, ada yang terpuruk karena sebuah kegagalan yang dialami. Padahal, bukankah tidak ada yang salah dengan kegagalan selama kita bisa mengambil hikmah dan belajar agar tidak terulang kembali? Berapa banyak kesuksesan yang berawal dari kegagalan demi kegagalan?

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (Ar-Ra’ad : 11)

Sungguh (sangat) tidak arif ketika kita hanya melihat kesuksesan orang lain tanpa mau melihat prosesnya. Bukankah secara sunatullah, tidak akan ada hasil yang optimal tanpa diiringi usaha yang sungguh-sungguh? Tidak ada yang sia-sia dari kesungguhan yang kita bangun, meskipun hasil yang akan kita dapat tidak selalu seperti yang kita harapkan. Jika ikhtiar kita beriringan dengan tawakkal, maka kita tidak akan kecewa terhadap apapun hasil yang kita peroleh. Yang terpenting adalah berusaha, dan Allah-lah yang berhak memutuskan.

Ada kata-kata menarik yang dihadiahkan seorang adik via SMS,
“Ketika satu pintu tertutup, pintu kebahagiaan yang lain akan terbuka. Tetapi, seringnya kita hanya terpaku pada pintu tertutup, sehingga kita tidak melihat pintu lain yang dibukakan untuk kita.”

Jika kita (juga) sepakat bahwa hidup itu sawang-sinawang, ada baiknya terlebih dulu kita berkaca pada diri. Lihatlah, kita pun punya kelebihan di samping kelemahan. Oleh karena itu, jangan silau dengan kelebihan orang lain jika itu hanya membuat kita nelangsa. Namun, jadikanlah setiap kelebihan orang lain yang kita lihat dengan kacamata positif. Setidaknya, kita akan terpacu untuk berusaha memilikinya. Dan, bila ternyata tidak bisa, kita masih punya kelebihan yang tidak kalah memukau. Kelebihan yang menjadikan kita mulia sebagai hamba. Bukan kelebihan yang menerbitkan kesombongan, meskipun hanya dalam riak-riak hati kita.

Akhirnya, selamat menikmati hijaunya rumput tetangga…!

Lalung Permai, 22 November 2008 : 21:42
Dalam rangka memotivasi diri, harapan ’itu’ masih ada
: berfastabiqul khairat, yuk Bi!..ya Abiyasa.. Jangan lupa saling mengingatkan :)


Friday, November 21, 2008

HIDUP ITU…(Part 1)


Hidup itu adalah pilihan. Pilihan untuk memilih dan tidak memilih, serta kesiapan kita untuk istiqomah terhadap keputusan yang telah kita pilih.
Begitulah kurang lebih kata-kata dari seorang ustadz yang saya dengar melalui seorang sahabat. Sahabat saya memutuskan untuk memberikan sebuah jawaban setelah hampir satu bulan menerima sebuah tawaran. Ragu, ia pun menimbang kembali dua opsi yang harus dipilih. Sampai akhirnya, ia pun berterus terang bahwa ia belum mantap memasuki gerbang pernikahan.

Saya pun tercenung…

Apa yang kurang darinya? Usia sudah cukup matang, sudah lulus kuliah (tidak seperti saya, semoga segera menyusul: amin), secara finansial ia pun sudah cukup mandiri. (Dalam hati) saya menyayangkan, keputusannya. Saya tahu, calon yang akan dikenalkan padanya adalah seorang laki-laki yang shalih. Dan saya juga tahu, ketika masih duduk di bangku kuliah, ia sudah punya keinginan untuk segera menggenapkan separuh diennya. Bahkan, keinginan waktu itu begitu menggebu.

Ingin memantapkan karier dulu.
Ia pun berdalih. Rupanya seiring dengan berjalannya waktu, keinginan yang pernah meluap-luap itu redam dengan sendirinya.

Retoris ia pun bertanya kepada saya via SMS, “Kau pernah mengatakan bahwa menikah itu ibadah dan tidak ada itsar dalam ibadah. Tapi, salahkah aku, jika masih menikmati kesendirianku?. Salahkah aku ketika ingin melihat kakak perempuanku menikah terlebih dulu, adikku kuliah, dan seorang sahabatku wisuda?
Saya sengaja tidak membalas SMSnya. Bukankah pertanyaan itu lebih ditujukan untuk dirinya sendiri? Bukankah ia lebih tahu jawabannya daripada saya?

Beberapa hari kemudian, ketika saya bertemu dengannya, saya mengatakan pendapat saya. Saya katakan bahwa apapun keputusan yang telah dia ambil, semoga adalah yang terbaik. Bagaimanapun, mengambil keputusan dalam menggenapkan setengah dien tidak boleh diawali dengan sebuah keraguan. Saya menghormati, apapun keputusannya. Saya berdoa, semoga Allah memberikan yang terbaik kepadanya dan memberikan keberkahan dalam hari-harinya.

Hidup itu adalah pilihan. Pilihan untuk memilih dan tidak memilih, serta kesiapan kita untuk istiqomah terhadap keputusan yang telah kita pilih.
Saya pun merenung. Secara tidak langsung, saya seperti diingatkan untuk menjadi pribadi yang bertanggungjawab. Ya! Bertanggung jawab dengan segala pilihan yang telah saya ambil. Bertanggungjawab menghadapi segala konsekuensinya. Apapun itu…

Lalung Permai, 21 November 2008:14.49
: warna apa yang telah, sedang, dan akan kau pilih?